Pemimpi Konyol

novel romance

Ada saat dimana kita tidak mengenal diri kita sendiri. Kemudian tersadar bagaimana sebenarnya kita justru dari mulut seseorang yang ternyata memang telah menemani kita sejak lama.

“Lama ya, nunggunya?”
“Tidak, hanya 2 jam.”
“Maaf.”
“Tak apa, duduklah.” Sore itu, bersamanya aku duduk menyandarkan punggungku di kursi taman dan sejenak menoleh ke arah buku yang sedang asyik dibacanya.
“Kali ini, buku apa lagi?” Dia kemudian menghadapkan cover buku itu ke wajahku, sambil tetap membaca.
“First Time in Beijing? Pasti Romance.”
“Apa lagi. Aku hanya senang tersenyum sendiri membaca cerita romance.”
“Tapi kau juga kerap kali menangis kalau ada cerita sedihnya. Cengeng!”
“Itulah nikmatnya.” Dia melempar pandangannya ke arahku kemudian tersenyum. Tak lama matanya tertuju pada kancing kedua kemejaku.
“Kancing kemejamu lepas lagi?”
“Iya, tadi terlepas di bis.”
“Berikan padaku.” Aku melepas kemejaku, dan menyisakan T-shirt putih yang biasa kupakai sebagai baju dalam. Dia meletakan bukunya dan mengeluarkan benang beserta jarum dari tasnya. Seperti biasa, dia yang selalu memasangkan kancing kedua kemejaku. Anehnya aku selalu menurut saja.
“Awal tahun ini, kau punya mimpi apa lagi?” Tanyanya sambil memasukan benang ke lubang jarum.
“Aku ingin mengunjungi museum se Indonesia.” Jawabku sambil membuka-buka buku yang baru diletakkannya.
“Se Indonesia?” Sepertinya dia agak heran, namun tak banyak bicara.
“Ya, tentu. Aku akan melakukan perjalanan panjang mengelilingi setiap pelosok tanah air tercinta ini.”
“Baiklah.” Dia kembali lagi dengan kancing kedua kemejaku.
“Lalu, selain itu?”
“Aku ingin memberikan permen kepada seluruh anak jalanan di kota ini, setiap anak mendapatkan sekotak permen. Menurutmu, mungkin kah?”
“Kenapa tidak.” Ini yang kusuka darinya. Dia tak pernah mengatakan ‘tidak mungkin’. Meskipun kutau mimpiku selalu konyol.
“Kemudian, karena aku suka kopi, aku ingin mencicipi beragam kopi yang aku pesan dari berbagai penjuru mata angin.”
“Lakukanlah, catat itu sekarang dalam dream list-mu.” Dia berujar dan tetap serius dengan kancing kemejaku. Melihat wajah seriusnya menanggapi setiap ucapanku, cukup membuatku ingin tertawa geli.
“Aku ingin membuat ribuan naga kertas kemudian menepelnya di sepanjang dinding kota Djogja yang telah terlihat usang saja.” Dia menghentikan pekerjaannya, sesaat kemudian berpikir.
“Berarti kamu harus mulai melipat dari sekarang. 100 naga kertas dalam sehari. Dalam sebulan kamu akan mendapatkan 3000 naga. Berapa yang mau kamu buat? 5000? 10.000?” Kenapa dia serius sekali. . .  kupikir dia akan menjawab, ‘kalau dinding usang kenapa tidak kamu cat lagi saja?’
“Apa kamu mau membantuku melipatnya?”
“Itu mimpimu, kenapa aku juga jadi ikut repot?”
“Ayolaaahh.”
“Baiklah, tapiiiii. Aku hanya mau membantumu melipat, emmmm. Bagaimana kalau segini?” Dia memperlihatkan tiga jarinya di hadapanku.
“Ya, tak apa. 3000 pun sudah cukup.”
“Siapa bilang aku mau membantumu melipat 3000. Maksudku 30.”
“Yaaaaah, kalau 30 lebih baik aku melipatnya sendiri.”
“Lalu, apa lagi?”
“Apanya yang apa lagi?”
“Mimpimu.”
“Emmmmm. Kali ini aku serius, aku ingin memiliki coffee shop yang didalamnya terdapat perpustakaan, tapi khusus novel petualangan. Dan ada satu rak lagi khusus untuk novel petualangan karyaku sendiri. Pasti menyenangkan bukan?”
Dia menoleh ke arahku dengan senyum sumringahnya. “Benarkah? Ya, pasti menyenangkan. Apa lagi kamu menyisakanku satu rak untuk novel-novel romance.”
“Ah, kamu selalu mengacaukan mimpiku. Baiklah, satu rak saja tidak akan membuat novel petualanganku tersaingi.” Dia mencibir ke arahku.

Sambil menunggunya menyelesaikan kancing keduaku, aku tertawa mengingat-ingat perbincanganku barusan. Seolah mimpi-mimpi itu akan terlaksana saja. Kadang aku senang mengatakan mimpi konyolku pada orang yang juga konyol seperti dia.

“Boleh aku bertanya sesuatu?”
“Apa?” Jawabnya.
“Kenapa kau selalu mengamini apa yang kukatakan?”
“Memang salah?”
“Ya, tidak juga. Tapi, aneh saja.”
“Kenapa harus aneh?”
“Emmm mungkin karena selama ini banyak yang menganggapku gila dengan mimpi-mimpiku, kenapa kau tidak? Kenapa kau berbeda?”
“Ya, bukankah kita sama? Aku ini seperti kamu yang tidak  menganggapku gila ketika aku sangat peduli pada kancing kedua kemejamu.”
“Haha. Ya, aku tahu. Karena bagimu kacing kedua sangatlah penting, dia sangat dekat dengan jantung, bukan? Dan dia tahu rahasia besarku. Dia tahu perempuan mana yang membuat jantungku derdetak cepat.” Kadang kupikir itu memang konyol. Siapa pula yang mau menginterogasi sebuah kancing tak bermulut. Tapi, selama kami senang mengatakannya, kenapa tidak. Kita bebas mengatakan apa pun yang kita sukai saat sedang bersama.
“Hmmmm, begitulah. Lalu apa bedanya aku denganmu?”
“Ya, mungkin kita memang sama-sama konyol. Tapi kita tetap berbeda. Aku laki-laki dan kamu perempuan. Aku lelaki pemimpi, dan kamu perempuan tanpa ambisi.”
Kali ini dia hanya diam saja. Mungkin baru tersadarkan bahwa ternyata dia tidak pernah berani bermimpi.
“Tapi aku masih heran, kenapa kamu tidak menganggapku gila dengan mimpi-mimpiku? Padahal jelas-jelas aku sering kali gagal medapatkannya.”
“Meskipun sering gagal. Kamu pernah juga kan mendapatkan beberapa dari sekian banyak mimpi-mimpi kecilmu? Jangan pernah lupakan itu!”

Belum sempat aku menjawab pernyataannya, tiba-tiba saja hujan turun. Kami pindah berteduh pada teritis-teritis atap pertokoan di seberang jalan. Dia tetap membawa kemejaku, dan aku membatu membawakan bukunya.
Akhirnya kami dapat berteduh di bawah atap pertokoan, dan sepertinya dia sudah selesai memasangkan kancing kedua kemejaku. Dia mengulurkan kemeja itu kepadaku, dan aku mengembalikan bukuya.

“Wah kenapa hujan tiba-tiba saja turun?” Aku mengenakan kemejaku sambil menoleh ke atas, melihat seberapa deras air yang turun.
Namun, dia tak peduli dengan seberapa deras air yang turun, dia justru melanjutkan perbincangan kami di taman tadi. “Kau tahu, apa pun. Apa pun yang kamu katakan tentang mimpi-mimpimu, aku akan berkata ‘Ya, kamu bisa.’ Kamu bilang mau pergi ke bulan sekalipun aku akan berkata ‘Ya, kamu mampu.’
“Nah, kenapa begitu? Ah, aku tahu aku tahu, kamu hanya ingin menghiburku, bukan?.” Aku baru memasang kancing ke tiga saat itu.
“Bukan, bukan karena aku hanya ingin menghiburmu, apa lagi membodohimu. Aku hanya benar-benar yakin.” Dia meletakkan buku ke dalam tasnya.
“Kamu ini aneh, bahkan aku sendiri saja sering meragukan kemampuanku, kenapa kamu bisa seyakin itu?” Kali ini, kami berdua sama-sama menadahi air hujan yang jatuh dari genting dengan tangan kanan kami.
“Bukan, aku bukan yakin pada kemampuanmu.”
“Lalu, apa yang membuatmu yakin?”
“Dengarkan aku ya.” Sesaat dia mengambil lagi bukunya dan membuka halaman per halaman dalam novel yang tadi dibacanya. Mencari kata yang tepat untuk menjawab pertanyaanku.
“Aku suka kalimat ini. Aku teringat kepadamu ketika membaca bagian ini.”  Ucapnya setelah menemukan apa yang dicarinya di buku.

Aku percaya, impian adalah wujud prasangka manusia pada Tuhan.
Suatu hari nanti, Tuhan pasti akan mendekatkan kita pada impian itu, sepanjang kita pun berusaha keras untuk meraihnya.
~Lisa~

“Aku hanya yakin pada kemampuan-Nya, dan yakin pada orang yang selalu berprasangka baik pada-Nya. Aku yakin mereka mampu bangkit lagi meski telah terjatuh. Dengan percaya pada Pemilik keberhasilan, maka setelah gagal dia akan tetap yakin bahwa keberhasilan itu akan diberikan oleh Tuhan kepadanya, dia akan senantiasa bersabar menunggu masanya.”
“Lalu?” Aku merasa bodoh karena telah bertanya begitu padanya.
“Ah, bodoh. Aku parcaya kamu salah satu dari mereka. Kamu pulalah yang akan memukul mundur pemimpi-pemimpi yang tak cukup percaya pada Tuhan.”
“Sungguh kah aku begitu?”
“Sepertinya begitu.”
“Kenapa sekarang kamu malah tidak yakin?”
“Ya, karena kamu pun meragukan dirimu sendiri. Makanya aku ragu.”
“Oooohhh begitu. Lalu, bagaimana denganmu? Apa yang ingin kamu lakukan di tahun ini? Apa kamu tak pernah mau menggenggam mimpimu sendiri?”
“Euuuuu, sepertinya aku mulai memilikinya.”
“Apa?”
“Aku hanya memiliki satu keinginan.”
“Apa itu?”
“Aku ingin menjadi pemimpi sepertimu.”
“Sangat luas, anak muda. Tak cukup detail.”
“Begitu kah?” Dia menggaruk kepalanya yang tak gatal sambil tertawa.

Aku suka caranya tertawa, caranya berbicara, dan caranya percaya. Aku akan butuh orang sepertinya dalam hidupku. Aku sangat mengharapkannya. Ya, dulu aku sangat mengharapkannya menjadi pendampingku untuk menggapai semua mimpi konyolku. Tapi harapan itu ada sebelum kami tahu bahwa ternyata kami memiliki ayah yang sama.

Leave a Reply