Harus Dikejar Anjing Dulu Baru Berani Makan

Aku dan kak Numei adalah pelancong yang begitu patuh pada aturan semenyulitkan apapun itu. Meski harus kelaparan, kami akan lebih memilih lapar dari pada harus diomelin orang. Meski kami sadar rasa lapar sudah kami tahan sejak kemarin malam.

Sejak masih di bandara KLIA untuk menunggu pesawat yang akan memberangkatkan kami ke Phnom Phen Air Port, kami membeli nasi di KFC agar tidak perlu membeli makanan di Phnom Phen karena katanya makanan di sana mahal-mahal. Malamnya sebelum tidur di bandara kami ke KFC untuk beli nasi doang, karena ibu-ibu tercinta membekali kami lauk. Jadi untuk ngirit kami membeli nasi saja.

Hampir semalaman nasi itu ada di tasku agar bisa dimakan untuk kami sarapan di Phnom Phen. Namun sesampainya di bandara Phnom Phen kami bergegas memesan tuk-tuk seharga 9 USD untuk di antar ke tempat pool pemesanan tiket bis ke siem Reap. Lagi pula bandara Phnom Phen begitu kecil dan aku tak menemukan ada tempat yang nyaman untuk kami makan. Sehingga ketika kami berhasil mendapatkan tuk-tuk, kami langsung ke pool bis untuk membeli tiket seharga @12USD x 2= 24 USD.

Kalau tidak salah kami menunggu di pool bis sampai akhirnya bis berangkat itu kurang lebih satu jam. Awalnya kami ingin makan di sana. Cuma biasa karena pelancong ini baru pertama kali ke sana, jadi agak ragu.

Wini: “Kita makan di sini aja yuk sambil nunggu.”

Numei: “Yuk deh.”

Baru mau duduk, bahkan nasipun belum kami keluarkan dari tas. Kemudian ada bis besar tiba di hadapan kami.

“Kak, jangan-jangan itu mobilnya?”

“Kita makannya di bis aja kali ya. Gue agan insecure sih ni.”

“Yaudah deh, gue ngeri sih.” Saat itu jam menunjukan pukul 09.00 pagi.

Namun saat kami bertanya pada kenek bus dengan menunjukan tiket bis yang sudah kami beli, dia mengatakan bis tersebut bukan bis yang akan membawa kami. Akhirnya kami pun bersabar menunggu, sampai pada akhirnya ada seorang perempuan muda menegur kami. Dia mengatakan dengan bahasa isyarat kalau tujuan dia sama dengan tujuan kami.

Beberapa saat kami mengajak dia berbicara dengan bahasa inggris, dia mengerti maksud kami. Tapi dia tidak bisa menjawab dengan bahasa inggris, dia terus menjelaskan letak hostel kami dengan bahasanya dia sendiri. Obrolan terus belanjut tapi kami tidak faham sedikitpun apa yang dia omongin. Sampai aku menyerah dan bertanya kepadanya sambil menunjuk maps. “Di sini tuh rumah kamu?” Dia jawab “Yes, yes.” Terus aku makin nyerah dan bertanya lagi. “Ari eneng bade ka mana?” Aku dan kak numei tertawa atas menertawakan hal itu, dia pun manggut-manggut ikut ketawa. Haduuuuh diketawain dia ikut ketawa.

Satu jam kami menunggu, bis yang kami tunggupun tiba. Perempuan muda itu menunjuk ke arah bis memberitahu bahwa bis sudah sampai. Kami pun menaruh tas ransel kami di bagasi. Dan sedikit kaget melihat bagasi yang begitu besar sampai motopun bisa masuk di dalamnya. Kami tercengang melihat motor bebek itu di angkat dan ditidurin di bagasi. Tapi yasudahlah, tak banyak pikir kamipun langsung masuk ke dalam dan duduk sesuai dengan nomor yang ada di tiket.

Beberapa menit setelah bis jalan. Perut yang lapar sudah merindukan sentuhan nasi.

Numei: “Takislah win, yuk!”

Wini: “Ayok.”

Saat kami sedang buka-buka nasi dan lauk, abang kenek bis menghampiri kami dan berkata. “No no.”

“Kruyuk… Kruyuk.” Suara perut pun berbunyi.

Ternyata kami harus bersabar lagi untuk menahan lapar.

Numei: “Yaudah kita makan di rest area aja.”

Perjalanan terasa begitu lama, kami pun tidak tahu kapan kami bisa sampai di rest area. Satu jam, dua jam, waktu terus berlalu. Jarum jam menunjukan pukul 12 siang tapi kita belum juga sampai di rest area. Sampai akhirnya kami memilih tidur untuk melupakan rasa lapar.

Sesampainya di rest area, kak numei memintaku membeli nanas agar kami bisa makan di kursi yang tersedia. Rest area di sini tidak seperti di jalan tol. Karena perjalanan kami melewati perkampungan biasa dengan segala kekhasan budaya orang-orang lokal di sana.

Cuaca hari itu begitu terik dan tanah yang kami pijak juga sangat berdebu. Toilet yang ada di sana sedikit kumuh, dan tempat duduk kami pun begitu berdebu. Namun kondisi itu tidak masalah selagi kami masih bisa makan tanpa perlu dilarang oleh kenek bus berbaju pink tadi.

Saat aku membeli nanas, Kak Numei sudah makan beberapa suap. Namun setelah aku selesai membeli buah aku bergegas membuka makananku. Tak lama kak Numei teriak.

Numei: “Aaaaak anjingnya nyamperin ke sini. Dia mau minta makanan kita.”

“Kruyuk,, kruyuk.” Terdengat lagi suara perutku yang lapar.

“Tutup-tutup makanannya.” Ucapku pasrah. “Atau kasih aja ke anjingnya?” Lanjutku lagi. Aku lupa akupun lapar.

Numei: “Jangan, dia cuma mancing doang. Dia nggak akan ngerebut.” Karena makananku belum kubuka sama sekali, kak Numei pun berkata. “Lo makan dulu nih yang ini.” Kak Numei menyuapiku dengan makanannya yang masih terbuka sambil ketakutan karena angjing semakin agresif mendekati kami. (Yaelaaah, dideketinnya sama anjing yak).

Wini: “Udah kak, gue makan nanas aja.”

Numei: “Ini dulu sesuap lagi. Nanas masih bisa dimakan di mobil. Kalo nasi tadi kan nggak boleh.”

Semakin kak Numei mencoba makan sambil menyuapiku dengan makanannya. Anjing semakin rese mendekati kami, dia mengangkan kaki depannya ke meja. Menghamipiriku lewat kolong meja. Berbalik lagi agar berhadapan dengan wajahku. Terus begitu sampai bis kami pun jalan sebelum kami menyelesaikan makan pagi & siang kami.

Kami bergegas meninggalkan anjing dan naik ke bis.

“Kruyuk,, kruyuk.” Aku pasrah mau makan di manapun.

Numei: “Win, lo makan sekarang pelan-pelan. Ambil nasi dari pinggir biar nggak keliatan.”

Wini: “Oh gitu, oke.” Aku pun setuju. Hingga akhirnya kami berhasil menghabiskan nasi kami tanpa ketahuan.

Numei: “Kita emang harus dikejar anjing dulu biar berani.”

Aku tertawa tanda setuju. Yup biar berani, minimal untuk memperjuangkan perut sendiri. Semoga nanti kami berani dan mampu untuk memperjuangkan perut orang lain juga. #Halah

 

Leave a Reply