Sebuah Renungan Tentang  Tujuan dan Rasa Syukur

Sabtu siang, baru saja aku mau mulai rekaman untuk video tutorial bbm marketing, pintu ruang digital terbuka. Ada sesosok yang masuk.

“Win, gue mau ngobrol ama lo ni.”

Dalam hati, “Yaaaah, nggak jadi lagi rekaman.” wkwkwkw

“Kenapa Mas Hisyam?”

Bla bla bla… Panjang banget mas hisyam cerita, tentang doa, tentang orang-orang yang dia amati, tentang fenomena saat ini, tentang islam. Dan banyak lagi yang didiskusikan siang itu.

Sampailah pada perbincangan inti yang ingin kuceritakan padamu.

Hisyam: “Sepanjang gue tawaf, yang gue lafadz cuma satu.”
Aku: “apa tuh mas?”
Hisyam: “Rabbana la tuzigh qulubana ba’da idz-hadaitana wa hablana min ladunka rahmah, innaka antal wahhab”

Artinya: “(Mereka berdoa): Ya Tuhan kami, janganlah Engkau jadikan hati kami condong kepada kesesatan sesudah Engkau beri petunjuk kepada kami, dan karuniakanlah kepada kami rahmat dari sisi Engkau; karena sesungguhnya Engkau-lah Maha Pemberi (karunia).”

Ini mengingatkanku juga pada Dini Hanifa temanku di asrama yang tiba-tiba datang dengan mengatakan. “Aku nemu ayat yang bagus lagi kak. Ali-Imran ayat 8 kak.” Dia bercerita tentang ini ketika kami sedang sama-sama galau akan urusan dunia. Galau dengan rasa lelah yang kami rasakan bersama.

Akhirnya itu yang menjadi salah satu doa bacaan lepas solat. Kuulang meski masih biasa saja rasanya. Namun kedatangan mas Hisyam siang itu menguatkanku pada perasaan bahwa ayat ini memang istimewa. Yup sebuah Tujuan. Sebuah permohonan yang langsung pada inti yang ‘seharusnya’ kita harapkan.

Hisyam: “Dan doa gue buat keluarga gue, gue cuma minta supaya Allah mematikan kami dalam keadaan khusnul khatimah. Udah itu aja.

Jadi doanya nggak ada yang wuaaah, nggak poin by poin by poin. Poin by poin itu urusan siapa?”

Aku: “Urusan Allah?”

Hisyam: “Bukan! Poin by poin itu urusan kita. Poin by poin itu adalah sebuah proses yang harus kita jalani.

Faalhamaha Fujuroha wa Taqwaha ‘Maka Dia mengilhamkan (kepada setiap jiwa) jalan dosanya dan jalan taqwanya.’ (Qs. Asy-Syams: 8).

Lo mau fujur mau taqwa itu urusan lo. ‘Segala yang baik datangnya dari Aku, segala yang buruk datangnya dari dirimu sendiri.’ Cuma di setiap perjalananya elo musti terkoneksi sama Allah.” Mas Hisyam berhenti berbicara.

Hening, benakku berkata. “Emmmmmmm. Ikhtiar 100% dan tawakal 100%, itu juga yang pernah mas Hisyam katakan padaku. Dan intinya nggak ada yang instan. Kita harus mau capek, kita harus mau kesulitan dalam perjalanan menempuh tujuan. Tapi ingat, bahwa koneksi kepada Allah lah yang akan menyampaikan kita pada Tujuan.”

Setelah itu mas Hisyam memintaku mencari berapa banyak ayat yang berbicara tentang syukur. Ini mengingatkanku pula pada diskusi rapat evaluasi tim Unbow bersama bang Muhammad Maula Nurudin Al-haq.

Maula: “Waktu di mekah ga banyak yang gue minta sama Allah. Yang gue lakukan adalah gue bersyukur atas apa yang udah Allah kasih ke gue selama ini. Gue sekarang ngerjain Afrakids, gue nggak berharap afrakids jadi besar atau apa. Tapi yang gue minta adalah, ‘Ya Allah jika Afrakids memang baik untuk dunia dan akhiratku dekatkanlah dan berilah keberkahan. Namun jika afrakids tidak baik untuk dunia dan akhiratku maka jauhkanlah dariku, gantinkan dengan kebaikan di mana pun kebaikan itu berada.'”

Aku lupa percakapannya gimana, yang kutahu bang maula lagi bicara tentang adab ketika berdialog sama Allah. Coba bayangkan jika ada orang yang sangat dermawan membantu kita, hobynya bantu kita terus. Dan kita keenakan terus-terusan minta dan lupa ngucapin terimakasih. Itu gimana tampaknya? Enak nggak?

Jadi, Mentang-mentang Allah Maha baik, ketika dialog sama Allah kita hanya ingat sama urusan yang ingin kita raih saja dan lupa mensyukuri apa yang sudah kita dapat dan miliki saat ini. Tidakkah kita malu?

Jika kita pandai bersyukur, kita akan merasa cukup dengan urusan dunia kita. Bahkan rasa syukur itu merupakan sesuatu yang patut juga kita syukuri, sebab dengan bersyukur kita akan merasa tenang dan bahagia pada kondisi apapun.

Kesimpulan dari renungannya:

> Jika kita tahu tujuan kita apa, maka tidak perlu ada kegalauan akan urusan poin by poin yang ada di dunia ini.

> Sebab tujuan kita adalah berjumpa dengan Allah di syurga, maka yang kita minta adalah itu.

> Sebab Allah adalah dekat. Allah mengabulkan permohonan orang yang berdoa apabila ia memohon kepada-Nya, maka hendaklah mereka itu memenuhi (segala perintah-Nya) dan hendaklah mereka beriman kepada-Nya, agar mereka selalu berada dalam kebenaran. (Al-Baqrah: 186)

> Jika kita bisa memastikan semua itu kita lakukan dengan baik, kita yakini dalam hati, kita berkhusnudzon sama Allah. Hidup di dunia ini akan baik-baik saja. Di Akhiratpun Insyaa Allah kita khusnul khotimah sepanjang kita ikuti aturan mainnya, kita ketahui selalu ada syarat dan ketentuan berlaku.

> Sepanjang kita meminta kepada Allah untuk dapat bertemu dengan-Nya di surga dan meminta dikuatkan pundak kita menjalani ujian di dunia, kita akan baik-baik saja.

> Kita pasti akan merasa LELAH, tapi memang begitulah prosesnya.

> Tulisan ini bicara tentang syukur: Ketika kita bersykur atas apa yang udah Allah kasih ke kita selama ini, kita nggak akan lagi merasa kurang, nggak akan lagi sedih karena merasa nggak punya apa-apa. Kecuali tangis karena menyesal selama ini kemana aja pikirannya? Selama ini kemana aja rasa syukurnya? Yang dilaukan hanya keluh, keluh, dan keluh.

> Tulisan ini pun bicara tentang sebuah tujuan hidup, bahwa ketika tahu tujuan hidup kita adalah bertemu dengan Allah di surga, maka tak banyak urusan dunia yang kita pinta. Pun kita ingin kaya, kita tahu kekayaan itu akan kita gunakan untuk apa. Untuk dinikmati sendiri kah? Atau kita gunakan untuk membantu sesama yang ketika Allah lihat itu, Allah senang melihat kita.

Diskusi bareng mas Hisyam siang itu. Ditutup dengan sebuah tugas. “Coba sekarang lo bikin tulisan tentang Apa Itu Islam?”

“Apa Itu Islam?”

#CareAndShare #GrowupTogether #SetiapDetikHarusBernilai

Leave a Reply