Berdamai

Memaafkan orang lain terkadang jauh lebih mudah jika dibandingkan dengan harus memaafkan diri sendiri. Mungkin itulah kenapa Allah menyuruh kita untuk menjauhi perbuatan keji dan munkar. Yaaa, mungkin salah satunnya karena suatu saat kamu akan berjumpa pada masa di mana kamu akan sulit memaafkan diri sendiri.

Ketika tiba pada masa dimana kita diberikan kesempatan untuk kembali, akan terasa lah sulitnya mengajak si hati kecil ini untuk berdamai. Mungkin akan seperti ini ceritanya:

“Ayo laaah hati kecil, kita berdamai saja.”

“Tidak!”

“Kenapa?”

“Kamu pikir mudah membersihkan noda ini? Noda yang kamu coreng pada diriku karena selalu berbuat sesuatu tanpa menyertakan otakmu. Saat berbuat dosa, apa pernah kamu bertanya apa mauku?”

“Ayo laaah, jangan hukum aku seperti ini. Aku ingin kembali, maka mudahkanlah.”

“Kamu cari jalanmu sendiri! Dan jangan ajak aku bicara lagi. Aku malu, aku sudah kotor karena ulahmu.”

“Tapi sejak aku lahir kita sudah bersama, kita telah menjadi satu dan tidak mungkin bisa jalan sendiri-sendiri.”

“Nah, kamu tahu itu. Lalu kenapa saat berbuat dosa kamu hanya menyertakan hawa nafsumu, kamu tak pernah melibatkan aku dan akal pikiranmu?”

Aku diam, dan hati kecil meninggalkanku sendiri. Karena si hati tak juga mau berdamai, kemudian aku bicara pada si akal pikiran.

“Kal. Ajak bicara hati untuk mau berdamai denganku. Aku tahu aku salah pada kalian semua, tapi aku tak tahan terus menyalahkan diriku di masa lalu. Aku tak bisa hidup dalam keadaan sangat marah tapi yang kumarahi adalah diriku sendiri.”

“Dia memang perasa,makanya jangan main-main dengannya. Semua yang ada pada dirinya dilandasi oleh rasa, saat dia telah kotor dia akan bersembunyi dan merasa takpantas lagi hidup di dunia ini.”

“Lalu apa yang harus kulakukan? Dan apa yang akan terjadi padaku jika ia tak juga mau diajak berdamai?”

“Kamu hanya akan terus menyalahkan dirimu sendiri.Yang kamu lakukan hanya berdiri di tempat, tidak maju tidak mundur. Untuk maju kamu merasa tak pantas dan kalau harus mundur pun kamu sudah tidak mau. Kamu hanya akan diam ditempat mengutuki kesalahanmu di masa lalu.”

“Lalu, bagaimana caranya agar aku bisa mengajak hati berdamai?”

“Jangan pedulikan dia.”

“Maksudmu?”

“Selama ini kamu memang tidak pernah melibatkan hati dan akal pikiranmu kan? Hati tidak akan pernah berhenti menyesali diri. Tapi kali ini, sertakan aku dalam perubahanmu, aku akan membawamu terus berpikir positif. Melihat maju ke depan, tanpa harus mengutuki salah di masa lalu. Setelah kamu benar-benar menjadi baik. Hati akan melihatnya, dan pada saat itulah dia akan mau diajak berdamai.”

“Kamu yakin, kal?”

“Yaaaa, semoga saja berhasil. Setidaknya yang kamu tuju saat ini adalah kebaikan, bukan? Kadang mengikuti hati yang terlanjur menyerah tidak akan memberikan energi apapun, kecuali penyesalan berkepanjangan. Kamu tetap harus gunakan akal pikiranmu untuk bisa maju kedepan.”

Leave a Reply