“Sekedarnya”

Dalam hidup ini ada saja yang melakukan sesuatu, menyukai sesuatu, membenci sesuatu dengan kadar yang kelewatan. Kemudian tidak sedikit juga yang dibalikan hatinya karena terlalu berlebihan membenci dan mencintai sesuatu. Yang mencintai bisa jadi membenci, yang membenci akhirnya justru mencintai, dan yang berlebihan memakan sesuatu akhirnya kembung kekenyangan dan muntah karena terlalu serakah.

Apakah ketika aku berbicara seperti itu karena aku hanya memperhatikan orang disekitarku kemudian aku tidak pernah melakukannya?  Justru sebenarnya aku bukanlah seorang yang pandai mengamati dunia sekitar, aku mengatakan begitu karena aku pernah mengalaminya. Makanya aku berani menuliskan ini.

Ya, aku pun pernah menjadi seseorang yang begitu mencintai sesuatu, membenci sesuat, dan membela sesuatu dalam waktu bersamaan dengan kadar yang kelewatan. Mata hatiku tertutup tak bisa membedakan mana yang tulus dan mana yang pura-pura. Sialnya aku mencintai kelembutan yang ternyata hanya pura-pura dan membenci ketulusan yang terlihat kasar dimataku.

Namun, sebesar apapun aku membela kepura-puraan. Kebenaran tetaplah benar, keburukan tetaplah buruk. Dan ada saatnya kedua hal itu akan jelas terlihat oleh mata dalam waktu yang cukup lama atau sebentar saja. Kamu pasti tahulah bagaimana rasa kecewa ketika kita tahu bahwa ternyata selama ini kita salah membela, terlebih kita membela dengan kadar yang kelewatan. Mencintai sesuatu yang ternyata memiliki niat mencelakakan kita dengan kedok lemah lembutnya. Membenci sesuatu yang terlihat kasar namun ternyata itu adalah ketegasan yang datang dari hati yang tulus mencintai kita.

Karena terlalu kecewa, sekarang aku sangat membenci yang dulu begitu aku cintai. Aku menjauh sejauh-jauhnya. Dia pun pergi dan semoga tidak pernah kembali lagi dalam hidupku. Yang dulu kubenci, kini menjadi satu-satunya alasan aku tetap tinggal di tempat ini. Dia yang dulu kubenci kini menjadi sisi yang begitu sensitif setiap kali dibicarakan. Ketika membicarakannya, dia yang membuat tetes air mata mengalir deras sebelum ceritanya selesai dan aku tak sanggup lagi menceritakannya karena air mata jatuh semakin deras.

Begitulah pada akhirnya aku mengerti arti kata “sekedarnya” dan bisa juga diartikan dengan kata secukupnya, Bukan soal jumlah yang banyak atau sedikit, tapi soal kecukupan. Jika sedikit namun sudah cukup, maka terpenuhilah sudah kebutuhannya. Jika sudah banyak namun belum cukup maka aku akan terus menambahnya hingga penuh. Semua kutempatkan sesuai porsinya, sehingga tidak ada yang kekurangan dan tidak ada yang berlebihan.

Karena aku ingin antara kita tetap baik-baik saja. Maka kepadamu, aku ingin sekedarnya saja. Mengagumimu sekedarnya, mencintaimu sekedarnya saja, agar aku tak harus membencimu ketika ekspektasiku terhadapmu tidak sesuai dengan kenyataan yang ada. Kamu tetap baik meski tak sempurna. Karena aku menerima bukan hanya lebihmu saja, tapi kuterima semua paket yang kamu miliki, yaitu kurang dan lebihmu. Ketika mencintai sekedarnya, aku akan cukup didampingi olehmu saja.

Leave a Reply