Cerita Sore

A: Win sini deh

Aku: Kenapa mas?

A: Gimana caranya nih ya, gue punya proyek, tahun depan anak-anak di kantor udah harus pada nikah. Gue pengen ngawinin yang pada jomblo-jomblo di sini.

Aku: Siapa yang mau nikah mas? Sini gue bisa bantu apa?

A: Semuanya, udah deh lo pada nikah.

Aku: Yeeuuuh nyuruh nikah udah kaya nyuruh mandi mas? Gejebur sebentar langsung basah.

A: Abis pada nunggu apa lagi, udah pada tua juga. Kalo pada bingung sama siapa, noh cewek-cewek rohingnya banyak. Mereka cantik-cantik tau.

Aku: Speechless. Dalam hati gue bilang. “Iya sih mulia banget tujuannya, bikin orang-orang nomaden itu jadi punya tempat tinggal. Tapi gue nggak yakin mental cowok-cowoknya sesiap itu, menikah dengan orang yang secara bahasa dan culture aja udah beda.”

A: Lo win, mau kapan?

Aku: Udah sering banget mas ditanya begitu, pada waktunya mas. Lagi juga pada nanya doang, kalo mau sini nyumbang.

A: Lha nikah tinggal nikah. Nikah itu bukan perkara uang win.

Aku: Ah masa sih mas? Terus apa mas?

A: Nikah itu perkara tauhid win.

Kemudian perbincangannya berhenti begitu saja. . .

Meski aku menunjukan sikap acuhku, tapi sambil berlalu aku jadi lebih banyak berpikir. Menikah dan tauhid? Ya, ternyata memang berkaitan. Terkadang banyak dari kita yang sudah lebih dulu ketakutan ketika memperbincangkan pernikahan. Uang, pasangan, gagal, ditolak, orangtua tidak setuju, perceraian, dll.

image

Khawatir Tentang Uang

Masalah uang misalnya, kita tidak percaya diri karena tidak punya tabungan. Seolah kita lupa bahwa ada Tuhan yang akan mencukupkan. Masih mas Hisyam sendiri yang bercerita padaku di sela-sela meeting kerjaan.

Hisyam: “Nih denger (ujarnya sambil tolak pinggang di hadapanku dan beberapa teman), gue nikahin Mona cuma punya duit 3 juta. Abis semua cuma buat lamaran. Nyokap gue udah nanya-nanya aja ke gue. ‘Gimana nih syam, uangnya udah habis buat lamaran. Nanti buat resepsi dan akadnya gimana?’ (Mas hisyam masih tolak pinggang sambil tertawa-tawa mengenang) Gue jawab aja. ‘Udaaah, mama santai aja, entar juga ada lagi rezekinya.’ (Aku membayangkan ibunya pasang wajah stress, sedang mas hisyam duduk santai seolah acuh). Gue ngomong begitu sambil nggak tau tuh dapet duitnya gimana. Hahahaha.”

Aku: “Terus mas terus, gimana tuh akhirnya?”

Hisyam: “Yaaa, terus beberapa hari setelah itu gue langsung dapet kerjaan, kerjaan yang waktu itu gue dapet untung 40 juta. Yaudah nikah deh gue sampe sekarang udah punya si Abdu sama Afra.

Kami tertawa-tawa mendengarkan ceritanya sore itu. Aku selalu suka ketika mendengarkan ia mengoceh tentang kehidupan. Pesan yang tidak pernah ia lewatkan setiap kali berdiskusi atau meeting dengan kami adalah tentang believe, believe to Allah.

Barangkali cerita ini bisa membuat kita faham bahwa ketika kita percaya pada Allah, maka Allah akan menolong kita bagaimanapun caranya.

 

image

Ketakutan Ditolak

Kalau kita percaya Allah menciptakan mahluknya berpasang-pasangan, pasti kita pun akan bertemu dengan pasangan kita. Kadang dari kita terlalu takut ditolak, terlalu takut prosesnya gagal bersama si dia. Kurasa ketakutan itu timbul karena kita fokus pada manusianya, bukan pada kebaikan yang akan Allah tunjukan dari niat baik kita ketika hendak menikah.

Bukankah ketika sedang harap-harap cemas kita selalu berdoa pada-Nya.

“Ya Allah, sungguh aku meminta pilihan yang tepat kepada-Mu dengan ilmu-Mu dan aku memohon kekuatan kepada-Mu (untuk atasi masalahku) dengan kemahakuasaan-Mu. Aku memohon sesuatu dari anugerah-Mu yang Mahaagung. Sungguh, Engkau Yang Mahakuasa, sedangkan aku tidak berkuasa, Engkau mengetahui, sedangkan aku tidak mengetahui, dan Engkau maha mengetahui perihal yang ghaib. Ya Allah, apabila Engkau mengetahui bahwa urusan ini lebih baik di dalam agamaku, penghidupanku, dan akibatnya terhadap diriku atau dunia dan akhiratku maka takdirkanlah ia untukku, dan mudahkanlah jalannya, lantas berilah berkah. Akan tetapi apabila Engkau mengetahui bahwa urusan ini akan  membawa keburukan dalam agamaku, penghidupanku, dan akibatnya kepada diriku, atau di dunia dan akhiratku. Maka singkirkanlah urusan tersebut, dan jauhkanlah aku darinya, maka takdirkanlah bagi diriku kebaikan di mana saja kebaikan itu berada, lantas jadikalhan aku bersikap ridha dalam menerimanya.”

So, ketika proses itu gagal, misal ketika kamu ditolak atau menolak sesorang. Itu artinya Allah melihat ada takdir yang lebih baik dari pada kamu bersamanya. Kalau kamu merasa orang itu adalah orang yang baik. Maka bayangkanlah di perjalanan berikutnya kamu akan bertemu dengan orang yang lebih baik dari dia. Kamu punya standar, Allah pun punya standar sendiri untukmu. Ketika kamu merasa dia sudah cukup baik untuk menemanimu, Allah ternyata berkata. “Belum, kau butuh yang lebih baik dari itu, yang lebih sabar menghadapimu, yang lebih cukup ilmu untuk mendidikmu, yang lebih dekat dengan-Ku untuk membawamu pergi menuju ridha-Ku.”

Ketika gagal dengan seseorang yang baik menurutmu, seharusnya kamu bahagia, karena setelah dipertemukan dengan dia yang baik ternyata Allah menghendakimu untuk bertemu dengan yang lebih baik. Modal yang harus kamu miliki hanya tetap terus berjalan dalam kebaikan dan yang paling penting adalah bersabar.

 

image

Takut Mendapatkan yang Tidak Sesuai

Kalau kita percaya wanita yang baik adalah untuk laki-laki yang baik bagitu pun sebaliknya, maka Allah akan mengarahkan kita kepada kebaikan sepanjang kita berusaha untuk menjadi baik. Ukuran baik di mata manusia berbeda dengan baik di mata Allah. Barangkali dari luar dia terlihat tidak baik, ternyata dalam kehidupan berumah tangga nanti, dialah yang paling kuat diantara yang lainnya untukmu. Ternyata dia yang paling bisa membuatmu nyaman dan merasa aman.

Misal, seseorang memiliki masa lalu yang buruk, barang kali di masa sekarang atau di masa yang akan datang dialah yang paling kuat imannya karena pernah belajar dari kesalahan di masa lalu. Sungguh kita sering kali terlalu takut dengan pandangan kasat mata kita, sehingga lupa bahwa Allah bisa melihatkan untuk kita sesuatu  yang gaib, bisa jadi kebaikan itu tidak bisa kita lihat sekarang sedang Allah telah melihatnya bahwa di depan sana kebaikan itu ada padanya.

Kalau kamu percaya setiap manusia sudah diatur rezekinya oleh Allah, maka urusan uang tak perlu lagi jadi penghambat pernikahan. Untuk menikah pun pasti akan ada rezekinya sendiri. Jangan khawatir meski belum punya tabungan dan sebagaianya. Manusia memang begitu, ketika jodoh semakin dekat kamu akan memutar otak bagaimana cara mendapatkannya, termasuk cara mendapatkan uang untuk mengupayakannya. Seorang teman pernah bilang. “Theres a feeling, either it love, or another, it makes us doing something unusual. Makes you pushing yourself harder.”  Kurasa ini benar, ada kekuatan tersembunyi pada diri kita yang akan kita paksa keluar ketika sudah diujung tanduk. Saat bekerja sekeras itu, Allah pasti melihat dan pasti akan menolong kita.

Jadi ketika hendak menikah, yang harus kita perkuat bukan kemapanan, kecantikan, ketampanan. Tapi believe to Allah. Bahwa niat baik yang dilakukan dengan cara yang baik akan berujung pada kebaikan.

Leave a Reply