Bapak

“… mencintai itu, kadang mengumpulkan segala tabiat menyebalkan dari seseorang yang engkau cintai, memakinya, merasa tak sanggup lagi menjadi yang terbaik untuk dirinya, dan berpikir tak ada lagi jalan kembali, tetapi tetap saja engkau tak sanggup benar-benar meninggalkannya.”

~Kashva~

Pembawaannya yang kaku, membuat anaknya tak bisa bersikap sedekat kepada ibu. Meminta uang jajan hanya berani kepada ibu. Meminta uang bayaran sekolah pun tetap terus kepada ibu. Berharap ibu menyampaikan “pesan-penuh-cinta” itu kepada Bapak. Saat masih TPA kesanku terhadapnya selalu horror. Sebab bapak mengajariku mengaji sampai aku menangis. Aku tak tahan di marahi, tapi aku tak benar-benar berani beranjak pergi dari tempatku duduk dihadapannya yang sedang menatap kesal sambil menujuk huruf hijaiyah.

“Ini apa?”

“Ba.” Berlinang air mata aku menatap ke wajahnya.

“Liat iqra-nya. Ini apa?” Aku menatap ke bawah namun tetap saja aku lupa itu huruf apa.

Meski menangis sampai sesak. Tetap saja aku tak pernah berani pergi meninggalkannya yang sedang memasang wajah marah. Mungkin dia kesal pada kebebalanku, mungkin dia lelah dan bergumam mengapa anak ini tak juga paham, mungkin dia menyerah dengan diriku yang tak pernah bisa fokus. Dan kesan pertama ini yang selalu kubawa bertahun-tahun, memberi jarak padanya karena takut dimarahi jika aku mendekat.

Saat beranjak dewasa salah paham seringkali terjadi. Kesal padanya sudah tak terhitung lagi dengan jari, apa lagi ketika nada bicaranya mulai meninggi. Aku selalu merasa aku benar, beliau pun begitu. Kami sama-sama merasa benar, hingga tak ada satupun dari kami yang mau mengalah. Dibandingkan anak yang lain, sepertinya akulah anak yang paling sering melawan karena selalu merasa benar. Tidak mau diatur karena merasa aku sudah besar.

Waktu terus berlalu, dan aku yang merasa diri sudah bersar pun tersadar bahwa pada saat itulah aku belumlah se”besar” yang kupikirkan. Ternyata aku masihlah anak-anak. Bapak pun semakin tua dan semakin lelah marah-marah. Kami sama-sama lelah dengan egoisme masing-masing. Kami mulai melunak dan belajar berkomunikasi dengan baik.  Baru setelah sama-sama belajar, bapak mengatakan bahwa “anak-yang-satu-ini,” yang paling sering menentang dan enggan menurut ini adalah anak yang menuruni sifat dirinya. Jadi, mungkin ketika aku melawan, dia merasa sedang berhadapan dengan dirinya sendiri, dari sisi emosi terlebih. Dia pun mengatakan aku kreatif seperti dirinya. “Really?” dalam hatiku. Tapi itulah penilaian dirinya tentangku yang mampu dia ungkapkan setelah 22 tahun hidup bersama. Jika mengingat pertengkaran itu aku hanya bisa tertawa kemudian menangis tapi sungguh aku tak mau disebut gila.

Bapakku ini tidak begitu romantis, namun aku tahu, cintanya tak kalah dengan kecintaan mamah terhadap anak-anaknya. Dia mencintai kami dengan caranya. Aku tahu dia memiliki hati yang mudah tersentuh. Kadang gurat wajahnya tak sesuai dengan hatinya. Dia memang terlihat galak, tapi beliau mudah sekali terharu. Terlebih ketika anaknya minta maaf, mungkin di situ dia merasa sangat mencintai kami sekeluarga, namun dia tak pernah mampu mengatakan “aku mencintamu, nak.” Sehingga sebelum mengungkapkannya dengan kata-kata, justru malah deras air mata yang mendahului ungkapan hatinya. Ah bapakku lucu sekali.

Butuh waktu 22 tahun untuk menyadari semua ini, sungguh sudah sangat lama aku salah sangka terhadap bapakku sendiri. Aku selalu takut padanya, aku selalu menganggapnya galak, dan selalu merasa sungkan padanya. Padahal dia bapakku sendiri, kenapa aku sungkan? Tapi itu dulu. Setelah 22 tahun berlalu, aku mulai memahaminya. Aku mulai menemukan sisi romantis dari bapakku tercinta.

Sayang sekali aku tidak pernah ingat pada memori ketika aku pertama kali lahir, saat ia pasti  tersenyum tulus kearahku dan ibuku, menggendong tubuh mungilku, dan mengumandangkan adzan di telingaku. Andai aku ingat pada memori itu, aku pasti tidak akan menjadi anak yang nakal dan menjengkelkan. Yang justru kuingat adalah ketika bapak memarahiku karena aku tak pernah benar membaca iqra. Aku selalu takut ia marah, hingga bertahun-tahun aku tak pernah bisa bermanja padanya seperti anak-anak yang lain. Ya, mungkin karena kami terlalu kaku untuk saling mengungkapakn rasa. Terlalu malu untuk menunjukan cinta meski dengan perhatian-perhatian kecil.

Butuh waktu 22 tahun aku menyadari sisi romantis bapakku. Kini aku hanya dapat bergumam. “Oh, Ternyata begitu caranya mencintaiku,” dia tidak pernah mengatakan sayangnya secara langsung. Dia menyayangiku dengan cara yang tidak pernah aku tahu. Ketika pulang kerja aku selalu memintanya menjemputku di depan gang. Karena menuju kompleks rumahku tidak ada akses kendaraan umum.

Sore itu, aku pulang lebih cepat dari biasanya, gerimis turun dengan ritmis. Aku berjalan dari stasiun kereta menuju gang biasa aku menunggu dijemput. Kupikir, aku yang akan lebih dulu sampai. Tapi ternyata Bapakku sudah menunggu dengan jaket tebal tanpa jas hujan. Dia menungguku di bawah gerimis yang semakin lama semakin deras. Dalam hati aku menangis. “Kumohon jangan lakukan itu bapak, kenapa kau tidak berteduh saja. Kenapa kau yang harus menunggu? kenapa tidak biarkan saja aku yang masih memiliki fisik kuat ini yang menunggumu. Tak apa basah sedikit, aku tak akan sakit. Sedang kau, aku tahu hari ini kau sudah bekerja keras seharian. Sejak kemarin juga kau mengeluhkan kepalamu yang sakit.” Inilah kasih sayangnya yang tak pernah kusadari sejak dulu. Semoga Allah selalu menjaganya, dan memberi keberkahan atas setiap lelah perjuangannya menjaga dan menghidupi kami. (^/\^) Amiin.

Butuh waktu 22 tahun aku menyadari kehawatinnya terhadapku. Ketika kecelakaan menimpaku. Bapak berusaha tenang menggendongku dipunggungnya, Ia berusaha membuatku tetap tersenyum dengan mengatakan. “Berat juga ya anak bapak.” Berbulan-bulan aku tertidur di rumah tanpa aktifitas, dia yang selalu mengantarku berobat tanpa mengeluh lelah, dan terus mengajakku mengambil hikmah dari apa yang terjadi. Dia marah ketika aku yang masih berjalan lemah meminta izin keluar untuk bertemu dengan teman-temanku. Dia bilang, “tunggu sampe bisa jalan normal lagi!”

Aku tahu, aku bukanlah wanita dengan segudang prestasi. Kupikir bapakku tak pernah merasa bangga telah melahirkanku sebagai anaknya. Namun, kau tahu? Dia tak pernah menuntutku untuk meraih banyak prestasi. Dia mungkin tahu aku anak yang pemalas. Saat lebaran entah di tahun berapa, dia mengatakan bahwa bapak tidak memintaku jadi anak yang memiliki banyak prestasi. Bukan kebanggan yang bapakku cari, bapakku hanya mengiinginku mejadi anak yang salihah. “Teteh tau, karena doa dari anak yang salih dan salihah yang akan menyelamatkan bapak dan mamah di akhirat nanti.” Kata-kata itu yang selalu kuingat. Meskipun aku masih belum sesolihah yang dia mau. Tapi aku ingin berusaha menjadi sebaik yang kumampu.

Anak yang selama ini menentangnya, yang sejak dulu selalu mengumpulkan tabiat buruk tentang dirinya. Kini duduk memikirkan masa depannya seraya bertanya pada diri sendiri. “Sanggupkah aku meninggalkan pria bersahaja ini untuk pria lain yang akan melengkapi separuh agamanya. Pria lain yang akan meneruskan tongkat estafet penjagaan dari ayah agar putrinya menjadi manusia yang bahagia di dunia dan akhiratnya?”

Leave a Reply