Buka Mata Hati Telinga

~Based on Song ~ Maliq & D’essentials ~ Mata Hati Telinga

Langit gelap sempurna, namun tetap indah bertabur bintang dan dentuman kembang api yang menghiasi langit malam itu.

Malam tahun baru ini, ketika semua orang menuliskan resolusinya, Widi dan Angga malah lebih banyak mengurusi pekerjaan yang tiba-tiba saja datang. Mereka mendirikan bisnis EO bersama beberapa teman yang juga sekarang sedang menikmati malam tahun baru bersama.

Kebosanan menghapiri Widi, dan itu artinya dia harus segera meninggalkan laptop yang sedang ada di hadapannya. Dan mencari spot sepi agar tak terganggu dengan keriuhan teman-temannya yang sedang asik berbincang absurd.

Angga yang tadi pamit untuk mengambil cola pun menghampiri Widi.

Angga: “Ngapain lo wid?”

Widi: “Muak sama kerjaan.”

Angga: “Kalo nggak dikerjain lebih muak lagi loh.”

Widi: “Ya, iya. Tapi nanti aja.”

Angga: “Emmmm oke.” Hening sejenak. Sampai akhirnya Angga bertanya lagi. “Eh Wid, kalo lagi sendiri gini biasanya lo mikirin apa sih? Kayanya kalo ngumpul gitu, gue lebih sering liat lo menghindar.”

Widi: “Mikir macem-macem, sesuai mood gue aja.”

Angga: “Kalo barusan sebelum gue ambil cola, lo mikir apa?”

Widi: “Mikir jorok. Hahahaha”

Angga: “Sakit ni anak.”

Widi tertawa seraya berkata: “Nggak lah. Gue lagi mikirin soal pasangan hidup.”

Angga: “Tumben. Apa yang lo pikirin tentang itu?”

Widi: “Lo ngerasa nggak sih, ketika bicara tentang pernikahan. Masalah uang itu adalah sesuatu yang bisa banget dicari. Kita punya banyak akal untuk mencari uang ke mana sesulit apapun itu.” Widi diam.

Angga: “Okeee . . . Lalu?” Angga tau bahwa itu hanya jeda, Widi masih akan melanjutkan kata-katanya.

Widi: “Tapi kalau memperbincangkan akan menikah dengan siapa, kita kaya hilang akal mau seperti apa mengupayakannya.”

Sejenak Angga berpikir. “Kenapa begitu?” Tanyanya

Widi: “Ribet sih menurut gue, Angga. Hati itu nggak bisa dipaksakan. Baik hati kita sendiri atau hati pihak sebrang. Mau sesuka apapun elo sama perempuan itu, lo cuma bisa mengungkapkan dan memantaskan tanpa bisa memaksakan hati perempuan itu kan?”

Angga: “Iya sih. Lalu?”

Widi: “Dan, sekeren apapun elo. Hati si perempuan itu bukan lo yang atur, hati dia ada Pemiliknya. Manusia manapun nggak bisa membolak-balik biar dia jadi suka sama lo kecuali Sang Pencipta.”

Angga: “Ya, iya sih.”

Tak lama Ayas datang mengantarkan daging bakar. “Ni, ngunyah dulu biar nggak tegang.”

Angga: “Makasi Yas.” Jawab Angga sambil meraih piring yang diberikan Ayas.

Namun Widi tak peduli dengan kedatangan daging dari Ayas. Ia malah melanjutkan petuahnya: “Seakan kita hilang akal untuk mencari pasangan kita ke mana kecuali melalui doa, gue sih ngerasa ini power Yang Maha Kuasa banget sih. Kadang meski kita sama-sama suka pun, bisa aja semesta yang nggak mendukung.”

Angga: “Okeee, gue nyambung ni sekarang.”

Widi: “Coba gimana tanggepan lo? Senyambung apa?”

Angga: “Gini, bahkan ketika ditanya tentang kriteria pasangan yang kita mau, kita sendiri pun nggak tau harus yang kaya gimana, kecuali minta yang klop. Dan klop itu nggak bisa disebutkan dengan standar fisik mau materi. Betul?”

Widi: “Banget.” Jawab Widi bersemangat.

Angga masih fokus pada daging: “Gue ngambil sambel dulu. Kurang pedes.”

Widi: “Yeeuuuuu.”

Kini widi kembali menghampiri laptopnya. Tak lama Angga pun datang menghampiri Widi membawa semangkuk kecil saus sambal.

Angga: “Udah ilang muaknya?”

Widi: “Udah ni, moodnya cepet balik.”

Angga: “Kenapa lu tiba-tiba mau ngomongin soal pasangan dan pernikahan?”

Widi: “Nggak tau, pengen aja. Sesekali nggak apa-apa kan ya? Selama ini kita kan ngomongin bisnis mulu. Hahaha.”

Angga: “Emmmmm, gak apa-apa Wid.”

Widi: “Tapi gue nggak mau keseringan juga sih.”

Angga: “Kenapa?” Ini hanyalah pertanyaan agar tetap ada bahan pembicaraan saja.

Widi: “Coba lo liat sekarang deh, di media sosial manapun, muda-mudi sekarang sangat tertarik ketika membicarakan soal cinta. Pengen punya pasangan yang begini dan begitu, mengumpulkan segala teori untuk menggaet hati si ini dan si itu. Bosen nggak sih? Padahal banyak banget hal yang bisa dibahas selain itu. Toh kita semua sudah sama-sama tahu bahwa urusan hati itu Tuhan yang atur, hati itu bisa Tuhan bolak-balik kapan aja, kenapa kita begitu fokus pada manusia yang saat ini kita suka?”

Angga: “Ya, sama kaya pemandangan di sekitar kita.” Jawab Angga menunjuk teman-temannya yang sekarang sedang berpesta. Kemudian ia bertanya lagi. “BTW Emang salah ya ngomongin cinta?”

Widi: “Nggak terlalu. Cuma gue lagi bosen mendengarkan cerita cinta ini dan itu aja. Terlalu banyak yang diumbar di sosial media, padahal mau sekuat apapun kita meminta tolong sama mansia, kembali lagi, power Yang Maha Kuasa yang akan menentukan itu terjadi atau nggak. Hahaha”

Angga: “Kadang lo ada benernya.”

Widi: “Ya kaaan.” Jawab Widi jumawa.

Angga: “Tapi elo sekarang udah kebanyakan ngomongin cinta Wid, ini konsep acara besok belom lo buat.”

Widi: “Wahaha maap om. Gue khilaf. Tapi kadang kisanak nggak kira-kira juga yah nyuruh gue kerja di malam tahun baru gini. Ketika semua temen-temen kita di depan sana lagi asik bakar daging dan main kembang api, gue lo suruh buka laptop.”

Angga: “Anak-anak, di depan lagi pada ngomongin resolusi. Lo mau dengerin resolusi mereka? Tuh si Ayas resolusinya pengen dapet pacar baru. Terus sebelahnya, lagi curhat-curhatan soal gebetan. Nggak jauh dari itu, ada yang lagi kajian gimana caranya menaklukan hati pasangan. Emang lo tertarik?”

Widi: “Hiiii.”

Angga: “Seriusan nggak tertarik sama sekali?”

Widi: “Tertarik, tapi ya nggak keseringan aja. Nggak usah keseringan berharap sama manusia sehingga harus diceritakan ke sana sini, ada hal yang cukup hanya gue dan Allah yang tahu.”

Angga: “Setuju banget. Kerja lagi gih!”

Widi: “Emmmmm, kadang kalo urusannya soal ini gue lebih seneng ngomongin cinta.”

Angga: “Ahahaha. Ketika semua orang fokus pada cinta, anak ini menjadikan cinta sebagai pelarian dari mumetnya pekerjaan.”

Widi: “Suka-suka lo mau nilai gue kaya gimana. Yang jelas, urusan cinta akan lebih terasa ruhnya ketika kita cerita pada Sang Pemilik Cinta. Manusia itu diciptakan lemah, sedangkan yang Punya power agar semua Indah pada waktunya hanya Allah.”

Angga: “Coba denger ini deh.” Angga mengulurkan ear phone yang sedang dipakainya.

Widi: “Apa ini?”

Angga: “Denger ini, jadi inget elo dan obrolan kita malam ini.”

Lagu melantun di telinga widi.

Buka mata hati telinga

Sesungguhnya masih ada yang lebih penting dari sekedar kata cinta ooo..

Yang kau inginkan tak selalu

Yang kau butuhkan mungkin memang yang paling penting

Cobalah untuk membuka mata hati telinga

 

Adakah kau rasakan kadang hati dan pikiran

Tak selalu sejalan seperti yang kau harapkan

Tuhan tolong tunjukkan apa yang ‘kan datang

Hikmah dari semua misteri yang tak pernah terpecahkan

 

Angga: Kita memang perlu mengaktifkan semua indera kita untuk bisa melihat dunia. Terlebih mata, hati, dan telinga. Agar bisa menangkap banyak hal indah ciptaan-Nya. Bukan hanya sekedar cinta. Atau mungkin cinta itu adalah sesuatu yang sangat luas maknanya.

Widi menatap Angga dan menanggapi hanya dengan senyum.

 

sumber foto: streetwill.co

Leave a Reply