At the End, Pantaskah Aku?

Perjalanan umroh kak numei, bapak, dan bang ferry emang gift banget dari Allah. Karena mereka nggak keluar uang sedikitpun. Kak numei cerita Allah memberangkatkan dia umroh juga pada saat ia lagi ada masalah yang cukup menguras pikirannya.

Bapak juga berangkat umroh saat kayanya lagi banyak pikiran, dan lagi sakit pula kan.
Kalo bang ferry gue nggak tau. Kita kan nggak pernah curhat-curhatan.

Dan qadarullah, panggilan itu sampai ke mereka dengan tiba-tiba. Tiba-tiba dimampukan aja sama Allah meski dalam kaca mata manusia mereka nggak mampu secara finansial bahkan bapak pas konsul ke dokter jantungnya, si dokter bilang, “saya sih nggak recommended bapak umroh dengan kondisi sekarang.” Tapi ya bapak bismillah aja, karena Allah yang akan memampukan bapak ceunah. Kehendak Allah lebih kuat dari pada prediksi dokter.

Meskipun mereka yang umroh, tetapi orang-orang terdekatku ini menyadarkanku terus menerus tentang betapa kuatnya Dia, betapa Maha Kuasanya Dia. Dan kita nggak ada daya upaya apapun tanpa pertolongan-Nya. Pantaskah kita sombong dengan mengatur jalan hidup sendiri tanpa melibatkan Dia?

Padahal semua yang ada di muka bumi ini tidak luput dari pengawasannya. Sesimpel nasib burung yang nabrak moncong pesawat aja itu udah Allah yang atur.

Lanjut ke cerita numei… Jumat kemarin aku dan teman2ku meminta kak numei untuk menceritakan perjalanan istimewanya ke tanah suci. Kemudian satu pernyataan di akhir kalimatnya dia bilang.

“Sampai di sana gue lupa sama doa-doa gue. Bahkan keinginan agar Allah mengampuni dosa gue itu kalah sama keinginan gue untuk deket sama Allah. Yang jadi kekhawatiran gue, at the end apa gue cukup pantas untuk ketemu sama Allah dan Rasulullah nanti?” 


Pernyataannya siang itu mengguyurku secara tidak langsung, seolah Allah sedang berkata kepadaku. • “Nih Wini, sahabat kamu udah berhijrah. Sahabat kamu sudah mendekat kepada-Ku. Mau sampai kapan kamu bodoh? Mau sampai kapan kamu dalam kebingungan? Mau sampai kapan kamu meragukan Aku? Mau sampai kapan kamu menggenggam hidup di tanganmu sendiri? Kapan kamu mau percaya dan benar-benar menyerahkan hidup dan matimu kepada-Ku?

Mau sampai kapan kamu terkungkung dengan dunia yang fana? Bukankah Aku sudah bilang dunia ini hanya senda gurau belaka, dan sesungguhnya kehidupan di akhirat itu lebih baik untukmu. Mau sampai kapan keinginan-keinginanmu mengerdilkan kamu? Sedang Aku sudah mengangkat derajat-Mu di sisi-Ku. Jika kamu mau berpikir.”

Allah sayang banget sama kak Numei. Allah sayang banget sama Bapak. Allah sayang banget sama bang Ferry. Dan dengan cara-Nya, Allah juga sayang banget sama gue. Pasti Allah sayang banget sama kamu iya kamu.

Kurang baik apa coba, Allah selalu menarik kami kembali ketika kami sedang dalam kebodohan. Dan itu nggak cuma sekali tapi berkali-kali.

Sekali menyimpang, diingetin lagi.

Dua kali memyimpang, diingetin lagi.

Tiga kali menyimpang, diingetin lagi.

Terus begitu, entah sampai berapa kali. Kalo manusia mah udah bosen kali sama kebodohan gue.
Tapi gue nggak tau apakah nanti, setelah ini Allah masih mau narik gue kembali atau nggak kalo gue bodoh lagi. Gue nggak tau.

At the end kalo abis diguyur dengan cerita numei dan gue nggak ngikutin proses hijrahnya numei sekarang, apakah gue masih bisa temenan lagi nanti di akhirat?

At the end, kalo gue masih nggak bersyukur atas kebaikan yang Allah kasih saat ini apakah gue akan berjumpa di muara yang sama dengan temen-temen baik gue sekarang apa nggak?

At the end, kalo gue masih keras kepala, sombong, merasa diri lebih baik, mencintai dunia terlalu besar, merasa bisa ngatur jalan hidup sendiri, di akhirat nanti gimana nasib gue?

At the end, kalo gue nggak menggunakan akal gue untuk berpikir, menggunakan hati gue untuk merenung, terus menjadi manusia yang “buta dan tuli”. apakah gue pantas untuk bisa ketemu sama Allah dan Rasulullah?

Ya Allah aku ingin kembali pada-Mu. Aku ingin akhir yang baik.

Leave a Reply