Space

Suatu hari terjadi diskusi di grup unbow tentang adanya spasi dalam hidup. Bayangkan jika setiap manusia adalah cerminan titik yang membentuk huruf ba, ta, tsa, jim dan lainnya. Setiap huruf membutuhkan huruf lainnya agar membentuk kata, setiap kata butuh kata lainnya untuk mengadakan kalimat, setiap kata tersebut butuh spasi agar mudah dibaca, dimakna, dan berelasi. Setelah itu terwujudlah entitas-entitas kegiatan berkehidupan dalam bentuknya masing-masing.

Peng gun aanspa siyang sa lahak an mem buya rkanma kna

Hiduptanpaspasiakanlelahsekalimatamembacanya

Lihat orang-orang yang ada di sekitar kita sebagai huruf, tersambung dengan kita dan dapat dimaknai karena adanya spasi yang tepat.

Antara aku dan kamu ada ruang kosong untuk memberikan jeda dari individu satu dan individu lainnya. Antara aku dan kamu akan Allah berikan jeda agar tak selalu berjumpa. Ada kata lain yang harus kita temui untuk mengajarkan kita makna lain. Tapi, karena hidup akan selalu berubah, pada saatnya aku dan kamu akan bertemu lagi sebagai sebuah kata yang akan terhubung membentuk sebuah makna kehidupan.

img_20160807_012241_hdr

Antara Cupi dan Cuhe tetap ada spasi meski mereka terus bersama. Mereka berdua tersambung untuk menjadi makna, tapi butuh spasi untuk membuat orang tahu bahwa mereka dua bukan satu.

Jangankan kita yang masih hidup sendiri. Orang yang telah berjodoh pun tetap memiliki spasi. Kalau Tulus bilang mereka adalah sepasang sepatu. Mereka sadar ingin bersama tapi tak bisa apa-apa. Meski telah sah bersentuhan, tapi mereka tetap individu berbeda. hanya Allah yang bisa menentukan kapan mereka bisa bertemu, kapan mereka harus berpisah untuk melengkapi makna lain di luar sana. Ibu di rumah menjaga rumah dan membuat cerita bersama anak-anak, Ayah pergi bekerja untuk mencari nafkah membentuk makna bersama orang lain yang dijumpainya di luar rumah untuk berelasi.

Untuk apa ada rindu sedangkan kita tahu bahwa hidup akan terus bergerak. Dalam sebuah kalimat di suatu paragraf, kata “Aku” tidak akan selalu bertemu dengan kata “Kamu”. “Aku” dan “Kamu” bisa jadi harus bertemu dulu dengan “Dia” atau “Mereka”. Namun pada saatnya, dengan kehendak-Nya, “Aku” bisa bertemu lagi dengan “Kamu”. Tapi ingat, “Aku dan “Kamu” tetap butuh spasi agar menjadi makna, jika tidak ada spasi, maka akan menjadi “AkuKamu” yang sulit berpisah untuk berpindah mencari makna lain dari orang lain.

img_20160807_173101_hdr

Cuhe dan Cupi pun begitu, ada saatnya Cuhe ingin foto sendiri. Ada saatnya pula mereka ingin foto bersama. Coba perhatikan foto mereka, tetap ada ruang kosong bukan?

Selamat berhari Kamis.

2 Comments

  1. Miftah Yahya January 4, 2017
  2. Wini January 4, 2017

Leave a Reply