Kajian Imam Al Gazali

Suatu hari gue ikut lagi kajian sejarah pemikiran islam. Banyak yang ustadz Alwi paparkan sebernernya. Tapi kepala gue kan nggak bisa menyerap semuanya, ya. Jadi ya cuma cerita tentang krisis spiritual Imam Al-Ghazali aj yang akhirnya mau gue bahas sekang.

Pada tahun 1095, Imam Al-Ghazali mengalami krisis spiritual, pada saat itu dia sedang menjadi rektor di Nizamiyah. Posisi elit di zamannya.

Bersamaan dengan itu, dia merasa resah dan mencoba mencari the truth, kemudian ia mencari ke 4 kelompok.

Apa aja 4 kelompoknya?

1. Filsafat
2. ‎Batiniyah
3. ‎Kalam
4. ‎Tasawuf

Poin satu dan dua bukan pilihan baginya karena dirasa banyak pemikiran yang menyimpang. Kalau poin ketiga yaitu kalam menurutnya memang bagus tapi tetap tidak mencapai kepuasannya, karena ilmunya pakai rasio. dan terakhir pada kelompok tasawuflah akhirnya imam Al-Ghazali mempelajarinya dengan cepat, dan tasawuf ini dia melihat nggak cuma ilmu tapi ada amaliyah.

Setelah mempelajari tasawuf, ia berkaca pada diri sendiri, ia membaca motive apa yang ada dalam dirinya saat itu sehingga membuatnya resah?

Ternyata dia menyadari bahwa hidup yang ia jalani saat itu niatnya bukan karena Allah. Tapi karena ada hasrat ingin dapet posisi yang berpengaruh dan pengakuan publik. Dia bilang, “Saya merasa sedang berdiri di tanah pasir di tepi jurang yang sewaktu-waktu saya bisa terjatuh.”

Selama 6 bulan dia merasa gelisah, dan seperti ada tarik-menarik antara harsat duniawi dan niat karena Allah.

Suatu hari saat ia mengajar, dia sama sekali tidak bisa bicara, kemudian jatuh sakit. Dokter pada saat itu pun tidak bisa mengetahui penyakitnya, ia hanya bilang masalahnya ada pada hati Imam Al-Ghazali sendiri.

Kalau dia sampai sakit, itu pasti kan karena ia menganggap it’s very seriously problem.

Sampai akhirnya dia melepaskan jabatan rektor itu karena dia merasa niat dia bukan karena Allah. Dia tidak mau menjadi orang yang sombong atau haus akan kedudukan dan pengakuan orang. Dia hanya ingin ketenangan yang datangnya dari Allah.

Setelah mengundurkan diri ia pergi uzlah ke damaskus selama 2 tahun. Di sana ia melakukan riyadoh jiwa. Pada masa itu, dia benar-benar menghancurkan egonya.

Dan dia sering dengan diam-diam membersihan wc di sebuah masjid malam hari hanya untuk merendahkan dirinya, bahwa dia ingin merasa dia sama seperti yang lainnya, dia juga hanya orang biasa.

Meski pun di zaman itu dia adalah seorang alim yang namanya dikenal ke berbagai pelosok negeri saking tersebarnya murid-murid yang belajar di Nizamiyah. (Rektor Nizamiyah gitu loooh, masa nyikat wc?). Tapi itulah kesungguhan Imam Al-Ghazali dalam menghancurkan egonya. Masyaa Allah. 😢

Setelah pergi ke damaskus, dia pergi ke Al-quds, kemudian ke mekah untuk haji, dan kembali ke Tus negeri kelahirannya. Karya-karyanya sangat diwarnai dengan tasawuf, karya yang paling menonjol adalah Ihya Ulumudin.

Ia mengajar di madrasah dan kemudian meninggal di Tus tempat kelahirannya.

Dari sini kita bisa mengambil pelajaran bahwa, kemenangan batin itu perbaikannya ada di internal, bukan respon ke luar. Karena sebenernya kita harus faham bahwa di dalam diri kita itu ada banyak masalah.

Saat ada masalah dengan siapapun, yang paling mudah adalah mengubah diri sendiri dari pada mengubah orang lain. Karena kita sangat bisa mangatur diri kita, dan kita nggak ada kuasa untuk mengatur orang lain.

Kadang, instead of lo mengkritik atau berusaha mengubah sesuatu yang ada di eksternal, lebih baik kita memperbaiki diri sendiri dan mengoreksi hati, itu jauh lebih berpengaruh loh ke kedamaian batin.

Ketika kita merindukan kedamaian, maka yang paling mudah adalah menata hati sendiri agar lebih dekat dengan Allah. Berdamai dengan diri sendiri dan berjuang mengejar apa yang Allah ridhai, dan menjauhi apa yang tidak Allah sukai. Meskipun pada akhirnya selalu ada yang kita korbankan untuk mencapai kemenangan batin ini.

Leave a Reply