Ramadhan Day 2: Yang Membedakan Kita Hanya Ketaqwaan

Hari ini saya mau bahas satu ayat yang highlight di buku Daily Wisdom (Selection From the Holy Quran). Buku itu memilih beberapa ayat Alquran yang untuk kita baca day by day.

 

Karen di buku itu cuma terjemahan dari ayatnya aja. Untuk memahami maknanya kurasa masing-masing orang punya caranya sendiri.

 

Kalo aku pribadi, disuruh baca terjemahan itu aja, asa kurang. Pertama perlu translate dulu dari bahasa inggris ke Indonesia, pas udah baca terjemahan bahasa Indonesianya pun belum tentu pahan maknanya.

 

Sehingga caraku untuk mencari makna, adalah dengan membuka tafsir jalalainnya.

 

Nah untuk pagi ini, saya mau bahas 1 ayat pertama yang di-highlight di buku itu. Yaitu surat Al-Hujarat ayat 13.

 

Sebelum masuk ke opiniku, Aku mau share tafsir jalalainnya dulu ya, yang bahas beberapa penggalan kata dari ayatnya. Tafsirnya begini.

“(Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kalian dari seorang laki-laki dan seorang perempuan) yakni dari Adam dan Hawa (dan Kami menjadikan kalian berbangsa-bangsa).

lafal Syu’uuban adalah bentuk jamak dari lafal Sya’bun, yang artinya tingkatan nasab keturunan yang paling tinggi (dan bersuku-suku) kedudukan suku berada di bawah bangsa, setelah suku atau kabilah disebut Imarah, lalu Bathn, sesudah Bathn adalah Fakhdz dan yang paling bawah adalah Fashilah.

Contohnya ialah Khuzaimah adalah nama suatu bangsa, Kinanah adalah nama suatu kabilah atau suku, Quraisy adalah nama suatu Imarah, Qushay adalah nama suatu Bathn, Hasyim adalah nama suatu Fakhdz, dan Al-Abbas adalah nama suatu Fashilah (supaya kalian saling kenal-mengenal) lafal Ta’aarafuu asalnya adalah Tata’aarafuu, kemudian salah satu dari kedua huruf Ta dibuang sehingga jadilah Ta’aarafuu; maksudnya supaya sebagian dari kalian saling mengenal sebagian yang lain bukan untuk saling membanggakan ketinggian nasab atau keturunan, karena sesungguhnya kebanggaan itu hanya dinilai dari segi ketakwaan.

(Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kalian di sisi Allah ialah orang yang paling bertakwa. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui) tentang kalian (lagi Maha Mengenal) apa yang tersimpan di dalam batin kalian.”

Di buku itu, ayat pertama yang dimunculkan adalah ayat ini. Dan sadar nggak sih ayat ini menunjukkan betapa adilnya Allah kepada umat manusia.

Siapapun dia, apapun sukunya dia, apapun kebangsaannya dia. Kita semua sama di mata Allah. Kita menjadi mulia bukan karena harta benda atau golongan kita. Tapi karena ketakwaan yang ada di dalam dada kita. Dan Allah yang lebih tahu apa yang ada di dalam hati kita.

Sehingga nggak ada hak dan kuasa kita untuk nge-judge orang lain tentang sesuatu yang sama sekali nggak kita tahu. Kita siapa? Bahkan hati kita sendiri aja kita kadang salah memahaminya. Kadang sama keinginan diri sendiri aja kita nggak tau, sehingga akhirnya kita jadi keliru.

Kembali lagi, derajat kita semua sama. Yang jadi pembeda di sisi Allah hanya ketaqwaannya.

Apapun suku bangsa dan gender kita, kita diminta untuk saling mengenal satu sama lain.

Ini baru satu ayat yang nuntun kita untuk menjadi seseorang yang bijaksana. Kalo Alquran dibaca satu persatu artinya, banyak kebijaksanaan lainnya yang kita temui.

Ketika ketaqwaan seorang muslim itu benar, ketika dia menghamba dengan baik, ketika dia menjadikan Alquran sebagai sumber petunjuk hidup yang dia pegang dan dia aplikasikan sehari-hari. Dia akan jadi orang yang peace full banget nggak sih?

Islam itu peace full
Islam itu way of live

Kalo kita mau mempejari ilmu Allah lebih jauh lagi, gue yakin kita akan sangat bersyukur memegang keyakinan ini. Dan besryukur diberi kesadaran untuk menjadi hamba yang taat.

Ya, meskipun gak sempurna, yang penting sadar aja dulu.

Leave a Reply