Antara Aku, Kamal Saleh, dan Akhir Zaman

Judulnya gak banget yak? Padahal ini cuma mau cerita soal review materi dari salah satu pembicara The Daily Reminder  bernama Kamal Saleh pada bulan Agustus 2016 lalu di Putra Jaya Malaysia. Tulisan ini agak berfedah, ya. Jadi agak serius ni tulisannya, jangan bosen ya. Insyaa Allah notulesi dari isi ceramahnya Kamal Saleh sangat bermanfaat untuk dibaca oleh teman-teman semua. 😀

Kamal Saleh tinggal di Sydney, Australia. Ia seorang mahasiswa jurusan media yang passion-nya adalah menyebarkan pesan tentang islam lewat multimedia. Kamal Saleh dikenal dengan talenta Spoken Word-nya yang telah menyebar ke seluruh dunia. Dan telah menggunakan syairnya untuk menggambarkan islam secara positif. Ia telah menginspirasi dan menyentuh jutaan orang baik muslim maupun non muslim dan terus menggapai lebih banyak audiens dengan cara berkeliling dunia dan menampilkan syairnya di berbagai acara dan konferensi.

 

Hari itu Kamal Saleh menyampaikan prediksi tentang hari akhir yang pernah disampaikan oleh Rasulullah. Saat itu Kamal Saleh berkata, “karena keistimewaan Rasulullah, sehingga segala ucapan yang ia sampaikan itu selalu bermakna. Termasuk prophecy yang pernah Rasulullah sampaikan terkait tanda-tanda hari akhir ini.”

 

Salah satu prophecy yang ia sampaikan pada saat itu ialah. “The truthful will be perceived as a liar, while the liar will perceived as a truthful.” Banyaknya orang-orang jujur yang dianggap pembohong, Sedangkan orang bohong dipandang sebagai orang jujur. Hal ini sering terjadi pada umat muslim saat ini. Karena ulah beberapa oknum tidak bertanggung jawab yang mengaku bahwa dirinya muslim, dia melakukan hal yang mencoreng nama baik umat muslim lainnya. Karena ulah sebagian orang, semua muslim menjadi ditakuti oleh orang-orang yang tidak mengenal Islam itu seperti apa.

 

Kamal Saleh menceritakan sebuah kisah tentang sebuah social experiment di Amerika. Ada seorang laki-laki berpenampilan yang menonjol menggambarkan bahwa dia adalah muslim dan membawa tas ransel berwarna hitam di punggungnya. Pemuda ini bermaksud meminta bantuan orang sekitar untuk memegangi ranselnya sebentar. Namun, respon dari kebanyakan orang adalah, “no i am not gonna hold your bag.” tidak ada yang bersedia untuk memegang ransel tersebut. Mereka mengatakannya dengan rasa takut. Bahkan, seorang nenek tua yang terlihat lembut dan innocent berkata “tell me there’s nothing in the bag. Look me in the eye, tell me there’s nothing in the bag.” tolong beritahu saya tidak ada sesuatu di dalam tas itu. Lihatlah bagaimana rasa takut menyelinap ke dalam hati orang-orang itu karena issue yang tidak jelas kebenarannya.

 

Kemudian Prophecy lainnya yang ia ceritakan lagi adalah. “Knowledge will be lifted, ignorance will descend, and killing will be wide spread.” Begitu banyak pembunuhan di bumi ini. Mereka yang dibunuh tidak tahu kenapa mereka dibunuh, dan yang membunuh tidak tahu kenapa mereka membunuh.

 

Kenapa kita sebagai muslim tidak bisa melindungi wajah nabi terhadap fitnah yang sedang terjadi saat ini? Kita ini, seorang muslim berjumlah banyak, tapi kenapa kita tidak bisa menjaga nama baik nabi kita dari semua prasangka atau tuduhan yang tidak ada buktinya ini.

 

Kamal Saleh bercerita lagi betapa nabi kita ini sangat istimewa dan bijaksana. Dahulu ada seseorang yang bernama Thumamah ibn Uthal, dia diperintahkan untuk membunuh salah satu sahabat nabi yang sangat mulia. Setelah Rasulullah mengetahui bahwa Thumamah adalah pelaku dari pembunuhan tersebut. Apa yang dia lakukan terhadap Thumamah?

 

Yang nabi lakukan terhadap Thumamah adalah ia hanya  memasukan Thumamah ke penjara. Tanpa ingin membunuhnya. Yang nabi lakukan justru memberikan Thumamah makanan, minuman, dan buah-buahan yang cukup. Rasulullah saw.  juga mengajak Thumamah untuk  masuk Islam. Meski demikian, Thumamah menolak, lalu berkata. “Kalau kamu mau membunuhku, bunuh saja karena saya sudah membunuh salah satu orang yang penting bagimu. Kalau kamu mau memaafkan saya, saya akan bersyukur. Kalau kamu mau harta rampasan saya, silakan saya akan memberikannya kepadamu.” Sebanyak tiga kali nabi terus melakukan hal yang sama namun selalu mendapat jawaban yang sama pula dari Thumamah. Yaitu penolakan.

 

Lalu nabi sadar bahwa orang ini memang sudah tidak mau. Saat dia sadar bahwa ini tidak lagi berguna untuk dilakukan, nabi pun melepaskan orang tersebut. Membuatnya bebas tanpa hukuman apapun. Setelah Thumamah berjalan menjauhi rasulullah dan dia sampai ke pinggiran Madinah, dalam perjalanan Thumamahpun beriman.

 

Ada seseorang bertanya pada Thumamah, “kenapa kamu tidak masuk islam saat rasul mengajakmu saja? Kenapa baru sekarang?” Lalu Thumamah menjawab. “Tidak, saya tidak mau menerima islam karena rasa takut saya kepada nabi.” Jawaban itulah yang membuat kita seharusnya merenung. Kita sebagai umat muslim yang jumlahnya begitu banyak. Kenapa tidak ada yang dapat mempertahankan ajaran Allah yang dibawa Rasulullah dengan keteguhan hati kita. Bahwa alasan beriman bukan karena orang lain atau urusan dunia. Tapi beriman adalah keyakinan yang muncul karena kita telah merasakan bahwa islam adalah agama yang lurus di hati kita.

 

Karena tak ingin alasan beriman adalah karena takut, maka akhirnya Thumamahpun menolak beriman di depan Rasulullah. Sebab ia tidak mau dipandang bahwa dia masuk islam karena rasa takut kepada Rasulullah. Dan sikap Rasulullah pada saat itu membuat Thumamah sadar bahwa islam itu rahmatan lil alamin.

 

Muslim banyak, namun sedikit orang yang mampu mempertahankan nama baik ajaran dari Allah yang dibawa oleh Rasulullah. Semoga ini bisa menjadi renungan bagi kita semua bahwa telah banyak tanda-tanda datangnya hari akhir. Tinggal bagaimana kita mau berakhir dengan cara bagaimana. Menjadi orang yang tidak peduli kah? Atau menjadi orang yang membela ajaran ini dengan harta dan jiwa yang keinginan itu datang dari hati kita.

Wallahualam

Leave a Reply