Jika Percaya, Maka Niscaya

3 Agustus 2015

Kami mulai beraksi untuk membuat sebuah rencana jalan-jalan bareng. Yaitu ke acara ILM: SCIENCE, RELIGION AND ART IN ISLAM di Malaysia. Kita yang nggak faham soal bisnis ini, dikasih pelajaran berharga oleh suhu-suhu yang sudah punya experience dalam dunia bisnis. Kami belajar tentang: Impian nyata, reasons, reset produk, logika bisnis, project management sederhana, budgeting plan sederhana, flow online bisnis, dan CS strategi.

Ini kita lakukan untuk membuktikan bahwa dalam waktu satu bulan, kita bisa dapet uang untuk mewujudkan mimpi kecil kita. Yaitu pergi ke Malaysia untuk dateng ke acara Ilm bareng-bareng.

9 Agustus 2015

Waktu terus berjalan, dan kita masih memegang mimpi itu. Aku masih menjadi CS untuk sebuah produk kesehatan. meski di tanggal 9 Agustus ini adalah jadwal outing karyawan Afrakids pusat.

Dalam acara ini, kami dapat banyak pelajaran tentang kebersamaan, tentang nilai Care and Share yang harus kita terapkan mulai dari “tubuh” kita dulu, baru ke luar.

Dan pada hari ini juga, ada satu pesan dari abang kami yang tertanam kuat di hati saya. Hari itu, sebagai CEO, mas Hisyam berkata kepada kami banyak hal, dan sampailah pada satu kalimat, yang sampai sekarang masih selalu saya ingat. Begini kalimatnya:

“Gue denger anak digital mau pada ke Malaysia.”

“insyaa Allah, mas.”

“Pesen gue buat lo semua, (jeda sebentar, lalu dia menatap kami satu per satu yang sedang duduk bersila di hadapannya). Kalo lo yakin berangkat, lo pasti berangkat.”

Aku mengangguk mantap. Bagai bius, kalimat itu terdengar begitu kuat menancap dalam benak. Aku memilih patuh karena tak ada alasan lain untuk mengelak.

Namun, apa yang terjadi dengan rencana ke Malaysia bareng?

Yang terjadi adalah, satu bulan bukan hal yang mudah untuk mengumpulkan uang sekian puluh juta untuk dapat pergi bersama. Dan akhirnya hanya bang Mola dan bang BOD yang pergi ke sana untuk kepentingan riset juga mencari benchmark bagi movement kami ke depan.

Dari sekian banyak anak digital yang terjun dalam bisnis 1 bulan itu. Hanya 1 orang yang memutuskan menyusul bang Mola dan para BOD ke Malaysia. Yaitu kak dika, dia memutuskan pergi dengan biaya sendiri. Sedangkan kami hanya terpaku pada uang yang akan kami dapat dari hasil jualan saja. Dan lupa bahwa sebenernya kita bisa beli tiket sendiri dengan uang yang kita miliki.

Yup, kami melewatkan moment berharga acara keren itu. Karena kami terlalu membatasi diri.

Ramadhan 2016

Rencana untuk pergi ke luar negeri, di mana pun itu, tetap ada. Bang Mola dan abang-abang yang lain sudah membicarakan ini dan mengompori kami untuk mau pergi ke mana pun yang dirasa kami butuh ke sana untuk upgrade diri.

“Sekarang setiap divisi rembuk sama divisinya masing-masing. Kalian butuh apa dan harus pergi ke negara mana. Kalian udah gede, harusnya kalian udah tau apa yang paling kalian butuhkan.” Ucap bang Mola di ruang rapat.

Sedang tim konten sudah fix, bahwa kami harus ikut ke acara TDR (The Daily Remainder Conference 2016) di Malaysia yang dilaksanakan pada tanggal 6 & 7 Agustus 2016.

Ramadhan tahun ini, aku sudah benar-benar ingin pergi. Aku harus pergi mencari pelajaran baru di tanah lain. Aku begitu yakin bahwa aku akan pergi. Aku percaya.

Percaya kalau habis bulan Ramadhan, pasti ada hari Raya Idul Fitri. You know lah, kalau ada Hari Raya berarti ada Tanggungan Hari Raya.  😄

Dan aku berencana menyimpan uang itu. Karena akan aku pakai untuk biaya hidupku selama tinggal di Malaysia nanti. Aku begitu percaya diri.

Tapi nyatanya, saat sedang menahan lapar karena puasa. Adikku mengirimkan pesan di Whatsapp.

“Teh, aku keterima di kampus bla bla bla. Terus harus bayar uang semester pertama paling lambat hari jum’at.”

“Berapa?”

“Sekian.”

Masyaa Allah jumlahnya sama persis dengan jumlah tabunganku. 😄

“Insyaa Allah, ada. Nanti ditransfer, ya.”

Cring, dalam sekejap uang itu pun hilang.

Aku tertawa-tawa sendiri dan bergumam dalam hati. “Apa yang terlihat seperti milik kita, ternyata bukan rezeki kita.” 😄

Tidak ada sesal karena aku merasa uang itu lebih berguna. Meski pada akhirnya bukan untuk pergi ke Malaysia. 😅

Bismillah lah, masih punya Allah. “Kalo lo yakin berangkat, lo pasti berangkat.” Kalimat itu muncul kembali di pikiranku.

Mungkin aku akan mendapatkan uang dari cara lain. “Ah jualan aja kalo gitu. Masih ada produk Halal Kosmetik.” Pikirku. Tapi harapan selalu tidak berbanding lurus dengan kenyataan. Karena tidak bisa fokus, pendapatan dari jualan kosmetik pun tak dapat menggantikan tabunganku.

Ketika teman konten lain sedang membicarakan rencana ke Malaysia, bicara soal biaya ini dan itu. Aku manggut-manggut mantap, meski tak tahu uang yang kumiliki saat ini cukup atau tidak untuk hidup di sana.

“Bismillah aja, masih punya Allah.” Pikirku.
Hari demi hari terus berganti. Rencana untuk pergi makin tersingkir bahkan di divisi kami sendiri. Kini bukan lagi soal uang, tapi lebih kepada tanggung jawab kami terhadap perkerjaan di kantor.

Sebab beberapa minggu sebelum acara TDR akan dilangsungkan, ada masalah yang harus kami percahkan bersama. Bahkan beberapa dari kami sampai harus meeting hingga pukul 2 pagi.

Aku yang biasa pulang ke rumah, jadi lebih sering menginap di asrama putri Afrakids. Karena meeting selalu selesai paling cepat pukul 11 malam. Oh iya, meeting ini hanya berlaku untuk pria, anak muda, perempuan single yang strong. Tidak berlaku untuk anak kecil, orang tua, dan ibu hamil. kaya perang 😄

Kondisi ini membuatku semakin menyerah dengan keinginan untuk ikut acara TDR kedua ini. Rasanya ketidakmungkinan semakin banyak bermunculan. “gimana caranya ke sana? Tiket pesawat aja belum dipesen, tiket acara juga belum kita booking. Di sana mau tinggal di mana aja belum tau, nggak sempet mikirin itu. Padahal acara TDR tinggal beberapa hari lagi. Belum lagi kerjaan yang sekarang, begitu harus cepat selesai. Mana mungkin bisa pergi bulan ini.” Keluhku.

 

6 Agustus 2016

Hari itu aku bersama beberapa teman dari genk asrama Putri pulang takziah dari rumah ayah mas Yosi.

Di tengah jalan aku melihat hp-ku. Sejak pagi sampai siang ada telephone masuk dari bang Mola, tapi aku tak pernah berhasil mengangkatnya.

“Ada apa ya?” Tanyaku dalam hati. Tapi Yasudah, tak ada sedikit pun aku berprasangka sesuatu. Kalau memang ini penting, pasti bang Mola telephone lagi.

Benar saja bang Mola telephone lagi.

“Win, lo bisa bahasa Inggris nggak?”

“Hahaha, enggak. Upi nih upi jago. Mau ngomong sama upi?”

“Yeee bukan. Gini, Acara TDR itu kan udah mulai hari ini. Nanti kita ikut acara hari keduanya. Sekarang lo siapin baju untuk 2 hari. Siapin passport sekarang. Kita berangkat ke Malaysia kalo nggak sore kita malam berangkatnya. Kirimin foto KTP juga, ya. Gue mau pesen tiket.”

“Hah?”

“Sekarang foto KTP-nya yak!”

“Iya bang Iya.” Aku masih bingung dalam syukur.

Kejadian hari itu begitu terjadi cepat, dan kami berlima pun terbang. ✈✈✈✈✈

 

Nantikan Kelanjutan Ceritanya… Sebab keseruan perjalanan masih belum selesai.

Leave a Reply