Pelangi dan Secangkir Coffee Bromo Latte

Tiga tahun lalu

“Ini kopi hangat untukku pagi ini, sayang?”

“Iya, cobalah!” Pintaku tidak sabar.

Perempuanku meraba meja dan meraih cangkir kopinya perlahan. Aku suka melihat ia menghirup aroma coffee latte buatanku sambil tersenyum dengan mata terpejam. Wajahnya tampak seperti sangat menikmati aroma kopi pertama buatanku.

“Enak, apa nama kopi ini?”

Coffee Bromo Latte.” Jawabku sambil tertawa malu.

“Hahaha. Sejak kapan kamu bisa membuat kopi seenak ini? Setahuku, kamu hanya bisa membuat kopi tubruk.” Tanyanya sambil menyesap lagi kopi buatanku

“Sejak temanku di Jakarta mengirimiku Aeropress kemarin.”

“Apa itu Aeropress?”

“Itu adalah alat untuk kopi. Aeropress ini merupakan manual brewer terpopuler di dunia.”

“Waaaah berarti sejak hari ini kita bisa minum kopi ini setiap pagi? Apa namanya tadi?”

Coffee Bromo Latte.” Jawabku bangga.

“Ah iya, aku suka wanginya.” Ia tersenyum dan menghirup lagi aroma kopi buatanku.

 

Hari ini

Sang waktu tak pernah mau menunggu, dia selalu saja berputar dengan ritme yang sama, tidak pernah melambat ataupun berjalan lebih cepat. Empat tahun sudah kami bersama dengan kebiasaan yang juga tidak pernah berubah. Sejak tiga tahun lalu, setiap pagi aku selalu membuatkannya kopi, dan setiap pagi pula dia selalu menghirup coffee Bromo latte-nya dengan penuh kenikmatan. Dan sejak tiga tahun yang lalu juga aku memutuskan keluar dari perusahaan IT kedua terbesar di Jakarta dan memilih menjadi programer freelance saja, kemudian pindah ke Desa membawa istri dan anak-anakku. Agar aku bisa terus menjaga keluarga kecilku seharian. Juga, agar aku bisa melihat senyumnya ketika menghirup kopi buatanku tiap pagi.

Kini sudah bulan Desember, aku selalu senang juga melihat senyumnya di bulan Desember. Karena kami akan lebih sering berjumpa dengan sahabat baik kami masing-masing. Perempuanku tahu aku suka melihat pelangi, dan aku tahu perempuanku sangat menyukai petrichor. Aroma menenangkan selain kopi yang tercium di saat pertama kali hujan setelah kemarau panjang. Menurutnya aroma itu hanya bisa dihirup oleh orang-orang yang tengah merindu. Kebetulan, pagi ini hujan benar-benar turun di tengah cengkrama kopi kami. Saat hujan turun aku tahu, perempuanku pasti sangat merindukan masa lalunya.

“Kau tahu mas. Dulu saat aku masih sangat muda. Setiap kali hujan turun, aku selalu berdiri di depan halaman rumah hanya untuk menengadah dan membentangkan kedua tanganku di derasnya hujan. Aku senang menatap ratusan butir air jatuh menimpa wajahku. Itu sangat menyenangkan. Apa kau pernah melakukan itu?” tanyanya kepadaku.

Lalu aku menjawab dengan dua kali gelengan dan satu kata saja “no”. Dan lamat-lamat kembali kunikmati senyumnya pagi ini. Kemudian kukatakan padanya. “Masa kecilku bersama hujan tak semenyenangkan kisahmu, De. Aku tak pernah boleh mandi hujan oleh ibuku. Ibu terlalu takut aku jatuh sakit. Pada akhirnya yang kulakukan ketika hujan, hanya menatapnya dari balik jendela kaca. Kemudian menggambar figure stick di kaca kamarku. Lagi pula aku tidak pernah bisa mencium bau petrichor seperti yang kamu sering lakukan.”

“Hmmmh, sayang sekali.” Ujarnya.

Tak apa, meski aku tak dapat mencium baunya, tapi aku bisa melihat dua pelangi di hari yang sama. Namun, sejak tiga tahun lalu hingga sekarang aku tidak pernah mampu mengatakan kebahagiaanku itu kepadanya. Kebahagiaanku karena Tuhan selalu memberiku dua pelangi di bulan Desember.

Aku tak pernah mampu. Sungguh bibirku pasti kelu setiap kali ingin mengatakan. “Wah, ada pelangi. Tuhan mengaruniaiku dua pelangi cantik hari ini.”

Saat aku sibuk dengan pikiranku, perempuanku menghadapkan wajahnya ke atap, untuk mengingat-ingat apa yang pernah dilakukannya ketika hujan turun di bulan Desember.

“Ah, aku ingat” Nah, sepertinya kau mulai mengingat cerita seru. Ucapku dalam hati.

“Dulu aku juga pernah berpura-pura ke warung dan membawa payung sambil menendang genangan air ke pagar rumahku. Aku begitu mencintai hujan. Setelah kutahan beberapa lama untuk tidak mandi hujan. Rasanya, tak kuat pula aku menahan hasrat untuk tak  mandi hujan. Akhirnya aku membalikan payungku untuk menadahi air, dan menyiramkan air yang sudah cukup penuh ke tubuhku sendiri.” Perempuanku terkikik mengingat tingkahnya di masa lalu.

Aku masih senyum kearahnya sambil menyaksikan tawa riang perempuanku bertutur mengenai hujan kesayangannya. Kemudian dia menoleh ke arahku. “Aku yakin dulu kau tak pernah melakukan itu, bukan?” Dia meledekku. “Kamu tahu saja, memang aku tak pernah melakukan semua keseruan itu.”

“Kau tahu? Kenapa banyak sekali orang yang selalu terlihat sendu ketika hujan turun?” Aku bertanya sambil meraih roti selai kacang sebagai teman minum Coffee Bromo Latte kami. Kemudian meraih tangannya dan memberikan roti itu ke tangan kanannya.

“Tunggu, dimana tadi kuletakan rajutanku, mas?” Ia meraba-raba sekitar kursi dengan tangan kirinya. Aku meraihkan rajutannya di lantai karena  sempat terjatuh saat dia sedang asyik bercerita. “Rajutanmu terjatuh, sayang. Ini!” Aku mengulurkan rajutan itu ke tangannya.

Dia meraih rajutan itu dari tanganku. “Terimakasih. Sampai di mana kita tadi?” Tanyanya. “Sampai aku bertanya, kenapa banyak orang yang selalu tampak sendu ketika hujan turun.” Jawabku sambil mengoperasikan laptop untuk melanjutkan pekerjaan yang tertunda semalam.

“Oh, ya bagian itu. Entahlah, mas. Sampai saat ini aku pun tidak pernah tahu mengapa rinai hujan kerap kali memunculkan perasaan haru pada orang yang merasakan kehadirannya. Namun aku bisa merasakan ada nada dalam hujan yang hanya bisa didengar oleh orang-orang yang sedang merindu. Hujan itu, kadang dengan misterius mampu menghipnotis seseorang untuk kembali mengingat masa lalu. Mungkin itu yang membuat mereka terlihat sendu, karena mereka sedang merasakan rindu.” Perempuanku meletakkan rajutan di pangkuannya, kemudian meraba meja untuk mengambil cangkir kopinya lagi.

Setelah beberapa saat ia menyesap coffee lattenya, perempuanku lanjut berbicara lagi. “Padahal jika ia hirup aroma air hujan saat pertama kali membasahi rumput yang kering, dia akan menemukan ketenangan di sana.” Ujar perempuanku sambil menghirup udara segar dengan mata terpejam. Dia selalu tampak manis ketika sedang menikamati aroma yang tak pernah bisa kurasakan seperti apa nikmatnya.

Ceritanya tentang hujan, tidak pernah membuatku ‘bosan’ meski dia selalu menceritakan itu berulang-ulang setiap kali hujan datang.

“Saat kuliah, aku menikmati hujan dengan cara berbeda. Waktu itu awan mendung sudah siap menurunkan anak tangis.”

“Apa? Anak tangis?” Aku tak mengerti apa yang dia maksud.

“Gerimis.” Lanjutnya menjelaskan sambil tersenyum ketika tahu ekspresi bingungku.

Saat gerimis turun, semua temanku berhambur menju halte agar dapat segera berteduh. Namun lain hal denganku, mas. Karena aku suka ratusan butir air jatuh menimpaku, justru aku akan memperlambat langkahku. Ketika itu aku selalu merasa, dengan misterius tetesan hujan selalu “melenakan” hatiku. Seperti bius ia mampu menghilangkan rasa sakit yang mendera ulu hati hingga ke tubuhku. Tak peduli seberapa perih, gerimis dapat membasuh dan membuat semuanya luruh.” Lagi-lagi dia tersenyum mengenang kisahnya bersama hujan.

Kami berdua menikmati hujan dengan cara berbeda meski duduk di teras yang sama dan menikmati rasa kopi yang sama. Cara kami berbeda karena aku akan selalu menantikan pelangi setelah hujan reda. Sedangkan perempuanku selalu menantikan petrichor ketika hujan baru mulai menunjukan eksistensinya.

Kedua cara itu indah, kami dapat meretas gundah berdua  meski aku menatap dia menghirup. Aku tak pernah merasa kurang meski aku memiliki anosmia. Perempuanku juga, dia akan selalu tersenyum sambil menghirup aroma hujan, meski dia tak dapat melihat pelangi.

“Pelangi di mana, mas?”

“Dia tadi masih tidur.”

Dari kejauhan terdengar suara rengekan memanggiku. “Emmmmmm. Ayaaaah.”

“Pelangi bangun, mas.”

“Baik, aku ambil dulu, ya.”

“Iya.”

Aku kembali lagi ke luar membawa pelangi. Saat pelangi bangun hujan sudah reda, dan kulihat 2 pelangi dalam waktu bersamaan pagi itu.

“Hai pelangi anakku. Sini duduk sama Ibu. Kamu mau roti selai kacang, Nak?” Aku memberikan Pelangi ke pangkuannya.

Namun sesaat dia bertanya lagi. “Sepertinya hujan mulai reda, apakah ada pelangi sore ini, mas? Bagiamana rupa pelangi sore ini?” Dia mentap kosong ke depan.

“Tidak ada, sayang. Cukuplah kamu dan anak kita yang menjadi pelangiku pagi ini?” Aku terisak, menyaksikan pelangi indah pagi ini. Andai kau mampu melihat betapa indahnya pelangi pagi ini.

“Jangan menagis. Kau tahu, kenapa hujan kerap memunculkan petrichor ketika iya datang dan akan menyisakan pelangi ketika dia berlalu?” Aku hanya diam karena malu dengan suaru parauku.

     Tanpa peduli akan jawabanku, dia menjawab pertanyaannya sendiri. “Karena, dia ingin kita tetap bahagia meski kehadirannya selalu membuat hati banyak orang menjadi sendu. Dan hujan hanya ingin kita tersenyum ketika ia datang dan saat ia berlalu.”

     Perempuanku kehilangan penglihatannya tiga tahun lalu, saat melahirkan Pelangi anak pertama kami. Syaraf matanya terganggu dan tak dapat melihat lagi. Sejak saat itu aku tak pernah mampu mengatakan bahwa pelangi itu indah. Aku tak pernah berani mengatakan bahwa aku sangat senang melihat dua pelangi pagi dalam waktu bersamaan. Istriku, tak dapat melihat lagi rupa pelangi. Dan sejak tiga tahun itu, dia begitu menikmati wangi hujan dan aroma kopi. Sebab itu yang dapat membuatnya happy.  Dia selalu ingin tampak bahagia di depanku. Meski aku tahu, pasti dia juga ingin melihat pelangi, dan melihat ratusan butir air jatuh membasahi lesung pipinya seperti dulu.

“Tak apa, ceritakanlah bagaimana rupa pelangi. Aku akan bahagia mendengar itu langsung darimu. Tanpa harus melihat bagaimana rupanya. Nanti akan kuceritakan bagaimana wangi hujan ketika pertama kali membasahi tanah setelah kemarau panjang.” Kurasakah kehangatan tangannya di wajahku.

Dia menghabiskan sisa Coffee Bromo Latte di cangkirnya dan menungguku bercerita tentang indahnya pelangi yang berada di langit, juga lucunya pelangi dalam keseharian kami. Dengan isakan terakhir, aku mulai menceritakan rupa pelangi sebagaimana perempuanku menceritakan aroma hujan kepadaku. Ya, karena utuh bisa dirasakan ketika kita berdua, dan saling membagi bahagia bersama meski sebagai individu kami tak sempurna.

Blog post ini dibuat dalam rangka mengikuti Kompetisi Menulis Cerpen #MyCupOfStory Diselenggarakan oleh GIORDANO dan Nulisbuku.com

Leave a Reply