Kamu yang Ingin Menjadi Gelombang

(Menggebu-gebu kamu mengajak yang lain untuk menjadi gelombang). “jika kita ingin sukses dan ingin dikenal banyak orang, jadilah orang aneh sekalian. Kalau mau baik, baik sekalian. Kalo mau jahat, jahat sekalian. Jangan setengah-setengah.” (Kamu bilang).

Aku terdiam, tidak mengangguk, tidak juga menggelengkan kepala. Aku hanya diam sambil terus mendengarkan.

“Kamu pernah lihat kan orang dengan kejahatannya yang terlalu, dia kemudian terkenal di TV setelah mencuri banyak sekali uang negara. Namanya disiarkan di mana-mana, kejahatannya dikenal di seluruh pelosok negeri bahkan manca negara. Beda dengan pencuri sandal atau pencuri ayam di kandang orang. Sudah yang didapat sedikit, kalau ketangkap basah dia jadi bulan-bulanan warga, ditinju sampai ditendang. Dia dikenal? Tidak.” (Kamu jawab sendiri sambil menggelengkan kepala)

“Bahkan kasusnya berlalu begitu saja, tanpa seorang pun yang tahu siapa namanya kecuali warga sekitar yang memanggilnya dengan sebutan, ‘si pencuri ayam tempo hari.'” (Ujarmu memengaruhi semua mata yang menatap serius ke arahmu).

Aku tetap diam mendengarkan. Tidak mengangguk, tidak juga menggelengkan kepala.

(Masih dengan menggebu kamu bicara pada yang lain untuk menjadi orang aneh sekalian). “Tak apa menjadi satu-satunya manusia yang tidak sama dengan orang lain. Toh dulu, Rasulullah pun juga menjadi orang yang dibenci banyak orang kan? Dibenci karena menjadi satu-satunya orang yang menyuarakan kebanaran. Dimusuhi hingga dilempari kotoran hanya karena ia berbeda dari yang lain. Kalau mau jadi baik, berusahalah untuk menjadi baik sekalian.” (Ucapmu menyakinkan).

Yang lain mulai termakan kata-katamu. Dan aku masih saja terdiam, tidak mengangguk, tidak juga menggeleng kepala. Aku tetap diam dan dengan baik-baik mendengarkan.

(Karena aku tak menunjukan sedikirpun respon atas kata-katamu, matamu berpaling pada mata yang lain yang sejak tadi antusias mendengarkanmu). “Jadilah gelombang yang akan menggoyangkan lautan. Buatlah goncangan kuat agar semua orang tahu keberadaanmu. Buatlah karya yang bagus sekalian, sampai orang menoleh dan menyukai karya-karyamu.” (Ucapmu bersemangat).

Aku tetap diam. Tidak mengangguk, tidak juga menggeleng kepala. Aku hanya beringsut sedikit lebih dekat ke arah suaramu. Agar suaramu terdengar lebih jelas.

(Kamu tersenyum dan menatap mantap kepada semua mata  di sekitar yang sejak tadi duduk bersamamu membuat lingkaran di selasar sebuah bangunan masjid. Mereka yang kini mulai termakan kata-katamu samakin setuju mengangguk yakin terhadap apa yang kamu ucapkan).

Aku? Aku Masih diam, tidak mengangguk, tidak juga menggelengkan kepala. Aku pergi meninggalkan lingkaran, dan besuara melalui tulisan. “Aku tidak ingin menjadi gelombang. Kamu saja yang jadi gelombang. Kamu saja yang bertempur di lautan bebas. Biarkan aku menjadi riak-riak di pantai yang akan memberi ketenangan. Kamu, yang bersemangat sekali ingin menjadi gelombang, tetap membutuhkan ketenangan bukan?”

Leave a Reply