Hanya Tujuh Tahun Katanya?!

~Based on Song ~ Maliq D’Essentials ~ Coba katakan

Ketika itu hari cukup cerah, di atas bangku taman sahabatku bercerita padaku tentang angka 7 (tujuh). Begini ceritanya:

“Bersamanya aku merancang sebuah kehidupan indah di sana.” Dia tak menatapku, melainkan menatap kosong ke depan.

“Di mana?” Aku menatap ke wajahnya heran. Kemudian mengikuti kemana arah pandangnya.

“Kehidupan di masa mendatang yang masih dalam catatan mimpi kami berdua.” Aku menghela napas ‘Hhhh’, dan dia melanjutkan ceritanya.

“Sebelum berbicara mengenai rencana hidup ke depan, bersamanya pula aku membicarakan warna gaunku dan jas yang akan dia kenakan di hari bahagia itu. Warna dasar krem dipadu dengan batik cokelat tua. Paduan warna itu yang menjadi pilihan kami. Karena menurutku paduan warna itu cocok untuk dua manusia dengan gender berbeda. Pas untuk wanita, juga pas untuk pria. Karena aku tak terlalu suka melihat laki-laki menggunakan warna cerah pink, ungu, atau hijau menyala.”

“Hmmmm, selera kalian bagus juga. Bang beli ice cream dong.” Aku tahu ceritanya masih panjang dan pasti aku akan bosan jika tak memakan apa pun.

“Tak lama, hanya 7 (tujuh) tahun aku bersamanya. Menuang teh bersama-sama setiap sore di café yang sama. Memesan tiket nonton dan mengunyah pop corn berdua. Mengumpulkan uang untuk bersenang-senang saat liburan. Entah berapa banyak tempat wisata yang sudah kami kunjungi, mungkin hampir semua kota wisata di Indonesia sudah kami jejaki bersama. Menurutmu, menyenangkan bukan hidup sepertiku? Menikmati hidup bersama orang yang kau cintai. Bersenang-senang bersama di usia muda.”

“Menyenangkan sih, tapii…  . Ah sudahlah lanjutkan saja ceritamu.”

“Tak cukup sampai pada kesenangan itu saja. Kami pun sudah memiliki harapan yang dia sebut sebagai mimpi di masa depan. Aku diajaknya menuliskan banyak cita-cita manis untuk kehidupan mendatang. Satu kehidupan di masa depan yang dia katakan padaku ‘ini pasti akan menyenangkan jika terjadi.’”

“Jika terjadi? Itu artinya belum pasti?” Sahabatku pura-pura tak peduli pada ekspresi spontanku.

“Aku tersenyum menatap tawa riangnya kala itu, sambil mengabaikan kata ‘jika’ yang terucap dari bibirnya. Aku terus berharap padanya dan menuliskan semua cita dan cinta kami besama. Tak terasa, ternyata untuk menuliskan cita-cita saja memerlukan waktu 7 (tujuh) tahun, ya? Kuharap tidak akan lebih lama lagi dari itu. Karena aku sudah mulai lelah menuliskannya. Aku ingin benar-benar merasakannya.”

“Merasakan apa?”

“Merasakan kehidupan yang sesungguhnya, hubungan sah yang tercatat oleh hukum bumi juga langit terutama.”

“Oh menikah maksudmu? kupikir apa.”

“Coba jauhkan pikiran kotormu. Aku sedang serius bercerita.”

“Ya baiklah. Tapi ngomong-ngomong berapa lama lagi ceritanya usai? Ice cream-ku sebentar lagi habis. Apa aku perlu memesan lagi?”

“Tak perlu, sebentar lagi ceritanya selesai.”

“Tapi ngomong-ngomong benar kau sudah bersamanya selama 7 (tujuh) tahun? Tak lebih dan tak kurang?”

“Yup 7 (tujuh) tahun. Waktu yang cukup lama, ya?” Aku mengangkat bahuku, berusaha pasif agar dia menilai sendiri kejadian ini. Aku tak perlu ikut memberi pendapat karena dia sudah tahu apa pendapatku. Tanpa perlu mengatakannya, dia sudah paham bahwa aku tak setuju dengan kisah cintanya sejak dulu. Kadang membuat seseorang tersadar tak perlu dengan omelan atau nasihat berkepanjangan, jawab saja dengan diam. Dan buatlah dia berpikir sendiri mana yang baik dan mana yang buruk. Suatu saat hati kecilnya sendiri yang akan menuntun pada kebaikan. Dan kuyakin dia tidak akan bisa menolak keinginan hati kecilnya.

“Ups… Sabar-sabar. 7 (tujuh) tahun bukan waktu yang lama. Baru 7 (tujuh) tahun, belum puluhan tahun. Aku percaya dia akan memenuhi janjinya, aku hanya perlu bersabar kan? Sampai dia benar-benar mampu membuktikan semua yang dikatakannya. Aku tak akan ragu padanya. Karena katanya, ‘untuk apa bilang cinta bila tak saling percaya.’”

“Dia bialang begitu?”

“Iya.”

“Memang kamu mengatakan kamu mencintainya?”

“Tidak langsung seperti itu. Tapi aku menerimanya dan menunjukkan aku bahagia jalan bersamanya.”

“Jalan ke mana?”

“Itulah masalahnya, kami berjalan tanpa ada tujuannya.”

“Emmmm.. pantas saja.”

“Ah, aku mulai bosan hanya bisa berangan-angan. Tapi aku pun sudah bosan jika harus bertanya lagi kapan dia mampu memenuhi janjinya.”

“Nah kaaan, sudah kuduga… Kenapa bosan bertanya? Bukankah yang kamu butuhkan adalah kepastian?”

“Sebab aku tahu saat ini dia belum benar-benar mampu. Tapi dia bilang cinta, aku pun menerima cintanya. Padahal jelas-jelas aku tahu dia belum mampu dan kami sudah berjalan bersama selama 7 (tujuh) tahun. Dia mengatakan padaku ‘Sudahlah jalani saja,’ lalu aku menurut apa katanya.”

“Kamu mau tanggapan apa dariku?”

“Tak perlu, dengarkan saja.”

“Baiklah.”

“Dulu tak terpikirkan olehku bahwa aku akan berpikir seperti ini hari ini. Angan-angan itu, janji-janji manis itu apakah tidak sayang jika aku tinggalkan begitu saja? Seperti inikah rasanya lelah dalam posisi diam. Diam-diam mengharpakan sesuatu yang tak tahu kapan akan terjadi, diam-diam mendambakan sesuatu yang tak jelas juntrungannya.”

“Diam-diam kamu lelah karena raga tak digunakan untuk berjalan pada satu tujuan yang pasti. Tubuhmu terasa pegal karena terlalu lama duduk hanya untuk menanti sebuah harapan?”

“Yap. Begitulah.”

“Selama 7 (tujuh) tahun dia terus menawarkan angan-angan. Sial, kenapa aku baru berpikir tentang ini sekarang kawan?”

“Apa?”

“Iya. Meski sesungguhnya aku terlena dengan angan-angan yang kami buat bersama. Tetap saja aku adalah seorang wanita yang hidup di dunia nyata. Aku seorang wanita yang ingin menimang tubuh bayi Mungil dengan tanganku. Aku seorang anak yang diminta secepatnya memberi kebahagiaan kepada kedua orang tuaku dengan menghadirkan jagoan kecil atau putri cantik yang akan mereka panggil dengan sebutan cucu.”

“Sejak tadi aku tak mempengaruhimu apa pun, ya. Aku hanya mendengarkan. Kau sendiri yang mengubah pemikiranmu. Aku hanya bersyukur kamu masih waras kawan. Lalu apa rencanamu?”

“Minta kepastian.”

“Kalau dia tak sanggup memberi kepastian?”

“Ya, tinggalkan. Kau mau sahabatmu tua hanya bersama angan-angan?”

“Lucu juga.”  Dia menoneh ke arahku dan menjejalkan semua ice cream ke dalam mulutku.

Begitu akhir ceritaku di bangku taman, adakah dari kalian merasakan hal yang sama? Begini:

Hai wanita, bagaimana jika kusarankan padamu untuk jangan terlalu percaya pada janji manusia, percaya pada janji Tuhan saja.

Dan kau laki-laki, maafkan aku harus mengatakan, sebaikanya kamu katakan janjimu dalam hati saja. Berjanjilah pada diri sendiri, biar Tuhan yang mencatatnya. hidupmu akan lebih tenang karena tak ada satu pun manusia yang terus-terusan menangih janji padamu kecuali dirimu sendiri, yang ketika tak terpenuhi kamu tidak akan merugikan siapapun kecuali dirimu sendiri.

Hidup adalah kenyataan yang harus kita jalani dengan sebaik-baiknya cara, bukan sekedar angan-angan yang kita biarkan tanpa upaya dan dengan sok pasrah kita katakan “sudahlah jalani saja.”

Jika tak mau saling melepaskan, coba katakan satu kepastian. Bukan impian, bukan harapan, bukan alasan. Satu kepastian, coba katakan. Sanggup kah?

Jika tak mau memberi kepastian. Bagaimana jika aku beri saran padamu untuk terluka hari ini saja dan nikamati kehidupan lebih baik di masa yang akan datang.

Tiba-tiba Sahabatku mengirim pesan singkat ke poselku.

“Lalu, bagaimana dengan angka 7 (tujuh) yang sudah kami lewati bersama?”

“Apa? Kamu masih peduli dengan waktu 7 (tujuh) tahun yang sudah lalu? Kamu tidak peduli dengan puluhan tahun yang akan datang? atau kamu tak juga peduli pada masa lain yang tak lagi bisa kamu perbaiki, seperti mati contohnya.”

Dia tak membalas. Semoga dia memang benar-benar sudah mengerti.

Jakarta ~ 10/10/14

Leave a Reply