Menjadi Layangan

Beberapa teman mengajariku bagaimana bermain layang-layang. Mereka mengajariku bagaimana trik menarik dan mengulur –katanya. Ah, tapi aku benar-benar menyukaimu, untuk apa main-main dengan perasaan, aku takut akan terluka.

Perasaan ini terlalu berharga untuk kupermainkan seperti layangan. Aku telah memilih, bagaimana jika aku saja yang menjadi layangan dengan definisiku sendiri. Aku akan mengimbangi permainanmu. Bedanya, aku akan menjadi layangan yang memasrahkan takdirnya hanya kepada Tuhan. Ketika kamu mengulur, aku akan menjauh seperti maumu. Sejauh kamu ingin memberiku pelajaran tentang mencintai dalam jarak tempuh yang cukup jauh. Biarlah, meski kamu hanya dapat melihatku seperti sebuah titik melayang ke kanan dan ke kiri pada ruang yang membentang luas di atas bumi. Aku baik-baik saja meski kita tak dapat saling tatap. Apakah menurutmu ini belum saatnya kita berjarak dekat? Tak apa, aku mengerti, aku tak sedikitpun bersedih. Sebab kupercaya ini adalah takdir-Nya.

Jika kamu menarikku untuk mendekat padamu, perlahan aku akan datang sedekat yang kamu mau. Berharap kamu hanya akan memperlakukanku dengan baik. Jika keputusanku tepat sejak awal memilihmu sebagai pemilikku, kamu tidak akan adukan tali yang mengikatku dengan tali pengikat layangan yang lain.e

Pemilik layangan yang baik akan senantiasa mengajakku bermain bersamanya. Dia yang lebih baik hanya akan membiarkanku terbang bebas namun tak akan melepaskan talinya. Mengikat aku sekuat-kuatnya dan membelikan tali pengikat terkuat agar tidak putus. Dia tidak akan mengulur tali terlalu jauh. Dia akan selamanya membiarkanku tetap terbang dengan pengawasannya. Dia yang mencintaiku, tak akan membiarkanku terbang terlalu tinggi, dia tidak ingin melihatku hanya seperti sebuah titik melayang di langit. Melainkan mengawasiku agar tetap bisa ia lihat utuh, jelas, dan baik-baik saja.

Dan, aku juga telah mempersiapkan diri. Jika ternyata setelah mengulur, kamu tidak menarikku kembali. Melainkan melepaskan benang pengikatnya. Tak apa, mungkin selamanya kita tidak akan bersama, kamu akan menemukan yang lebih baik dariku, begitupun aku. Aku sangat percaya. Bukan padamu! Tapi pada-Nya. bahwa Tuhan tak pernah salah menentukan takdir untuk hamba-Nya. Kan sudah kubilang, aku memilih menjadi layangan yang memasrahkan takdirnya pada Tuhan.

15/04/14

sumber foto: appsforpcplanet.com

Leave a Reply