Menanti Kedatangan Nenek

Lepas QT (Quran Time) pagi, aku dan beberapa teman akhwat bercengkrama di kamar asrama putri. Ada yang sambil mengoprasikan laptopnya untuk mengerjakan tugas. Ada yang tiduran saja sambil megang hp. Ada yang tilawah memanfaatkan menit-menit terakhir sebelum akhirnya berangkat beraktifitas. Atau sambil bersiap untuk pergi melakukan aktifitasnya di siang hari.

Dari semua yang kami lakukan, selalu ada suara yang kami tunggu dari asrama. Ada suara yang selalu kami rindukan di pagi hari. Suara apakah itu? Suarnya berbunyi seperti ini:

“Bakpau.”

“Gorengan.”

“Lontong.”

“Nasi goreng.”

“Ada getuk ni ada getuk.”

Kami yang sedang sibuk bercengkrama tiba-tiba saling tatap dan berteriak serempak. “Neneeeeek. Aku mau.”

“Pi, pi. Keluar pi panggil nenek.” Seruku pada teman satu asramaku.

Upi pun mau aku suruh dan berlari ke balkon untuk melambaikan tangan ke arah nenek yang masih berjalan di bawah. “Boleeh,” jawabnya. Nenek pun dengan kepayahan menaiki tangga asrama kami. Tak butuh waktu lama, baru saja nenek duduk di teras, para santri akhwat sudah mengerubuti nenek. Dan bicara pada nenek bergantian.

“Nenek aku mau nasi goreng.”

“Nek, ada lontong nggak?”

“Nek, aku ambil lontong sama bakwannya ya dua.”

“Nenek, aku ambil bakpau satu, lontong satu, gorengannya satu, jadinya tiga ribu lima ratus ya, nek.”

Nenek pun menjawab pertanyaan kami satu per satu. Lalu setelah kami membungkus makanan kami masing-masing, kami akan kembali ke asrama, atau tetap di teras depan asrama hanifah untuk duduk dan langsung makan di dekat nenek. Jika sudah begini, selalu kami nantikan petuah-petuah dari nenek.

Jadi, kedatangan nenek kita nantikan bukan hanya karena perut kami lapar. Tapi selalu ada cerita menarik yang bisa kami dengarkan darinya. Yang kususka dari nenek adalah tentang semangat belajarnya, ia pernah cerita bahwa di usianya yang sudah lanjut ia masih ikut kursus.

“Kursus apa nek?”

“Kursus bahasa arab neng.”

“Wah keren nenek.”

“Iya, usia nenek kan udah tua, apa lagi yang bisa nenek lakuin kalo bukan belajar agama. Alquran kan pake bahasa arab, terus gimana nenek fahamnya kalo nggak ngerti bahasanya?”

Mendengar itu… Jleb jleb jleb… tertohok sudah… Malu sama nenek, malu sama waktu yang udah kubuang sia-sia, malu sama Allah yang udah ngasih banyak kesempatan tapi tidak pernah dimanfaatkan dengan baik. Kebanyakan maunya, kebanyakan bingungnya, kebanyakan galaunya, kebanyakan nangisnya…

Semoga setelah ini, setelah TS4 berakhir kita tidak lagi hanya ngulang memori atas huruf-huruf arabnya saja. Tapi terus belajar agar dapat memahaminya dan memikirkannya. Caranya? Setiap dari kita memiliki cara berbeda untuk belajar, maka belajarlah dari nenek untuk tidak berhenti belajar di manapun kita belajar, dengan siapapun kita saat ini, berapapun usia kita.

Sebab menjalani hidup adalah tentang terus berjalan di muka bumi dengan terus belajar dan menjadikan diri kita bermanfaat bagi orang lain. #NtMS

Leave a Reply