Jika Istrimu Seorang Layouter Buku

Layouter, apa kau tahu profesi ini? Belakangan ini namanya sudah berubah menjadi book designer. Ah, bukan ini yang ingin kubahas. Sungguh aku hanya ingin bercerita mengenai profesiku sebagai layouter atau penata letak buku.

Tak banyak yang tahu tentang profesi istrimu ini. Tak banyak pula yang tahu apa yang istrimu kerjakan di kantornya. Mungkin hanya segelintir orang saja yang memang para praktisi penerbitan yang mengerti apa yang istrimu kerjakan di kantornya. Tak apa, dia tak pernah mempermasalahkan itu.

Mungkin banyak yang menganggap ini pekerjaan remeh, profesi biasa dengan standar gaji yang juga biasa. Tak apa, dia tidak pernah merasa menyesal telah memilih pekerjaan ini. Karena inilah dunianya, dunia perbukuan yang akan meningkatkan kualitas pengetahuan anak bangsa. Tak apa, meski telah mengabdi bertahun-tahun di salah satu penerbit. Bekerja sejak matahari terbit dan pulang menjelang maghrib. Tapi namanya tak pernah dikenal oleh pembaca, namanya kadang tercantum kadang juga tidak dalam buku yang dikerjakannya. Taka apa, karena bukan ketenaranlah yang menjadi tujuannya bekerja.

Kesehariannya hanya dihabiskan dengan tata letak naskah. Membuat naskah mentah menjadi lebih nyaman dibaca. Dan itulah bahagianya.

Apakah pernah ia bepergian jauh untuk urusan pekerjaan, meninggalkan kantor untuk bertemu klient, atau bertemu pengusaha yang akan memperluas jaringannya? Tidak, tidak seperti itu pekerjaan istrimu. Dia memang setiap hari keluar rumah, tapi yang dihadapinya hanyalah buku, naskah, komputer, editor, dan teman sesama desainer. Mungkin pekerjaan yang hanya berhubungan dengan komputer dan naskah mentah, tidak membuatnya banyak mengenal dunia luar. Tapi, tak apa itulah bahagianya.

Tak ada yang bisa dibanggakan dari dirinya –menurutnya . Namun ketahuilah, dia bahagia meski tidak dipandang hebat oleh orang-orang diluar sana. Dia tetap bahagia meski tidak mengenal para pejabat penting atau pengusaha kaya. Dia bangga meski tidak banyak orang yang menganggap penting pekerjaannya. Dia bangga meski waktunya hanya dihabiskan berdua saja dengan komputernya. Kau tahu, apa kebanggaan terbesarnya? Kebanggaan terbesarnya adalah karena dia bisa menjaga dirinya untukmu, menjaga batasan antara laki-laki dan perempuan, yang mungkin saja akan memunculkan kecemburuanmu terhadapnya jika dia terlalu banyak berkomunikasi dengan lelaki selain kamu.

Kau tahu, dia tidak punya banyak waktu untuk bercengkrama atau bertukar pikiran dengan orang lain, kecuali dengan editor yang juga hanya soal urusan pekerjaan. Karena ketelitianlah yang diutamakan dalam pekerjaannya. Komputer, naskah, dan bukulah yang menjadi temannya seharian. Percayalah, dia bahagia menjalani kehidupannya, karena lingkungan kerja mendukung isterimu untuk menjaga kesetiannya terhadapmu.

Meskipun dia harus bekerja sejak pagi hingga petang. Percayalah bahwa dia sedang berusaha untuk dapat membagi waktunya denganmu. Memang tak banyak kue yang dibuatnya dirumah, kue yang akan ia suguhkan untukmu sepulangnya kau bekerja. Tapi percayalah bahwa secangir teh di pagi hari dan segelas susu di malam hari yang disediakan untukmu itu dibuat dengan penuh ketulusan dan harapan kau akan bahagia meneguk teh dan susu buatannya saat masih hangat.

Dihadapan komputernya, yang ada dipikirnanya hanyalah kau dan anak-anakmu. Menjelang istirahat makan siang, yang ada dipikirnnya adalah anak kalian. Dia ingin sekali bisa menyuruh anak kecilnya tidur siang, meninabobokan atau mengajarinya membaca doa sebelum tidur. Sore hari ketika ia mengambil wudhu menjelang shalat asar, pikirannya melayang lagi pada anak kalian. Benaknya berkata, “ingin sekali rasanya menyuapi anakku di sore hari seperti ibu-ibu di kompleksnya.”

Pada beberapa kesempatan dia bisa terlihat sangat menikmati dunianya, namun di awal tahun ajaran baru, atau akhir tahun. Kesibukannya bertambah, bukan hal yang tidak mungkin hari liburnya tersita oleh deadline pekerjaan yang harus segera ia selesaikan. Yang perlu kau lakukan adalah hanya mendukung dan memakluminya. Karena itu juga kewajiban yang harus ia tunaikan. Bahwa buku-buku yang sering kau baca, tidak akan nyaman dibaca tanpa peran profesi istrimu. Bahwa gambar yang ada pada buku-buku anakmu bisa terlihat menarik, itu juga berkat profesi isterimu. Teks-teks itu akan menjadi biasa tanpa sentuhan isterimu. Dia tak butuh dikenal banyak orang, dia hanya ingin kaulah suaminya yang akan menjadi satu-satunnya orang yang sangat mengenal segala hal tentangnya. (sekian)

Komentar penulis setelah membaca ulang tulisannya:

Absurd absurd. Kenapa gue bisa nulis kaya gini dulu? Tulisan yang nggak pernah berani gue kirim saat gerakan menulis cerita profesi ini berlangsung. Tulisan ini adalah refleksi saat gue sangat bosan dengan pekerjaan ini. Gue ceritakan hal sebaliknya, hanya untuk menikmati hidup yang sedang dijalani saat itu. Terus bahagia, karena kebahagiaan hati kita bisa atur dengan berpikir positif.

Sesulit apapun hari ini, ini akan lewat seiring berjalannya waktu. Dan setiap hari akan selalu ada pengganti yang lebih baik. Bukan hanya soal pekerjaan, tapi hal lainnya dalam hidup yang membuat kita sedih dan resah hari ini. Dan hari ini, nikamati apa yang sedang dijalani saat ini sebelum Allah takdirkan kita bertemu dengan hari esok yang akan menggantikan hari ini.

Depok 04 Oktober 2016

Leave a Reply