Nasihat Adik Kepada Kakaknya

Tepat pada tanggal 1 syawal, lepas salat idul fitri, aku bepelukan dengan ayah dan ibuku untuk meminta maaf. Tak lama bergantian dangan saudaraku yang lain, kemudian aku pergi ke kamar menghindari keramaian ruangan tamu.

Bukan ingin sombong, aku hanya menghindari keramaian, dan menghindari basa-basi yang bisa jadi akan menodai hatiku. Aku belum cukup sabar untuk menganggap komentar itu hanya celetukan tanpa bermaksud menyakiti.

Saat sedang berbaring mendengar keramaian ruang tamu dari dalam kamar, tiba-tiba pintu terbuka.

“Kak…” Dengan mata sembab, adik nakalku mengahampiriku.

“Apa?” Tanyaku sambil menertawakan muka cengengnya itu.

“Geseran kak, gue pengen tiduran di situ juga.” Dia berbaring menggeser tubuhku.

Aku tertawa. “Kalo mau tidur, tidur aja nggak usah sambil nangis. Wkwkwk.”

Aku beringsut memberikan tempat untuknya. Dan kami sama-sama sedang menatap langit-langit kamarku yang berwarna biru.

“Kak di hari yang fitri ini, gua minta maaf ya. Sering ngerjain dan ngatain kakak. Maapin adek yang nggak tau diri ini ya kakakku yang sabar, baik hati, perempuan salihah yang bahkan bidadari pun cemburu padamu kak. Lha kaya judul buku?”

Kompak kamipun tertawa sambil meneteskan air mata. Tanganku mengelus rambutnya yang baru dipotong kemarin sore.

“Tanpa perlu diminta, kakak yang baik hati ini sudah memaafkan kok.”

“Gua doain semoga dipercepat pertemuan dengan jodohnya kak.
Udah gregetan nih gua kak pengen ketemu sama pria beruntung itu. wkwk”

“Lebay, kenapa jadi lu yang geregetan.
Gua aja selow.”

Jeda sebentar kemudian aku jujur dengan kondisiku tentang hal itu.

“Lo tau nggak? Dulu juga gue geregatan.Tapi sekarang udah selow aja.
Kebiasaan nggak sabar bikin kita nggak mensyukuri karunia yang Allah kasih ke kita saat ini.
Selow aja selow. Ntar juga nikah.”

“Mantaaap. So wise. 👌”

“Tapi kadang cowok tuh kampret-kampret, ya.”

“Kenapa kak kenapa?” Ia menoleh ke wajahku penasaran.

“Kaga dah, gak apa-apa..” Aku pun memunggunginya. Aku agak ragu bercerita pada adikku tentang hal ini. Sebab di mataku, dia masih bocah bisulan yang dulu sering jadi lawanku berebut makanan.

“Ayo kak cerita kak. Buat pembelajaran gua kak.” 🙈 Adikku merengek jijik sambil menggoyang badanku.

Akhirnya aku menyerah dan membalikan badanku. Tapi daripada cerita aku lebih senang memberinya nasihat.

“Yang pertama, Jaga pandangan lo.” Telunjukku menyentuh keningnya.

“Dua, kurang-kurangin caper sama cewek yang lo nggak yakin bener-bener suka.”

“Ketiga, jangan sok perhatian karena perempuan tuh gampang baper.”

“Wkwkwkw.” Adikku hanya menjawab dengan tawa.

“Ketawa lagi lu, bukannya mikir. Sering caper sama cewek lu ya?” Aku memukul kepalanya dengan bantal guling.

“Enggak. Nggak salah lagi.” Dia nyengir.

“Astagfirullahaladzim. Jangan bikin perempuan baper apa lagi kalo nggak punya kesiapan nikah. Banyak-banyakin nundukin pandangan aja udah. Bae-bae godaan di mana-mana bocah lanaaang.”

“Okaay. Siaaap kak.” Jawab dia sekenanya.

“Perempuan itu hatinya sepeti kaca, ringkih dan ketika pecah berderai, hatinya tak akan kembali utuh. Dia mampu memaafkan, namun belum tentu bisa melupakan.” Adikku terdiam.

Aku berharap semoga dia benar-benar mengerti. Dan berusaha untuk tak melukai perasaan perempuan manapun karena ingat bahwa ia memiliki kakak dan adik perempuan.

Setelah selesai aku memberi nasihat, adikku pun balik menasihatiku.

“Sabar yak kak. Cowok emang suka maen-maen.” Jawabnya santai.

Aku mulai gemas pada realita. “Nah iya itu kampretnya. Kan bikin susah percaya sama cowok.”

“Selama belom berani ke rumah jangan dianggap serius kak.”

Aku diam melongo.

“Kok lo diem kak?”

“Baru tau gua kalo cowok kaya gitu.”

“Sulit sih kalo mau memastikan setiap cowok gak boleh maen-maen. Jangankan yang jomblo kak. Yang udah berkeluarga pun gw yakin ada yang kayak gitu.”

“Maen-maennya separah apa ya? Kalo untuk ukuran cowok beriman?”

“Gak tau kak. Kadarnya beda2 kalo soleh mah gak parah, bisa nahan soalnya.”

“Nah semoga dapet yang soleh dah gua…”

“YA HARUS LAH!” Jawab adikku menegaskan.

Meski dia nakal, untuk kakaknya dia memastikan HARUSLAH mendapat pasangan yang SOLEH.

Beruntunglah aku memiliki adik yang mulai tumbuh dewasa. Senakal apapun adik laki-lakiku, dia tahu bagaimana menjaga perempuan-perempuan terdekat yang dia tidak ingin menyakitinya. Meski hanya dengan sekedar bocoran tentang kaumnya.

“Tapi kak.”

“Apa lagi?”

“Hati-hati aja kalo cowok udah serius. Even lo gak mau pun bakal dikejar mati-matian. Wkwk.”

“Hiiiii serem juga.”

“Cowok tuh semakin ditolak malah semakin tertantang. Wkwk
Kita suka hal menantang.” Adikku tertawa dan mengacungkan tangan metalnya.

“Idiiiihhh.”

“Kak, kayanya tadi gua liat cokelat di kulkas.” Matanya menatap jahil lalu berlari keluar kamar.

“Cokelat gua itu woy. Jangan diambil. T_T” Aku berlari mengejarnya.

 

Kita sudah sama-sama dewasa, tapi bagiku dia tetap adik kecilku yang nakal.

Leave a Reply