Ada yang Dekat Mengapa Mencari yang Jauh? Part 1

Kita tidak akan pernah merasa dekat jika kita tidak merasakan kehadiran-Nya.

“Bagaimana kalau kita menulis tentang keuangan.”

“Kenapa harus keuangan?” Setiap ide yang dikeluarkan harus ada alasan kenapa itu menjadi penting.

“Karena di Indonesia banyak sekali keluarga yang hancur karena masalah ekonomi, tidak sedikit kekerasan dalam rumah tangga yang terjadi kerena kemiskinan.” Jawabnya seolah urusan kehidupan akan selesai dengan uang. Aku masih diam memperhatikan yang lain bersumbang ide mengenai tema tulisan.

“Ada yang lain?” Jawab pimpinan redaksi kami. Semacam dia kurang puas dengan ide yang baru saja dilontarkan oleh salah satu di antara kami.

“Ini launching pertama kita, keuangan itu hanyalah sub bagian dari kehidupan berkeluarga.” Jawab sahabtku yang terkenal galak dan cerewet.

“Terus apa dong harusnya?” Tanya temanku yang mengajukan tema keuangan.

“Kehidupan sebagai family aja. Kita ambil yang skalanya lebih luas.” Semua terdiam dalam kebingungan. Karena ketika bicara bahasan family yang lebih luas itu, pada akhirnya akan otomatis turun juga pada sub sebuah kehidupan berkeluarga (couple, parents, children). Ini akan sama saja dengan media lain, tidak akan ada yang berbeda seperti yang selalu diminta oleh atasan kami.

Tiba-tiba dia berjalan dan berdiri di hadapan kami. “Gimana udah tahu apa yang mau dilakuin bulan ini?” Dia selalu muncul tanpa permisi.

“Kita mau bicara soal keluarga, mas. Dari keluarga ini akan kami turunkan ke sub-sub lainnya kaya keuangan, pendidikan, ibadah, dll.”

“Buat apa bikin yang kaya gitu?”

Kami semua terdiam, benak kami berkata ‘salah lagi kan’.

“Masalah parenting saat ini bukan di situ.” Ucapnya di hadapan kami yang sedang duduk melingkar di hadapan white board. Kami baru sadar bahwa kami lupa tentang pesan yang sering ia sampaikan.

“Kan udah sering banget gue bilang kalo masalah yang terjadi pada umat saat ini adalah di tauhidnya. The Truth Parenting adalah keluarga yang akan selalu kembali kepada Alquran dalam segala macam masalah kehidupannya.” Dia diam dan menatap wajah kami satu persatu.

“Gue tanya sekarang, masalah perceraian ada nggak di Alquran?”

“Ada mas.”

“Masalah homo ada nggak?“

“Ada mas.”

“Anak durhaka sama bapaknya, ada nggak?”

“Ada mas.”

“Istri durhaka sama suaminya, ada ngak di Alquran?”

“Ada mas.”

“Orang kaya yang serakah ada nggak di Quran?”

“Ada mas.”

“Sampe ke model manusia yang gayanya seperti tuhan ada nggak di Quran?”

“Ada mas.”

“Siapa?”

“Firaun.”

“Zaman sekarang ada manusia macam firaun nggak?”

Kami diam karena ragu untuk menjawab.
“Ada nggak orang yang ketika achive dalam suatu hal, dia menganggap bahwa itu adalah hasil kerja kerasnya sendiri? Prestasi yang dia miliki adalah karena kecerdasannya sendiri? Dia lupa kalau ada Allah yang Maha mengatur segalanya. Ada nggak orang kaya gitu?”

“Banyak mas.”

“Iya, banyak. Salah nggak kalo gue sebut yang kaya gitu adalah firaun-firaun kecil? Mereka lupa sama Allah dan merasa diri seperti Tuhan yang bisa segalanya sendiri tanpa bantuan si(Apa) pun.”

Kami geleng-geleng malu, mengaca diri. Barang kali di hati ini ada perasaan semacam itu.

“Semua pelajaran dalam kehidupan termasuk parenting, ada di Alquran semua kan?”

“Ada mas.”

“Masalah hari ini dengan zaman berpuluh-puluh tahun lalu yang diceritakan dalam Alquran, semuanya sama. Dan kesipulannya juga akan jadi sama, dan ini yang jarang orang capture. Lalu kenapa manusia sekarang nggak ngambil pelajaran dari Quran? Padahal semua model ada di sana. Lo tau kenapa?”

“Kenapa mas?”

“Problemnya hari ini, orang sudah meninggalkan Alquran, dan percaya sama saintis modern. Karena mereka lebih suka sama kearifan barat dibandingkan dengan kearifal Alquran. Mereka hanya sibuk merujuk pada teori-teori saintis yang dibikin sama manusia dan lupa pada sebuah sistem kehidupan yang ada dalam Alquran. Pun udah baca Quran one day one juz tapi mereka faham nggak? Ngerti nggak esensinya apa? Kalo nggak ngerti, bisa ngamalin nggak? Diimplementasikan ke kehidupan nggak?”

“Enggak mas.”

“Nah itu, tauhidnya masih di persimpangan. Mereka hanya ‘merasa dirinya dekat dengan Allah’ mereka menikmati ibadah-ibadah yang mereka lakukan untuk dirinya sendiri. Mereka lupa untuk ngajak orang lain. Abis baca Quran, udah selesai. Dia nggak ber amar ma’ruf nahi munkar. Mereka nggak menerapkan nilai-nilai qurani pada anak-anak mereka, istri mereka, suami mereka, saudara mereka, teman-teman mereka.”

Kami saling angguk menyepakati apa yang dia katakan.

“Jadi, The truth Parenting itu apa gue tanya?”

“Keluarga yang kembali kepada Alquran, mas.” Jawab kami.

Lalu ia melanjutkan kata-katanya. “Berat kan?” Ia melihat satu persatu orang yang berada di hadapannya sedang mengangguk malu. “Emang berat, tapi begitulah pekerjaan, sesuatu yang penting dan berbeda memang harus dikerjakan dengan upaya yang keras. Bukan dengan upaya yang biasa-biasa aja.”

“Sekarang, lo ambil satu ayat yang dibahas sama Nouman, lalu dibikin tulisan. Lo fahami tafsirnya, lo baca ulang artinya. Lo berkarya deh dengan konten based on ayat Alquran itu.”

Sampai pada akhirnya kami menyepakati untuk membahas satu ayat yang ada dalam Alquran sebagai tema bulan itu. Dan pilihan kami berlabuh pada “sapi betina” yakni Al-Baqarah ayat 186.

Leave a Reply