Ego

“Tante, kehidupan berumah tangga itu seperti apa sih?”

Tante tersenyum simpul.

Astaga, aku menyesal bertanya pada seorang yang tak utuh kehidupan berumah tangganya.

Sambil tersenyum ia mengatakan dengan lemah. “Setiap orang punya jalan hidup berbeda.”

Di perjalanan santai kami sore itu aku langsung menggaet lengan tante. Dan mengelus lengannya sebagai tanda permohonan maafku karena telah mengungkit masa lalunya. Sambil meluruskan kembali pertanyaanku.

“Maksud aku, apa yang harus kita persiapkan untuk menghadapi kehidupan berumah tangga, tan?”

Tante tersenyum menatap mataku yang sejak tadi merangkul lengannya.

“Dulu, saat tante masih berumah tangga. Saat tante masih bersama suami tante dulu. Selalu ada perasaan bahwa apa yang tante lakukan adalah suatu yang paling benar.”

Aku masih tetap diam mendengarkan.

“Tapi, setelah tante pisah, pola pikir tante berubah. Tante sadar kalau sesukses apapun seorang wanita di luar, seaktif apapun kita di masyarakat. Tugas kita sebagai seorang istri adalah membahagiakan suami, mengurus anak, menjaga rumah, menjaga kehormatan diri dan suami.”

Aku masih terdiam.

“Jadi yang harus kamu persiapkan sekarang adalah. Siapin mental kita, belajar untuk menurunkan ego kita, belajar untuk terus melembutkan hati kita.”

Perbincanganpun selesai, karena kami harus segera berpisah di  persimpangan jalan.

Namun kepalaku tak berhenti memikirkan obrolanku dengannya.

First thing First is. . .

Dekat dengan Allah

Setiap orang memiliki hidup berumah tangga yang berbeda.

Kita nggak pernah tahu apa yang akan kita alami di kemudian hari, maka persiapkan mental kita.

Belajar untuk menurunkan ego, karena hidup berumah tangga itu bukan hanya hidup kita, tapi ada suami dan anak-anak kita, orang tua, mertua, dan keluarga lainnya. Ada kewajiban yang hadiahnya surga ketika kita mampu membahagiakan semuanya. Dan ada balasan siksa dari-Nya ketika kita mengecewakan suami dan orang-orang yang menyayangi kita.

Ego akan turun ketika hati kita lembut, dan kelembutan hati datang dari seberapa dekat kita kepada Sang Pemilik Hati. Yang Maha Membolak-balikan hati.

Barangkali sebesar apapun ujian ego mendera batin seorang istri. Dengan dekat pada-Nya, Allah akan memampukan kita untuk meredam ego. Dan lebih memilih untuk mencari keberkahan dengan mencari ridha suami.

Gitu bukan tante? Eh lupa, tantenya kan udah nggak ada.

Dan pelajaran lain bagiku hari ini adalah.

Kita akan merasakan betapa berartinya seseorang setelah orang itu sudah tidak lagi di samping kita. Penyesalan tak pernah datang di awal.

Tetapi Allah selalu memberikan kita ilham dari kejadian atau cerita yang ada di sekitar kita. Dan dari situlah kita bisa menghindari lubang agar tak jatuh di tempat yang sama.

Bismillahi. . .

Leave a Reply