Tidak Diam

Air akan terus mengalir, kita akan berjumpa dengan air yang baru meski menatap sungai yang sama. Angin pun selalu berhembus, setiap harinya kita akan menghirup wangi angin yang selalu baru meski kita berdiri di jendela yang sama.

Malam tak pernah tinggal diam, dia tidak setia menemaniku bersama gelapnya. Siang pun sama, dia tak menerangiku selalu. Mereka berdua selalu bergantian untuk menemaniku.

Meski begitu, aku tidak pernah menyesali perginya air yang sempat kusentuh di sungai itu. Aku pun tidak menangisi perginya angin yang pernah kuhirup. Malam berganti siang, siang berganti malam lagi. Aku tak mencegah salah satunya meninggalkanku karena terlalu mencintai salah satu di antara mereka. Sebab aku menyayanginya sebagai teman saja, teman yang akan mewarnai hidupku kemudian pergi untuk menemani hidup temannya yang lain. Dia tidak bisa selalu bersamaku, sebab dia memiliki kehidupan di tempat lain. Dia tidak bisa tinggal diam bersamaku saja, ada orang lain yang juga butuh kehadirannya.

Jika kamu pergi hari ini, aku tak akan menangis. Sebab saat ini aku menempatkanmu sebagai teman sebagaimana angin yang berhembus atau air yang mengalir. Aku menyayangimu sebagai seseorang yang pernah mewarnai hariku. Sebagai seseorang yang pernah memberi pelajaran tentang hidup. Begitulah, aku tidak dapat mencegahmu pergi dari sisiku. Maski aku ingin kau tetap bersamaku saja di sini, tersenyum dan mensyukuri hidup bersama.

Namun tak bisa aku memaksamu untuk tetap bersamaku, kamu memiliki kehidupan lain yang akan kamu perjuangkan. Kamu akan seperti air yang pergi meninggalkanku. Pergi untuk mengisi tempat-tempat lain yang juga membutuhkan kehadiranmu.

Namun sejatinya air, ia tak benar-benar pergi untuk selama-lamanya. Tapi ia terus berputar untuk kembali lagi mengisi sungai yang pernah ia lewati, berjumpa lagi dengan tanah yang sempat ia singgahi. Bertemu lagi denganku yang dulu sempat menyentuhnya, menyegarkanku lagi pada waktunya. Kamu akan kembali, untuk kemudian pergi lagi. Jika aku menangisimu hari ini, akan seberapa sering aku menangisi kepergianmu yang kemudian akan kembali dan selalu pergi lagi. Yang bisa kulakukan hanya menirma bukan? Menerima bahwa dalan hidup selalu ada datang dan ada pergi.

Leave a Reply