Memangnya Kenapa Jika Aku Anak Tengah?

Menjadi anak tengah itu tidak enak. Merasa asing di rumah, merasa tak memiliki posisi apa-apa. Yang tertua bukan, menjadi yang termuda juga bukan. Bukan menjadi anak yang selalu mendapat kepercayaan seperti si sulung, bukan juga menjadi anak yang selalu menjadi pusat perhatian seperti si bungsu.

Middle child

Dulu, di usia kanak-kanakku, aku memilik dua orang kakak dan dua orang adik. Posisiku tepat berada di tengah-tengah, jadilah aku anak tengah. Posisi yang pas sekali untuk membuatku merasa sendiri dan tidak memiliki teman. Terlebih ketika si sulung meledekku sambil berkata, “Hahaha …. Enggak punya teman. Aa sama Teh Empi, Doni pasangannya si Nina (bungsu), mama sama bapak, kamu sendiri enggak punya teman.”

Sempurna. Kalimat itu tertancap tepat di ulu hatiku. Meninggalkan perih di dadaku sebagai anak yang satu-satunya “enggak punya pasangan” di rumah selama bertahun-tahun. Anak yang tak jelas posisinya di keluarga. Anak yang tak memiliki pasangan untuk bermain. Hal itu tertanam kuat dalam hatiku. Sejak kalimat itu terucap, bertahun-tahun aku merasa tak ada yang menyayangiku. Kelakuanku yang menyebalkan dan cengeng membuat semua saudaraku tak mau mengajakku bermain. Mereka menghindariku, mengunci pintu kamar, dan meninggalkanku sendiri. Bagus. Semua dengan kompak menjauhiku dan membuatku benci menjadi anak tengah.

Seperti biasa, hari Minggu selalu menjadi hari yang menyenangkan untuk berdiam diri di rumah. Tidur-tiduran bersama saudara-saudaraku, kemudian menonton film serial kartun Dragon Ball. Usai menonton film, aku melihat kakak sulungku membuat jadwal pelajaran untuk ia tempel di depan meja belajarnya.

“Bikin apaan, A?” Aku menghampiri si sulung yang sedang tidur tengkurap sambil mencoret-coret buku tulisnya.

“Jadwal pelajaran,” jawabnya.

Serunya melihat ia menghias tulisan nama-nama hari di atas kertas.

“Ikutan, ah ….” Aku pun ikut-ikut mengambil buku tulis dan pensilku. Menyontek apa yang ia tulis.

“Ikut-ikutan aja,” ucapnya singkat.

“Biarin,” jawabku santai, meskipun sebenarnya agak sebal.

Setelah selesai, hasil buatanku tak sebagus hasil buatannya. Itu karena aku masih kelas satu SD, sedangkan dia sudah kelas lima SD. Jelas saja beda jauh, apalagi dia memang memiliki bakat menggambar yang cukup baik. Dia memiliki kemampuan yang diwarisi langsung dari ayahku.

“Apaan tuh tulisannya begitu. Mana ngikutin lagi hari Minggu-nya ditulis libur.”

Buk …. Aku meninju punggung kakak sulungku. Entah dia merasakan sakit atau tidak. Karena kesal dia terus meledekku, aku pun semakin kesal ingin terus mengejar dan melayangkan bogem mentah di wajahnya. Namun, dia terus menghindar. Akhirnya, aku menangis karena kesalku tak cukup tersalurkan jika hanya dengan satu tonjokan. Menyaksikan keributan itu, mama menghampiri kami untuk melerai dan memarahiku. Mama tak pernah membelaku. Mama justru lebih membela si sulung yang lebih dulu memancing emosiku. Aku semakin marah dan berpikir keras, kira-kira perbuatan jahat apa yang dapat membuat kakakku terzalimi.

Ting, dalam hal kejahatan, otakku selalu berjalan dengan baik. Mataku tertuju pada meja belajarnya yang sangat rapi. Dia laki-laki, tetapi dia begitu apik dan meja belajarnya selalu rapi seperti meja belajar perempuan. Orang yang rapi pasti tidak suka jika mejanya berantakan. Aku pun mengurungkan niatku untuk meninju wajahnya. Aku berlari ke arah meja belajarnya, kemudian melempar semua buku yang telah tersusun urut mulai dari yang paling tinggi sampai yang paling pendek. Lebih jahat lagi, aku merobek kertas jadwal pelajaran yang sedari tadi asyik dibuatnya dengan susah payah. Puas sudah perasaanku, terlebih ketika melihat wajah murung si sulung menyaksikan meja belajarnya seperti kapal pecah. Namun, rasa puas itu tak bertahan lama. Rasa puas itu hilang seketika saat mama mengatakan, “Udah biarin, A. Dia enggak usah ditemenin.” Seru mama sambil membantu si sulung merapikan buku-bukunya.

Tak ada yang menyayangiku, tak akan pernah ada yang mau membelaku. Siapa juga yang mau membela anak tengah yang cengeng dan pemarah sepertiku, termasuk mama dan ayahku. Di antara yang lain, sepertinya aku anak yang paling bermasalah. Semua orang di rumah pasti punya masalah denganku, seperti Teh Empi, anak kedua di rumahku. Dia selalu enggan mengajakku bermain karena menurutnya, aku biang rusuh dan cengeng. Aku sering pula menzaliminya dengan mengacak-acak lemari bajunya sebab setiap kali bertengkar dengannya, aku tak pernah dibela. Mama lebih membelanya. Ya sudahlah jika itu mau mama. Oleh karena itu, aku akan lebih sering menganiaya anak yang satu ini. Aku menerima nasib sebagai anak yang tidak dicintai di keluarga ini dengan syarat aku akan menjadi anak yang nakal.

Dengan adikku Doni pun begitu. Bertengkar dengannya sangat menguras tenaga. Dibandingkan si sulung dan si anak kedua, anak keempat ini memiliki tenaga yang kuat dan berani melawan keganasanku. Ketika aku melempar kepalanya dengan centong plastik, dia akan melemparku dengan centong besi. Ketika aku menjitak kepalnya, dia akan meninju perutku. Ketika aku mendorong tubuhnya hingga tersungkur, dia akan menarik lenganku, kemudian memutar tubuhku seperti baling-baling di film koboi. Hahaha, bertengkar dengannya cukup menantang karena dia berani membalas keganasanku, dia lebih ganas tepatnya. Tidak seperti si sulung yang hanya berani menghindar atau seperti Teh Empi yang kerapkali menangis jika aku menggigitnya.

Suatu hari, di rumah niniku di kampung, aku pernah bertengkar dengan adikku yang bernama Doni ini. Entah percakapan seperti apa yang membuatku berkelahi dengannya di pinggir empang. Aku yang sudah sekolah SD kelas dua melawan anak ingusan berusia 3 tahun kala itu. Jarak usia kami cukup jauh sehingga aku tidak tega jika harus benar-benar melukai anak yang tingginya hanya di bawah pundakku. Aku berpura-pura mendorong tubuhnya untuk sekadar membuatnya takut, kemudian berharap ia akan menangis. Sungguh aku benar-benar tak berniat menjatuhkannya ke dalam kolam. Namun, anak ini cukup cerdas dan kuakui tenaganya cukup kuat. Dengan sigap, dia memutar posisi tubuh kami dan posisi tubuhkulah yang kemudian berada di pinggir kolam. Dalam hitungan detik, byur …. Aku gelagapan di empang yang cukup dalam. Basah kuyup, kemudian ditertawakan oleh semua saudara sepupu yang menyaksikan kejadian itu. “Hahaha …. Kalah sama anak kecil.” Sialnya, batita bernama Doni itu tersenyum jumawa ke arahku.

Aku menangis karena perkelahian dengannya bukan sepenuhnya salahku. Si batita kala itu sedang dipengaruhi oleh sepupuku untuk meledekku dengan seorang anak laki-laki sebaya di kampung itu yang tidak aku sukai. Sebagai anak kecil yang pemarah, hal itu cukup memancing emosiku. Aku berpura-pura mendorongnya karena aku kesal akibat dia berani-beraninya mengejekku demi mendengarkan orang lain yang bukan kakaknya. Aku menangis karena mereka yang menertawakankulah penyebab emosi itu muncul. Doni adikku, tetapi mengapa dia mengajari adikku yang masih kecil untuk ikut meledek dan menjadi musuhku? Ketika aku terjatuh, tak ada satu pun dari mereka yang tertawa menolongku. Meskipun kini aku yang menjadi korban, mama tetap tak membelaku. Mama tak menyayangiku.

Si bungsu Nina masih terlalu kecil untuk kuajak bertengkar kala itu. Aku tak pernah ada masalah dengannya. Dia hanya jadi saksi peperangan centong nasi yang kulakuan dengan Doni. Yang kutahu, semua perhatian mama tertuju kepadanya dan kasih sayangnya tak pernah kurasakan ada untukku sebagai anak tengah.

Perasaan tak diperhatikan kian tumbuh lebat. Rasa iri pada anak-anak yang lain semakin tertanam kuat. Rasa itu terbawa hingga aku mulai memasuki usia remaja. Ketika SMP, aku sekolah di desa, di sebuah kampung kecil di daerah terpencil. Untuk dapat pergi sekolah, aku harus berjalan sejauh beberapa kilometer itu. Berapa kilometer ya? Yang jelas, jalan dari rumah menuju sekolah kutempuh melalui turunan sepanjang 1 km, tanjakan sepanjang 1 km, jalan datar 1 km, turunan lagi ½ km, dan jalan datar lagi  sekitar 2½ km. Jadi, berapa kilometer ya jaraknya? Hitung sendiri saja.

Mengapa aku harus jalan kaki? Itu karena tidak ada angkutan umum di sana. Jika setiap hari harus menggunakan ojek, biayanya cukup mahal. Dan, yaaa … perjalanan panjang mendaki gunung lewati lembah itulah yang menjadi kenangan seru pada tiga tahun di masa SMP-ku. Tanjakan dan turunan itu bukanlah jalan aspal, melainkan jalan berbatu yang cukup terjal. Jika hujan deras, jalanan cukup licin sehingga menyulitkan pengendara motor juga pejalan kaki sepertiku.

Sore itu, sepulang pengayaan pukul empat sore dari sekolah, cuaca mendung, gelap, hujan deras, dan petir saling bersahutan. Jika berteduh, aku akan sampai di rumah cukup malam sehingga bersama dua temanku, aku memaksakan diri berjalan menerobos hujan. Kami takut, tetapi kami abaikan suara petir itu sambil bertiga saling sahut membaca, “Subhanaladzii yusabbihu ro’du bihamdihi wal malaikati min khiifati ….” Artinya apa? Tak tahu, aku juga membaca itu karena diberi tahu oleh ajengan (guru ngaji) di kampungku. Jadi, kubaca saja dan berharap Allah melindungi kami dari sambaran petir.

Jarak rumah kedua temanku lebih dekat dari jarak rumahku. Ketika mereka sampai di rumahnya, aku masih harus berjalan lagi melewati satu turunan terjal dan satu tanjakan yang juga terjal. Namun, kala itu langit sudah sangat gelap. Hujan pun masih saja deras.

“Kamu menginap saja di rumahku. Besok Minggu kan libur.”

“Emmm, tetapi aku takut dicari  oleh mama.”

“Insya Allah enggak ….  Mama kamu juga pasti tahu kalau kamu menginap di sini. Hujannya deras dan sekarang sudah gelap. Bahaya kalau pulang sendirian. Jalanan licin, langit gelap, petir dar-dor dar-dor.”

Oh, ya …. Kala itu, di rumah hanya ada mama, aku, dan kedua adikku. Ayah bekerja di Jakarta, sedangkan aa dan teteh kos di dekat sekolahnya masing-masing di kota. Tak ada yang bisa menjemputku pulang menggunakan motor.

“Iya atuh. Malam ini aku menginap saja di rumah kamu.” Aku urungkan niatku untuk melanjutkan perjalanan pulang.

“Ya sudah. Yuk, masuk.”

“Tapi, basah, Tin.”

“Sudah, enggak apa-apa.”

“Eggak enak ah sama mimih (ibunya Tini). Nanti lantainya basah.”

“Kan bisa dipel lagi.” Namun, aku tetap bergeming karena merasa tak enak.

“Ya sudah aku ambilkan handuk dulu ya. Nanti kamu keringkan bajunya di luar. Sehabis itu, langsung masuk kamar mandi. Nanti aku antarkan baju gantinya.” Aku mengangguk setuju.

Kulepas sepatuku yang basah dan tetap duduk di teras, meratapi nasibku di bawah hujan. Ternyata, sejak dulu hujan selalu membawa sendu. Entah mengapa aku malas sekali masuk rumahnya. Ada perasaan sedih, ada rasa khawatir mama mencari, tetapi tetap selalu saja ada bisikan yang mengatakan, “Mama enggak akan terlalu mengkhawatirkanku. Dia tahu aku bisa jaga diri. Aku kan anak yang galak. Aku anak tengah yang punya banyak teman dan jarang ada di rumah. Jadi, jika aku tidak pulang malam ini pun, mama tidak akan mencariku. Mama pasti tahu kalau aku menginap di rumah Tini, sahabatku.” Aku selalu merasa menjadi anak yang tak berguna dan tak dibutuhkan. Karena sikapku yang seringkali menjauh dari keluarga dan lebih senang bermain bersama teman di luar rumah sejak aku masih kecil, aku membangun karakter untuk mendapatkan perhatian di luar. Aku mencari perhatian yang tak pernah kudapatkan di rumah.

“Ini handuknya ….” Tini datang membuyarkan lamunanku.

“Terima kasih, Tin.” Aku menerima handuk itu sambil mengeringkan pakaianku.

“Tenang, mama tahu kok kamu menginap di sini.”

Tini berusaha menenangkanku yang sedari tadi melamun sendiri. Entah mengapa kalimat Tini bukan memberiku ketenangan, melainkan justru membuatku semakin merasa tidak dikhawatirkan. Setelah mengeringkan pakaian, aku bergegas masuk menuju kamar mandi untuk membersihkan diri. Belum sempat aku mengunci pintu, tiba-tiba mimih mengetuk pintu kamar mandi dan memanggilku.

“Tok tok tok …. Neng.”

“Kunaon, Mih?”

“Itu mama sepertinya datang jemput kamu.”

“Ah, masa, Mih? Nu leres, Mih?” Aku bertanya tidak sangka.

“Uhun, Neng, leres.”

Aku tak jadi mengganti bajuku dan langsung berhambur menuju pintu keluar. Aku berpamit pada Tini dan mengatakan kepadanya bahwa aku tidak jadi menginap. Aku menggamit tangan mimih untuk bersalaman dan pamit pulang, kemudian kukenakan sepatuku. Aku menelan ludah menghampiri mama yang kusaksikan bajunya basah kuyup, juga sendal jepit yang penuh dengan lumpur.

“Bu, masuk dulu atuh ke rumah.” Ajak mimih pada mamaku.

“Tanggung, Bu. Sudah basah kena hujan. Saya langsung pulang saja, ya. Ini cuma mau jemput murangkalih (anak) saja karena khawatir hujannya deras sekali dan sudah gelap, tetapi belum pulang. Di rumah juga ada anak berdua yang menunggu. Jadi, enggak bisa mampir dulu.” Jawab mama sambil memberiku payung.

Mama meninggalkan dua bocah kecil di rumah karena khawatir kepadaku yang tak kunjung sampai ke rumah. Mama berjalan menuruni jalanan terjal, kemudian menaiki lagi jalanan terjal untuk menjemput anak tengah sepertiku di bawah derasnya hujan. Sepanjang perjalanan pulang bersama mama, aku tak banyak bicara karena berusaha menahan tangisku agar tidak jatuh. Aku merasa bersalah karena selalu menganggapnya tak peduli kepadaku.

Malam ini, satu hari sebelum tanggal 22 Desember tiba, di tengah padatnya pekerjaan, penat mulai muncul dan membisikkanku untuk melupakan sejenak semua pekerjaan itu. Aku teringat masih ada satu novel yang baru setengahnya kubaca dan aku ingin menyelesaikannya malam itu juga, sekadar untuk mengalihkan rasa bosanku dari pekerjaan yang cukup menyita pikiran itu. Barangkali aku akan mendapat pencerahan atau inspirasi baru, mungkin.

Benar saja, novel serial anak mamak yang berjudul Eliana-lah yang kala itu mengalihkan duniaku. Bab 24, 25, dan 26 berjudul “Kasih Sayang Mamak”. Ini cerita mengenai kesalahpahaman anak sulung terhadap kasih sayang mamaknya. Eliana menganggap mamak tidak mencintainya karena setiap kali adiknya melakukan kesalahan, selalu dia yang dimarahi. Eliana hanya melihat mamaknya sebagai seseorang yang selalu memarahinya, selalu menyalahkannya tanpa mengetahui apa yang telah mamaknya lakukan untuknya.

Dalam kehidupan di keluarga, selalu ada perasaan cinta yang begitu besar yang mungkin hanya ibu dan Tuhan-lah yang tahu. Kita yang acap kali melawannya, kerapkali tidak menurut, dan kadang-kadang membuat mereka menangis tidak pernah tahu seberapa besar para ibu itu mencintai kita. Mungkin seluas samudra atau lebih dari itu. Namun, dengan teganya, kita menuduh, “Mama tidak menyayangiku.” Tunggu …. Tunggu …. Kita? Maksudku, aku.

Eliana benci menjadi anak sulung dan aku benci menjadi anak tengah, awalnya. Namun, setelah kupikir lagi, tidak ada perbedaan yang berarti antara anak sulung, kedua, ketiga, keempat, dan seterusnya. Setelah aku membaca cerita ini, aku sadar bahwa ternyata anak sulung memiliki masalahnya sendiri, anak tengah pun sama, mungkin nanti anak bungsu pun begitu, entah dia selalu merasa dianggap anak kecillah, apalah, terserah. Masalah itu pasti akan muncul dan kita akan selalu mencari kambing hitam. Bodohnya, kita menjadikan ibu sebagai sasarannya. Maaf, maaf, bukan kita. Maksudnya aku.

Wak Yati berkata pada Eliana, “Tidak ada ibu yang membenci anaknya, darah dagingnya sendiri.” Setelah itu, aku tersadar. Ternyata, tidak ada ibu yang bermaksud membeda-bedakan kasih sayang terhadap anaknya. Kadar kasih sayangnya tidak ada yang dibedakan, hanya cara penyikapannya saja yang berbeda. Setiap anak memiliki karakter yang tidak sama sehingga harus disikapi pula dengan cara berbeda. Jedak …. Rasanya aku ingin membenturkan kepalaku sendiri karena menyesal telah menuduh mama yang tidak-tidak.

Sempurna. Tere Liye berhasil membuatku menangis sesenggukan malam ini ketika aku membaca tiga bab tentang kasih sayang mamak. Terlebih ketika Wak Yati mengatakan kalimat berikut.

“…. Bukankah mamak kau orang terakhir yang bergabung di meja makan? Bukankah Mamak kau orang terakhir yang menyendok sisa gulai dan sayur? Bukankah mamak kau yang kehabisan makanan di piring? Bukankah mamak yang terakhir kali tidur? Baru tidur setelah memastikan kalian semua telah tidur? Bukankah mamak yang terakhir kali beranjak istirahat setelah kalian semua istirahat? Bukankah mamak kau yang selalu terakhir dalam setiap urusan?

Dan, mamak kau juga yang selalu pertama dalam urusan lainnya. Dia yang pertama bangun. Dia yang pertama membereskan rumah. Dia yang pertama kali mencuci, mengelap, dan mengepel. Dia yang pertama kali ada saat kalian terluka, menangis, dan sakit. Dia yang pertama kali memastikan kalian baik-baik saja. Mamak kau yang selalu pertama dalam urusan itu ….”

Jika pada saat diceramahi itu Eliana terdiam memeluk bantal. Aku justru sesenggukan sambil menggigit bantal. Jika saat itu separuh hati Eliana membantah semua kalimat Wak Yati, aku justru mengangguk mantap membenarkan sepenuhnya yang Wak Yati katakan. Adalah ini, satu kutipan dari novel Eliana lagi yang juga berhasil membuatku menangis dan mantap mengangguk setuju ketika membacanya.

“Jika kau tahu sedikit saja apa yang telah seorang ibu lakukan untukmu, yang kau tahu itu sejatinya bahkan belum sepersepuluh dari pengorbanan, rasa cinta, serta rasa sayangnya kepada kalian.”

Selamat membahagiakan ibu-ibu kalian. Jadilah anak yang saleh dan salihah yang senantiasa mampu membahagiakan ibu dan ayah di dunia juga di Taman Firdaus kelak. Aku? Aku masih berusaha untuk menjadi anak baik, berusaha menebus kesalahanku pada mama di masa laluku. Doakan aku ya, Kawan. Semoga aku mampu membahagiakan mama di dunia dan akhirat kelak. Amin Allahuma Amin.

Middle child

Leave a Reply