Cerita di Pawai Ramadhan 2016

Namanya Sella dan Umay.

Aku duduk bersama anak-anak TPA dari kelompok yang kupegang. Ceritanya semalem aku ikut acara pawai obor yang dilaksanakan oleh kakak-kakak santri IQF.

Pawai Ramadhan

Saat sedang asik bercengkrama, ada anak usia 3 tahun menghampiriku tanpa bicara sepatah kata pun. Aku pun meraih tangannya, lalu temannya yang lain memperkenalkan dia padaku.
“Kak kak dia namanya Umay. Umay juga dari TPA kali lio kak.”

Aku menengok ke belakang, bertanya pada Dini. “Din, TPA kali lio itu TPA mana lagi?”

“TPA kali lio itu, TPA ust Dayat juga kak.”

“Oh idem.”

Pawai Ramadhan

Umay yang tangannya masih di genggamanku pun kusuruh duduk di pangkuanku. Dan ternyata dia mau. 😄

Kami asik mendengarkan kakak MC sambil sesekali ngobrol-ngobrol di belakang bersama Umay dan anak TPA kali lio lainnya.

Namun tak lama ada satu anak dari TPA lain yang cemburu pada Umay, dia memaksa ingin menggeser Umay pergi dari pangkuanku. “Awas, aku mau duduk.” Umay didorongnya tapi dia diam saja.

Pawai Ramadhan
Kaget sebenarnya, cuma akhirnya aku mencoba memeluk Umay dan anak yang bernama Sella itu di pangkuanku. “Berdua aja, ya. Muat kok.” pintaku. Tapi Sella tidak mau, dia terus mendorong dan mencubit umay. Aku semakin erat memeluk keduanya dan membujuk Sella beristigfar.

Tapi kekesalan Sella makin memuncak ketika ada anak lain yang mengompori emosi Sella malam itu. “Udah May, kamu ngalah aja. Sella mah manja anaknya.” anak itu terus saja menjelek-jelekan Sella, membuat Sella semakin kesal. “Nggak kok Sella anak baik. Asal mau istighfar dan berbagi sama teman.” Jawabku. Tapi tetap aja si kompor terus berbicara sesuatu yang membuat Sella semakin kesal. Ditambah lagi sang kompor mengajak teman yang lain yang tidak lain adalah kakaknya Umay untuk memusuhi Sella. “Eh, ade lu ni digalakin sama Sella.”

“Eh yuk, kita maaf-maafan aja yuk.” Suasana makin tidak membaik karena Sella makin kesal dan menendang si kompor, Umay yang dari tadi diam pun di cubitnya. Aku menoleh ke arah Dini lagi di belakang.

“Din, siaga satu ni. Kedaan nggak baik-baik aja ni. Helep.” Dini pun tertawa dan akhirnya maju ke Depan, duduk di sampingku. “Eh Sella, Sella sama kak Dini aja yuk!” Sella berpikir sejenak, dan Alhamdulillah akhirnya dia mau. “Dasar, MANJA!” gerutu si kompor kesal. Sella tak acuh.

Dini memeluk Sella dan mengalihkan perhatian sela ke poster sambut Ramadhan. Umay masih di pelukanku dan Dini semakin erat memeluk Sella, agar Sella tidak memedulikan para kompor.

Saat keadaan mulai tenang, Umay yang dari tadi diam, tiba-tiba mengusap lembut lengan Sella yang ada di sebelahnya. Sella menoleh, dan Umay pun tersenyum. “Sayang, Umay sayang sama kak Sella.” Ujarku dan Dini. Akhirnya aku dan Dini menggerakan tangan Umay dan Sella untuk berpegangan. Sella masih malu untuk tersenyum, tapi akhirnya dia mau bersalaman dan kami ajak berpelukan. “Umay sayang Sella, kak Wini sayang Sella, kak Dini juga sayang Sella.”

Malam itu, Umay mengajarkan kami banyak hal. Bahwa sesuatu yang buruk akan mereda jika dilawan dengan kebaikan. Umay mengajarkan tentang tidak melawan dengan keburukan juga tapi tetap bertahan di tempatnya, mempertahankan harga dirinya. Sella juga mengajarkanku tentang menerima kebaikan dan meredam emosinya tanpa perlu ada dendam.

Sella menyadarkanku tentang fitrah manusia. Bahwa setiap manusia itu fitrahnya memang baik dan menerima kebaikan. Hati akan merasa senang menerima kebaikan, tapi hawa nafsu dan emosi yang buruklah yang menyiksa kita dengan perasaan merasa bersalah.

Dan senyum Sella kembali saat keduanya saling memaafkan dan berpelukan setelah pembagian snack.

Lagi-lagi ini adalah tentang pelajaran hidup. Bahwa semua yang ada di sekitar kita, bisa menjadi pelajaran. Guru tak hanya dari orang yang sudah tua saja, tapi kita bisa belajar dari anak yang usianya masih sangat muda.

Leave a Reply