Ada yang Dekat Mengapa Mencari yang Jauh part 2

“Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang Aku, maka (jawablah), bahwasanya Aku adalah dekat. Aku mengabulkan permohonan orang yang berdoa apabila ia memohon kepada-Ku, maka hendaklah mereka itu memenuhi (segala perintah)-Ku dan hendaklah mereka beriman kepada-Ku, agar mereka selalu berada dalam kebenaran.” (QS. Al-Baqarah: 186)

Meski telah mendapatkan tema, kebingungan masih saja merajai kami. Terlebih pada diri sendiri sejak tema itu dicetuskan sampai berhari-hari. Kamu tahu sulitnya menjadi kami yang kurang pemahaman tentang agama tetapi harus menuliskan sebuah konten yang berhubungan dengan Alquran? Punya ilmu apa berani-beraninya menafsirkan sebuah ayat Alquran? Ulama bukan, orang alim pun sangat jauh dari kata itu. Salat saja, masih merasa hanya sekedar rutinitas tanpa jiwa.

Tapi “abang” kami selalu berkata bahwa, Alquran diturunkan untuk umat manusia, bukan hanya untuk ulama atau ahli tafsir saja. Semua orang punya hak untuk mempelajari Alquran. Mentadaburi, memikirkan apa maksud dari yang Allah sampaikan di Alquran.

“Al-Qur’an ini adalah pedoman bagi manusia, petunjuk dan rahmat bagi kaum yang meyakini.” (Q.S. Al- Jaatsiyah: 20)

Kenapa kita harus membatasi diri untuk mempelajari dan memahami Alquran. Sebenarnya ini jadi semacam cara beliau memberi pelajaran kepada kami. Memberikan kami tugas agar kami mau belajar tentang Alquran. Mana pernah kami mencoba memahami ayat-ayatnya jika tidak dengan cara begini. Terasa berat namun pada akhirnya kami menerima tantangannya untuk menuliskan tentang ayat ini.

Meski jam kerja sudah berakhir, kepalaku tidak pernah berhenti berpikir. Apa yang perlu aku tuliskan dengan satu ayat ini. Sesampainya di asrama, aku buka mushafku, kubaca berulang terjemahannya, tetap saja aku tidak menemukan apa yang harus kutuliskan. Kutonton kembali video seorang ahli tafsir yang membahas ayat ini.

Iya mengatakan bahwa ayat ini sangat indah, dalam video yang kutonton itu ia berkata bahwa. “Allah itu dekat sekali dengan kita. Allah mengabulkan doa orang yang berdoa, tidak peduli seberapa alim, seberapa beriman orang tersebut, seberapa sering ia salat, seberapa rutin ia mengaji, seberapa berdosa orang tersebut, seberapa panjang jangutnya, seberapa lebar jilbabnya. Allah akan mengabulkan doa mereka ketika mereka mau berdoa.” Dia juga bilang. “Anda tidak perlu menjadi orang spesial ketika berdoa kepada Allah. Allah ‘undang’ siapa saja yang ingin berdoa kepada Allah tanpa terkecuali.”

Kalimat pertama dalam ayat tersebut bunyinya seperti ini. “Apabila hamba-Ku bertanya kepadamu tentang Aku, maka jawablah bahwasanya Aku adalah dekat.” Baiklah ini sangat jelas, lalu bagaimana aku menyampaikan pesan ini pada pembaca. Aku masih merasa tidak punya kapasitas untuk ini. Benakku hanya bisa mengeluh, “Ya, Allah mungkinkah karena aku pun tak merasa dekat dengan-Mu sehingga aku hilang ide untuk menuliskan ini? Kedekatan seperti apa yang dapat aku gambarkan dalam tulisan ini?”

Dini hari aku bergegas mengambil wudhu dan melakukan ‘rutinitas tanpa jiwa’ lagi. Mengucap salam, berdoa sebentar, lalu bergegas membuka laptop untuk membuka pekerjaanku sekali lagi. Membaca ini dan itu, aku resah terus menerus karena tak dapat menuliskannya.

Pukul 08:00 masih di hadapan laptopku, aku terpaku meletakan jemariku diatas huruf-huruf pada keypad laptop tanpa tahu harus menulis apa. Aku tersadar ketika teman satu asramaku datang menghampiri memintaku menyimak hafalannya di Alquran.

“Kak simakin dong.” Pintanya.

“Mana sini.” Meski sedikit jengkel sebenarnya karena dia membuyarkan konsentrasiku.

“3 halaman ini ya kak.” Dia menunjukan 3 halaman surat Al-Baqarah dari ayat 182-192.

“Oke.” Aku segera mengenyahkan kekesalanku, karena tak pantas berpikir begitu. Kusimak dengan seksama suara lambutnya dalam beberapa menit. Sampai tibalah ia membaca ayat 186. “Wa idzaa sa alaka i’badii a’nnii fa innii khoriib …” Perlahan namun pasti, aku merasa begitu lemah, begitu remuk. Ada sesuatu yang menggerayangi tubuhku, aku merasa Dia benar-benar dekat. Aku menahan tangis dengan menghapus air di ujung mataku karena aku masih harus menyimak 2 halaman lagi, tidak enak jika mengganggu kekhusyuan temanku.

Tahukah temanku aku sedang meresahkan ayat itu? Tahukah ia ayat itu yang sedang kubaca ulang berkali-kali tafsirnya? Tahukan temanku ayat itu yang sedang ku tonton ulang video ulasannya? Tidak, dia tidak tahu. Karena aku resah sendiri tanpa cerita pada siapapun di rumah itu. Di asrama itu tidak hanya ada aku, tapi kenapa ia memilihku?

Bukan, bukan temanku yang memilihku, tapi Allah yang langsung menggerakan temanku untuk memilihku. Temanku memang tidak tahu, tapi Allah tahu, Allah yang menggerakan temanku untuk minta didengarkan murajaah hafalannya.

Tidak ada peristiwa yang kebetulan, bukan? Semua hal di dunia ini, termasuk detail kehidupan yang kita alami telah Ada Yang Merencanakan. Saat itu aku berpikir, sepertinya aku masih membangun batas sendiri antara aku dengan Tuhan. Barangkali aku masih belum mencari “di mana Allah?” yang akan Ia jawab tanyaku dengan kalimat bahwa, “Sesungguhnya Aku dekat. Aku kabulkan permohonan orang yang berdoa apabila dia berdoa kepada-Ku. Hendaklah kamu itu memenuhi perintah-Ku, dan beriman kepada-Ku, agar kamu memperoleh kebenaran.”

Aku bergegas mandi dan mengambil wudhu. Aku ingat kembali bahwa selama ini salatku hanyalah ‘rutinitas tanpa jiwa’ Aku berdoa tanpa kepercayaan penuh bahwa Ia akan mengabulkan doaku. Kalimat berikutnya kuingat kembali, “Aku mengabulkan permohonan orang yang berdoa apa bila ia memohon kepadaku.” Apa yang akan aku tuliskan jika aku tidak berusaha mengamalkannya? Aku bersimpuh malu karena merasa sangat sombong. Sepanjang keresahanku akan tugas tersebut, aku terus menghadap ke laptopku, berpikir sendiri tentang apa yang harus aku tuliskan. Aku berusaha melakukan semuanya sendiri seolah tidak ada Ia yang mampu menolongku.

Aku menangis tersedu meminta ampun akan kekhilafanku. Lalu meyakinkan diri dan berkata bahwa aku percaya pada-Nya. “Engkau akan mengabulkan permohonan orang yang berdoa apabila orang itu memohon kepada-Mu. Aku percaya pada-Mu bahwa Engkau dekat dan sedang menyaksikanku bersimpuh merendahkan diri dihadapan-Mu. Aku beriman kepada-Mu, aku berserah kepada-Mu, aku memohon pertolongan dari-Mu.”

Dalam dudukku Allah mengulang kembali memoriku di masa lalu. Seperti sebuah roll film yang memutar ulang cerita bersambung. Teringat jelas dan terputar dengan urut. Aku mengingat kembali bahwa banyak hal yang pernah aku minta kepada-Nya, telah Ia kabulkan. Termasuk permintaanku agar Ia memberiku pekerjaan yang akan mendekatkanku pada-Nya. Yang membuat orang bodoh ini mengenal agamanya sendiri. Dan seperti Ia sedang mengingatkanku kembali bahwa pertolongan-Nya begitu nyata. Sesuatu yang tidak pernah bisa dilihat oleh mata namun bisa dirasakan dan diamati oleh hati kita bukan mata kita. Kita lihat dengan hati bahwa pertolongan-Nya begitu nyata.

Aku membayangkan lagi seolah Ia berkata padaku. “Masihkah engkau meragukan pertolongan-Ku wahai hamba-Ku?” Ternyata mendekati-Mu tak bisa hanya dengan sekedar rutinitas yang kita lakukan tanpa jiwa. Mendekati-Mu tak bisa hanya dengan doa bahasa arab yang sekedar kita hafalkan saja tanpa faham maknanya. Mendekati-Mu adalah dengan benar-benar terfokus hanya kepada-Mu. Adalah Engkau yang harus kurasakan bahwa Engkau sedang melihatku. Allah sangat dekat dengan kita, lalu mengapa kita selalu mencari yang jauh? Sesuatu yang belum tentu bisa menolong kita.

Hari ini aku menyimpulkan hal lain, untuk membuat orang lain paham tentang pesan kebaikan, kita harus merasakan sendiri kebaikan itu. Untuk menyadarkan orang lain bahwa Allah itu dekat, kita harus merasakan kedekatan itu terlebih dahulu. Termasuk untukmu para orang tua yang mendamba anak yang salih, maka diri kita dulu yang berusaha untuk salih agar kita sendiri yang menjadi contoh, bukan malah menunjuk anak orang lain untuk menjadi model, “Tuh anak pak Ahmad ngajinya rajin, hafal 30 juz,” Sedangkan sang papa juga tidak melakukan hal itu.

Dari semua masalah besar yang ada, pada akhirnya yang harus diubah adalah dari hal yang paling dekat, dari hal yang paling sederhana, yaitu kita. Setelah aku mencari ke sana kemari tentang ide apa yang harus aku tuliskan. Pada akhirnya aku menuliskan ceritaku sendiri untukmu.

Wallahualam …

Leave a Reply