Cengkrama Hujan

Musim penghujan, dimana curah hujan kian deras hampir setiap hari, kita rasakan di jelang memasuki akhir tahun hingga di awal tahun mendatang. Siraman tetes-tetes air seperti tertumpahkan dari langit, membasuh panas, debu, asap beracun dari polusi yang mengapung di udara dan terhirup dengan sadar dan menyelusup masuk dalam ruang rongga paru-paru kita.

Hujan  yang  semestinya  menjadi  berkah,  anugerah  saat kecambah,  tunas  meranggas  tumbuh  merimbun  yang memanjangkan  dahan  pohon,  menyegarkan  pucuk  daun,  dan mengisi bagian buah pohon sering menjadi hujatan yang dengan ringannya  terucapkan  dari  mulut  berbisa  kita.  Tidak  sebatas keluhan macet yang akan mengekor usai hujan, pertemuan atau janji  terbatalkan  karena  waktu  yang  tak  terkejar,  genangan banjir di jalan-jalan dan beberapa wilayah yang terbiasa dalam rendaman berhar-hari ketika debit air memuncak tak tertampung dalam cekungan pintu air di hulu sungai, bahkan menjadi gugatan kita semua akan munculnya berbagai penyakit fenomenal yang muncul  mulai  dari  peralihan  musim  hingga  musim  penghujan datang.

Sesungguhnya, benarkah hujan yang memang harus menjadi “tertuduh” nya?

Dalam renungan sejenak, bukankah hujan telah ada dan terus menyirami tanah bumi sudah sekian lamanya, setua peradaban manusia  dan  seiring  munculnya  penciptaan  bumi  beserta isinya  mulai  dari  tumbuhan,  hewan,  manusia  yang  melata  di atasnya?

Lalu, apakah munculnya akibat-akibat yang sering dinisbahkan hujan  sebagai penyebabnya  seperti  macet,  banjir,  berbagai bencana dan penyakit yang mengikutinya benar telah ada seiring keberadaan hujan.

Atau,  sebenarnya  berbagai dampak  atau  ekses  tersebut muncul  lebih  karena  ulah  kita, manusia? Cobalah  kita  melihat,  wajah-wajah  sumringah  petani  dan peladang di pelosok kampung yang mensyukuri  berkah  saat  hujan menyapu  sawah-sawah,  ladang dan  kebun  mereka  yang  kering meranggas penuh dahaga.

Dari ruang kerja melalui jendela kaca, simak pemandangan di luar sana  saat  bocah-bocah  bersorak  menikmati  tarian  hujan  dalam riang  permainan  bersama  teman-teman,  bermodalkan  sebatang  payung  dikumpulkan  uang  jasa  untuk melindungi orang yang tak sabar  menunggu  redanya  hujan, ada juga jasa lainnya pertolongan yang mereka tawarkan saat mesin mobil terendam atau genangan tak mungkin terlewati oleh kendaraan beroda dua di banyak wilayah penuh genangan air yang melimpah.

Di  sudut  trotoar,  dengan  peluh hangat  mengalir  bapak  penjual  nasi goreng,  penjaja  soto,  abang  bakso, siomay,  bakso  malang,  teh  atau kopi  dan  berbagai  cemilan  pinggir jalan  berlomba  dalam  memenuhi permintaan  dari  pelanggan  yang  tak ingin  perutnya  meronta  di  tengah perjalanan  pulang  menembus  malam dingin dengan kemacetan yang sudah terbayangkan.

Adakah jiwa-jiwa kita sadar untuk menempatkan  diri  ini  seperti  anak-anak  yang  bergembira menyongsong hujan?

Seperti anak sebaya yang menawarkan jasa ojek payungnya atau mendorong kendaraan yang mogok?

Layakkah kita bagai seorang petani dan peladang yang senang sawah dan ladangnya tersirami hujan? Atau, kita bisa menempatkan diri sama  dengan  penjaja  kudapan  di sepanjang trotoar?

Akh, ternyata selama ini kita terlalu mudah menuduh dan menghujat hujan atas apa yang tak diperbuatnya.

 Jangan lagi berkata : “ ya, hujan… macet dech!”

“wah, hujan bisa batal janji yang sudah dibuat!”

“Hujan menjadi penyebab macet”

“banjir karena hujan”

“penyakit akibat musim penghujan”

Dari hujan muncul selaksa cerita, seloka  puisi  dan  berbagai  karya pujangga lainnya. Dikarenakan   hujan   banyak menumbuhkan  romansa  dalam  bait-bait nada dan irama. Tak bisakah kita berprasangka baik atas hujan yang akan selalu tiba pada musimnya?

Download Free E-book ini di sini!

 

Leave a Reply