Catatan Hati S***** K*****

 Jangankan mencintaimu. Berharap pun aku merasa tak pantas, Nona.

Teringat pertemuan pertama ketika kamu menemukanku dalam keadaan basah kuyup di emper pertokoan. Tanpa bertanya dulu, kamu langsung saja membawaku pulang ke rumahmu. Kamu keringkan tubuhku dengan penuh perhatian. Kamu balut luka dilututku dengan penuh kehati-hatian.

Keluargaku entah di mana. Ayah tak ada, ibu pun tak punya. Namun, ketulusanmu menolong hari itu, membuatku akhirnya merasa memiliki keluarga seutuhnya. Engkau mengizinkanku tinggal di rumahmu, selama yang kumau -kamu bilang. Mau makan akan kamu siapkan, susu pun tak pernah absen kamu berikan setiap pagi padaku. Hidupku terjamin bersamamu. Kamu tak pernah meminta imbalan apapun dariku.

Aku telah menjadi bagian dari keluarga ini. Aku berjanji akan menjadi anggota keluarga yang patuh dan penurut, aku tidak akan nakal jika kumampu. Aku merasa telah menjadi milikmu. Izinkan aku bermanja padamu, ya!

Aku suka ketika kamu membelai pundak dan punggungku lembut. Mataku selalu terpejam ketika kamu melakukan itu. Kupikir kamu akan marah ketika aku menaiki tempat tidurmu. Sungguh, dilantai aku kedinginan, makanya aku pindah ke ranjangmu. Kupikir kamu marah, nyatanya tidak. Kamu justru tersenyum dan membawaku dalam dekapanmu.

Aku senang menemanimu menulis hingga larut malam. Meski aku hanya duduk-duduk saja pada kursi mini yang kamu belikan khusus untukku.

Sayang sekali, nona. Aku sudah terlanjur mencintaimu, aku tak mau ada yang lain di sampingmu. Mungkin aku memang tak tahu diri. Tapi aku sudah terlanjur mencintaimu, aku tak sudi melihatmu mendekap yang lain selain aku.

***

Saat aku sedang duduk-duduk bersama ibumu di depan televisi, kamu datang menghampiri kami.

“Bu, apakah baju ini cocok untukku?”

“Kamu mau ke mana, nak? Tumben rapi.”

“Kencan ma, Adrian mengajaku pergi malam ini.”

Aku menghampirimu. Menengadah mencari perhatian darimu. Aku ingin mengatakan padamu. “Jangan pergi. Kamu di rumah saja bersamaku. Membaca majalah atau merajut syal di kamarmu. Seperti biasa. Bersamaku, hanya bersamaku.” Namun belum sempat aku mengatakannya, sebuah Jazz putih berhenti tepat di depan pagar rumahmu.

Ketika pintu mobil terbuka dan sebuah loafer hitam menjejak jalan aspal di depan rumahmu. Kamu segera membuka pintu. Ah tak terlalu tampan, dia hanya sedikit menawan. Yaaa . . . Namun tetap saja aku tidak sebanding dengannya, kutahu. Aku berlari ke lantai dua, untuk melihatmu pergi bersamanaya dari balkon  kamarmu, sekedar melihatmu berdadah ke arahku.

Kamu tak membuatnya terlalu lama menunggu, secepat kamu pergi ke kamar untuk mengambil flat shoes kemudian mengenakannya sambil berlari kecil menuruni tangga. “Haruskah setergesa-gesa itu untuknya, Nona? Se-tidak-sabar itu kah kamu ingin pergi bersamanya?” Aku hanya bisa mengomel sendiri tanpa kamu ketahui.

Entah mengapa perasaanku sungguh tak karuan. Aku gusar, seperti ada sesuatu yang tidak beres dengan cuaca hari ini. Awalnya aku sudah rela kamu pergi bersamanya. Namun aku merasa instingku mengatakan sesuatu yang buruk akan terjadi. Segera, sebelum kamu menghampiri si brengsek Adrian, aku harus mencegatmu untuk tidak pergi malam ini. Aku berdiri mengahalangi jalanmu.

“Ada apa Gobby?”

Andai kamu paham. Aku hanya ingin mengatakan. “Jangan pergi. Perasaanku tidak enak.”  Tetapi kamu justru malah mengangkat tubuhku. Sambil mengelus punggungku, kamu berkata.

“Aku tidak lama Gobby. Sebelum pukul 11 malam aku sudah pulang. Aku janji.”

Kemudian si pria bersepatu loafer hitam tadi pun menghampiri kami. Kemudian mengelus rambut kepalaku. “Aku akan menjaga Raya dengan baik, Gobby. Dia aman bersamaku, aku janji akan mengembalikannya padamu sebelum pukul 11 malam. Ini janji sesama pria, kau tahu? Jadi kau tak perlu khawatir, sobat.” Euukkh menjijikan, sebagai pria aku ingin meninju wajah pura-puranya. Sayang aku hanya bisa mencakar.

Meski aku tak terlalu percaya, pada akhirnya aku turun juga dari pangkuan Raya. Bersama ibu, aku menyaksikan Jazz putih milik Adrian berlalu membawa wanita yang sangat kucintai, semakin lama semakin tampak seperti titik berwarna putih tertelan gelapnya malam.

Angin malam menyibak rambut-rambut di pipiku, dingin malam ini terasa menelusup hingga ke tulangku. Membuatku teringat kembali pada memori hujan di emper pertokoan. Aku merindukan dekapanmu untuk mengahangatkan tubuhku seperti kala itu.

Namun, sudah pukul 00.00 kamu belum juga pulang. Aku terus duduk di balkon untuk menunggumu. Meski kantuk sudah hadir sejak tadi sampai akhirnya pergi lagi kamu belum juga tiba di rumah. Oh Raya, apa yang terjadi padamu malam ini?

Ketika mata memejam hampir terlelap, derum suara mesin mobil yang sama seperti beberapa jam lalu memecah keheningan dan membangunkanku dari setengah tidurku. Raya pulang bersama Adrian, ah tak perlu kuceritakan kan apa yang mereka lakukan saat Adrian berpamit pulang. Yang pasti aku menyaksikannya, dan mereka tak ubahnya seperti teman-teman mainku di rumah sebelah. Si Lolita dan si Cipluk.

Aku berlari menghampirinya, dia tampak begitu berseri-seri setelah melewati malam minggu bersama Adrian. Menyadari kehadiranku di dekatnya, Raya langsung tersenyum ke arahku. Dia menggendong tubuh mungilku.

“Kau tahu Gobby. Aku senang sekali malam ini. Andrian memperlakukanku seperti seorang putri.”

Sambil melepas flat shoes kamu berjalan membawaku ke kamarmu, Sesekali kamu berputar dengan tetap memeluk tubuhku. Kamu ber-nana-nana mengajakku berdansa lalu melanjutkan lagi ceritamu padaku.

“Dia memperlakukanku dengan sangat baik Gobby, dia terus menggenggam tanganku, dia melindungiku saat menyebrang, dia meminjamkan baju hangatnya kepadaku, dia selalu membukakan pintu untukku. Dia baik kan Gobby?”

Entahlah Raya, masih terlalu dini untuk mengatakan dia baik. Seorang penyamun sekalipun dia bisa berakting untuk melakukan semua itu. Bagiku, menilai seseorang tidak bisa hanya dengan melihat dari perhatian kecil itu saja. Masih ada kemungkinan dia hanya berpura-pura.

Setibanya kami di depan pintu kamar, Raya membuka pintu dan rebah di atas bed cover Rapunzelnya bersamaku. “Aku bahagia sekali Gobby. Dia berkata padaku ‘kamu cantik hari ini,’ dia mengatakan itu Gobby.” Matamu terlihat begitu antusias sekarang.

Ah, sudah pasti dia pria brengsek, Raya. Jangan percaya! Pria baik-baik tidak akan dengan mudahnya merayu wanita. Dia sudah tahu di mana celahmu, dia tahu wanita senang diberi perhatian dan di rayu. Pria baik-baik tidak mencintaimu hanya dengan rayuan. Pria baik-baik mencintaimu dengan bukti bukan janji. Pria baik-baik membuktikan dengan sikap bukan hanya sekedar kata-kata. Bangunlah Raya, ini dunia nyata bukan negeri dongeng seperti di film-film yang biasa kamu tonton. Kamu perempuan baik-baik, kamu tidak boleh seperti Lolita temanku di rumah sebelah. Dia salah satu korban rayuan pria brengsek seperti Cipluk. Dirayu sedikit, di kejar sedikit, akhirnya sekarang dia telah melahirkan empat anak sekaligus. Ah nona, kau tidak boleh seperti itu. Kau perempuan baik-baik yang tidak boleh satu orangpun melukai hatimu.

Tapi dasar perempuan, hatinya begitu lembut. Aku mau bicara sampai berbusa pun tetap saja hanya senyum-senyum simpul yang kamu tunjukan padaku. Kamu mengatupkan wajahmu ke bantal guling yang juga bergambar Rapunzel. Kamu geleng-geleng sendiri membayangkan betapa manisnya kejadian malam ini. Entah kenapa aku merasa kamu sedang larut dalam romantisme di cerita dongeng macam rapunzel. “Sebahagia itu kah, Raya? Kamu kan baru mengenalnya.” Andai kamu paham, aku ingin mengatakan. “Jangan terburu-buru merasa senang. Kamu belum benar-benar tahu siapa dia.”

***

Sejak hari itu, Adrian jadi lebih sering datang menjumpaimu di rumah. Pernah juga sesekali dia menjemput untuk berangkat ke kampus kemudian mengantarmu pulang lagi ke rumah. Satu bulan berlalu kamu mulai memiliki rasa yang begitu dalam terhadapnya.

Klek, gagang  pintu terbuka, raya berhambur menuju rak kayu yang berdiri tepat di sebelah meja tv. Di atas rak itu tertata rapi keranjang-keranjang ukuran sedang berisikan benang wol warna-warni, gunting, hakpen alumunium, crochet, dan beberapa jenis pita dengan ragam warna yang cukup variatif. Kamu mengambil semua keranjang itu dan menaruhnya di atas kasur tak jauh dari tempat di mana aku sedang berbaring. Seketika aku beringsut menjauh agar tak terkena tumpukan keranjang-keranjang berisikan alat rajutmu.

“Kamu tahu Gobby, sabtu depan itu adalah hari ulang tahun Adrian. Aku ingin mempersembahkan hadiah terbaik untuknya.”

Jarinya meliuk terampil memegang Hakpen dan benang wol. “Aku akan membuatkannya baju hangat Gobby. Sepertinya biru tua warna yang cukup aman untuk seorang pria. Bagaimana menurutmu?” Aku mengibas dan menggaruk kepala dengan kakiku tak acuh. “Terserah kamu saja, aku tidak terlalu peduli pada Adrian.”

***

Angin malam untuk kesekian kalinya menyibak rambut di pipiku. Empat roda karet terus beradu dengan dinginnya aspal setelah disiram deras hujan. Aku dan kamu duduk di kursi belakang blue bird sambil menikmati udara malam setelah hujan reda. Angin berembus masuk melalui jendela belakang pintu taxi yang sengaja kamu buka.

Ini merupakan malam yang istimewa bagi Adrian, kamu mengajakku pergi bersama sebagai pasanganmu kuharap. Tapi jelas itu hanya harapan kosong saja. Terlihat raut bahagia di wajahmu menantikan pertemuan dengan Adrian, terlebih ketika menyadari bahwa kamu akan memberikan hadiah yang selama seminggu ini membuatmu kurang tidur agar baju hangat yang kamu buat selesai tepat pada waktunya. Akulah saksi setengah bisu bagi pengorabananmu untuk Adrian beberapa hari yang lalu. Andai si pria menjengkelkan itu menyakitimu, aku yang akan menghajar wajah si pria tak tau diri itu hingga babak belur. Eh, maksudku babak cakar. Karena aku tak bisa meninju, aku hanya bisa mencakar.

Sampailah kami di café tempat kamu meminta Adrian untuk datang, Hazel black  dress, pink flat shoes, membuatmu terlihat begitu cantik. Usaha yang maksimal untuk membahagiakan dia, Raya. Semoga dia tidak akan pernah mengecewakanmu. Sudah lebih dari 30 menit kami menunggu, 2 gelas lemon tea sudah kamu habiskan. Namun Adrian tak juga datang. “Raya yang bodoh, bagaimana jika kamu hubungi ponselnya saja, tanya dia ada di mana.” Seperti mendengar gerutuanku dalam hati, kamu merogoh handbag putihmu dan mengambil ponsel dari dalamnya.

“Aku udah di café ni. Kamu di mana?”

“Oh gitu, kamu di rumah sama siapa? Udah makan? Atau aku ke rumah kamu aja sekarang untuk jagain kamu?”

“Oh gitu, yaudah lain kali aja kita ketemunya.”

“Iya nggak apa-apa. Kamu cepet sembuh, ya.”

“Adrian sakit Gobby, dia tidak bisa datang ke sini. Kita pulang aja yuk.” Aku menggeleng tanda tak setuju, aku masih ingin main. “Kenapa? Kamu masih mau main ya? Okelah gimana kalo kita beli cup cakes dan ice cream di sebrang jalan sana. Kemudian kita bermain di taman yang nggak jauh dari toko kue itu.” Oke sepakat, aku mau.

Kaki-kaki kecilku menapaki trotoar setengah berlari. Aku berjalan di sebelah Raya yang berjalan santai mengimbangi langkahku. “Ah kamu lanbat sekali Gobby.” Dia menatapku. “Jangan sobong, Raya. Meski kakiku pendek, aku memiliki 4 kaki. Aku berani beradu lari denganmu, pasti aku yang akan menjadi juaranya.” Dia menggendong tubuhku saat kami akan menyebrang tepat di depan toko kue. Setelah menyebrang sampailah kami di toko kue bergaya vintage. Kami disambut oleh neon box bertuliskan milky cup cakes. Raya mendorong pintu segera masuk untuk memesan cup cakes. Terlihat dua orang muda-mudi juga sedang memilih-milih cup cakes, aku agak risih melihat mereka, mereka bermesraan di depan umum, si pria melingkarkan tangannya di pinggang si wanita. Si wanita berbicara manja di depan si pria. Tapi Raya tak peduli dengan pemandangan itu, yang ada dipikirannya adalah dia ingin membeli cup cakes cokelat. Eh Tapi. . . ternyata tidak juga. . . Raya menoleh heran ke arah dua muda-mudi yang sedang bermesraan itu.

“Lho, Adrian?” Wajah raya merah padam.

***

Begitulah kisahnya, aku tak mau menceritakan apa yang terjadi pada mereka setelah itu. Yang jelas pasti heboh, dan jika kuceritakan, ya. . . Isi tulisan ini akan jadi seperti script sinetron tentunya. Aku bersyukur pada akhirnya Raya sadar bahwa laki-laki brengsek seperti Adrian masih berkeliaran di muka bumi ini. Jelas dan nyata pula dipertemukan dengannya.

Di dunia ini, banyak sekali wanita yang baik hatinya, memiliki kepedulian tinggi, mencintai sesama, berhati lembut. Namun terkadang untuk urusan cinta, dia sering kali buta, dia bisa mencintai orang lain, namun seringkali lupa untuk mencintai dirinya sendiri. Mengambil sikap hanya berdasarkan keinginan apa ya? Hati atau nafsu? Yang kutahu Raya selalu menyebut itu keinginan hati. Tapi kurasa itu bukan keinginan hati. Jika salah langkah, mungkin itu keinginan ego atau hawa nafsu saja. Mereka pula selalu lupa menyertakan akal sehatnya. Lalu dalam hal cinta, apa yang harus disertakan dalam menyikapinya, ya? Ah sudahlah, aku kan seekor kucing bukan manusia.

Raya baik terhadapku, dia lembut terhadapku. Namun karena kelalaiannya menjaga diri, kelembutan itu dimanfaatkan oleh orang-orang yang hanya mementingkan hawa nafsu. Seperti Adrian contohnya.

Inilah Catatan Hati Seekor Kucing. Aku mencintai majikanku lebih dari apa pun. Aku tak ingin dia terluka sedikit pun, baik fisik mau atau hatinya. Maka saat pertemuan di milky cup cakes itu, aku berhasil memberi kenang-kenangan di wajah Adrian, berupa 3 cakar kukuku. Dia kini telah babak cakar seperti yang kubayangkan sebelumnya. . Aku hebat bukan?

Leave a Reply