Awas Tulisan Galak

Obrolah sama temen-temen sore kemarin bikin gue gemes pengen nulis status panjang. Ini gara-gara semuanya umur 20-an dan pada jomblo, cuma oknum SYMB aja yang udah nikah. Tiba-tiba lagi ngomongin kerjaan, nyimpang lah ke pembahasan tentang susahnya menyukai seseorang. Dan gimana sakitnya ngebayangin kalo ditolak (baru ngebayangin aja udah sakit. Hahaha). Di sini gue cuma mau bilang, kenapa urusan cinta-cintaan ke sesama manusia harus dibikin susah sih? Bisa kan dibikin mudah. Kalo suka ya bilang. Gue sih lebih baik rugi dari pada penasaran. Atau kalo lo milih diem karena belom siap dalam segala hal misal menghalalkan, yaudah nggak usah galau. Nggak usah galau depan gue deh minimal. Hahaha

Gue nggak mau terprovokasi ikutan galau karena perasaan fitrah yang Allah kasih kepada sesama manusia. Karena gue sadar diri, ketika jauh dari Allah nggak pernah gue segalau itu (Astagfirullah). Masa ia kangen sama makhluknya harus sampe males makan, nggak bisa tidur, sakit-sakitan, batuk-batuk, muntah darah. Nyiksa diri menurut gue, euu lebih tepatnya cinta lo kepada manusia melebihi cinta lo kepada Allah.

Perbincangannya begini. “Gue nggak tau ya kalo suka sama seseorang terus ditolak tuh susah sembuh nya.” Eh gimana ya percakapannya tadi, gue lupa. Pokoknya intinya kalo dia suka sama seseorang dan gagal, itu nggak enak banget di hati. Temen gue ngomong begitu sambil ngelus dada. Udah sering ditolak sama mimpinya kali dia.

“Ketika lo berani mencintai. Lo harus siap ditolak juga, bukan cuma berani diterima doang.” sok bijak gue nimpalin.

“Iya gue tau.” Jawabnya. Dalam hati (Ya terus?)

Kenapa gue bilang begitu, karena gue pikir, lo lagi menyiksa diri ketika hanya membayangkan yang indah-indah aja. Sedang kita, lagi hidup di dunia bukan di surga. Artinya, karena kita masih di bumi, kehidupan itu nggak abadi dia akan berubah-ubah. Lo bisa seneng, lo juga bisa sedih. Lo bisa jatuh cinta, lo bisa juga patah hati. Lo bisa diterima jadi bisa juga ditolak. Kalau sadar akan hal itu lo nggak perlu menyiksa diri dengan perasaan galau. Kalo lo galau sekarang, emang lo lagi merasa hidup di mana sekarang? Di surga? Cukup emang bekal lo untuk sampai ke surga?

“Ya kalo dia nggak suka cari lagi aja.” Jawab gue dengan entengnya. Alhasih gue dientengin balik.

“Nggak semudah itu lah bagi gue. Buat lo yang pada liqo lama-lama mungkin aja sih berpikir sampe ke situ.” Kata oknum MI ngentengin gue (padahal gue nggak enteng-enteng amat, ni lagi berusaha diet). Waduh senangnya gue lagi di judge jadi manusia alim sedunia.

“Dia belum pernah ngerasain sih.” Oknum SYMB menambahkan. Ah lagi-lagi gue di judge jadi perempuan bersih dari bunga-bunga. Mereka ga tau aja gue udah terbiasa mengalami kasih tak sampai. Contohnya aja sama Orlando Blum, sama Her Junot Ali, sama Giring Nidji, dan terakhir sama Tulus. Kurang sedih apa coba, kasih tak sampainya banyak.

Urusan seperti ini kenapa nggak dibikin jadi mudah sih. Kalo lo suka dan siap atas segala konsekuensinya, yaudah bilang. Lo masih nanya konsekuensinya apa aja? Gimana sih jatuh cinta berani tapi nggak tau konsekuensinya apa.

Konsekuensinya adalah ketika diterima lo siap nikah, ketika dia nggak suka sama lo, lo harus siap di tolak. Itu doang kan? Ah gue nggak lagi ngomong soal, “yasudah jalani saja, penjajakan dulu aja.” No, gue nggak setuju. Pokoknya nggak setuju aja. Kalo belum siap dengan kedua itu, yaudah diem jangan galau depan gue. Atau nggak usah jatuh cinta sekalian, bisa nggak? Nggak bisa kan? Makanya jangan galau berkepanjangan, jangan sok sok setia sama orang yang belum tentu jodoh lo.

Cinta itu harus diungkap, kecuali oleh orang yang hanya mencintai dirinya sendiri. Ketika lo nggak berani mengungkapkan dan nggak bersungguh-sungguh mengupayakan dari segi ilmu, kematangan, dan keuangan. Gue nggak tau deh itu disebut cinta apa nggak. Kalo jatuh cinta, tapi yang timbul cuma galau tanpa disertai upaya, sumpah gue nggak tau itu disebut apa jangan nanya ke gue gue juga gak tau.

Gue jadi inget tulisan bang oknum MM di ebook garapan gue dkk yang temanya cinta. Dia bilang di tulisan itu. Cinta itu harus bisa disentuh. Kalo nggak bisa disentuh berarti itu bukan cinta, tapi hanya bunga-bunga. Kurang lebih begitu. Iya juga, gue pikir, kalo mau bicara soal setia. Ya setianya sama pasangan lo di dunia dan di akhirat aja (jodoh yang datang dari Allah), kepada seseorang yang saat ini kita nggak tau dia siapa. Seseorang yang lagi lo bayangkan, lo sebut-sebut dalam doa, iya-iya yang lo upayakan sekarang, atau yang barusan nolak elo, belum tentu jodoh lo juga kan? Belum tentu juga bukan. Jadi kenapa sekarang harus nangis, nggak bisa makan, sakit-sakitan, lalu muntah darah? Karena belum tahu jodoh dunia dan akhirat lo siapa, jadi si dia jangan ditangisi dulu. Kasian jodoh lo entar.

Gue cuma mau bilang, gue sedih aja, karena yang sering terlupakan oleh para muda-mudi usai 20-an itu adalah. Mereka terlalu fokus pada manusianya, duduk khusyu minta si dia dalam tahajudnya terang-terangan. Tapi lupa meminta agar Allah jangan meninggalkannya. Butuh terhadap manusia jauh lebih besar dari pada ungkapan butuh kepada Allah. Lo nggak khawatir Allah cemburu?

Masalah lo apa? Lo bisa galau sampe nggak mau kerja karena dicampakan oleh manusia. Ngomong-ngomong kalo Allah yang mencampakan, pernah galau sampai lupa makan kaya ketika lo dicampakan oleh cewek atau cowok nggak? Gue bukannya sotoy, cuma berusaha untuk tau diri aja. Selama ini, gue yang lemah ini, belum bisa paripurna dalam mencintai Allah. Makanya untuk mencintai manusia gue pengen berusaha untuk sekedarnya saja.

Kalo lo patah hati hari ini karena ditolak proposalnya atau apalah sejenisnya. Lo tinggal move on aja sih apa susahnya. Jelas-jelas dia nggak mau sama lo gitu. Tapi jangan salah move on, move on-nya jangan sama manusia, tapi sama Allah. Manusia mah banyak kaya buih di lautan, tapi Allah cuma satu.  Kalo Allah nggak peduli sama lo, siapa lagi yang kepeduliannya sebesar kepedulian Allah terhadap umat-Nya. Segera tobat siapa tau lo ditoloak karena nggak menyertakan Allah dalam ikhtiarnya. Atau karena lo galau berkepanjangan, lo lagi lupa bahwa Allah lebih tau yang terbaik buat lo dibandingkan keinginan lo sendiri, maaf ego lo sendiri maksud gue.

Gue nggak ngelarang lo untuk galau karena manusia, boleh lah galau sana, terserah urusan lo mau galau di mana. Yang penting jangan depan gue. Gue nggak mau ikut-ikutan. Hahha maaf ya lagi galak.. 🙂

Leave a Reply