Untuk Apa?

Ketika kesedihan menghampiri, kita terkadang selalu bertanya. “Kenapa ini harus terjadi kepadaku?” namun beberapa bulan ini aku lebih senang bertanya dengan pertanyaan. “Untuk apa hal ini terjadi kepadaku?” Kemudian aku flash back, dan bertanya ulang. “Untuk apa dulu kita dipertemukan?” Lalu kujawab sendiri. “Untuk hari ini.”

Dulu kami tidak saling kenal, namun takdir mempertemukanku kami. Dengan berbekal sebuah nomor handphone yang kudapat dari status facebook temanku. Aku menghubunginya.

“Assalamualaikum. Bu, golongan darah saya B. Masihkah butuh?”

“Waalaikumsallam. Alhamdulillah, masih kurang 4 orang lagi mba. Mba bisa ke RSPP hari ini?”

“Bisa. Pagi ini saya ke sana.”

Ibu dari seorang anak yang begitu kuat, yang dulu kupanggil ibu, kini kupanggil tante. Sudah berlalu hampir 3 tahun kami berteman, dan banyak hal yang selalu ia bagikan. Pelajaran, kenyamanan, ketenangan, dan kasih sayang seorang teman.

Untuk apa hari itu aku bolos kerja? jawabannya adalah untuk hari ini.

Sebuah tindakan kecil, yang Allah balas dengan banyak sekali pelajaran berharga dalam hidup. Bertemu dengan mereka, seperti mendapatakan tambang emas kehidupan yang mengajarkanku tentang kedewasaan, kesabaran, dan kebijaksanaan dalam menjalankan kehidupan.

Setiap orang akan dihadapkan pada kesedihan, kekecewan, dan rasa sakit. Namun, dengan cara apa orang itu menyikapinya? Butuh usaha kuat untuk menjadi bijaksana. Butuh mental sekeras baja untuk tidak kalah. Butuh hati yang tegar untuk membuat semua menjadi positif.

Jujur aku sedang merasa kecewa saat ini. Tapi, tepat di saat kekecewaan itu datang. Aku sedang bersama tante yang selalu menginspirasiku. Padahal selama ini selalu sulit untuk meluangkan waktu bertemu dengannya. Tapi hari itu begitu mudahnya kami bertemu. Kami bercerita dan masak-masak bersama di rumahnya. Aku bercerita dan menangis di hadapannya.

Jiwanya sudah lebih dulu kuat. Karena tempaan hidupnya beberapa tahun lalu, membentuknya menjadi orang yang kuat. Dan energi positif itu ia tularkan padaku. Pun dengan anaknya yang sudah melewati ujian berat dan melalui ujian kesabaran melawan sakitnya, hal ini mendewasakannya dan membuatnya lebih bijaksana dari pada aku yang seharusnya menjadi kakaknya.

Hari itu mereka mengajarkanku tentang ikhlas dan menerima, sesakit apapun itu. Tentang memaafkan diri sendiri dan orang lain tanpa kata tapi. Sebab maaf seharusnya tanpa syarat. Dia juga mengajarkanku tentang keseimbangan antara thinking dan feeling. Menyelesaikan masalah dengan menyeimbangkan pikiran dan hati kita. Begitulah pada akhirnya saat kita meresa kecewa, senyum itu tetap ada.

Ternyata benar bahwa setiap kejadian dalam hidup kita akan terhubung satu sama lain, kejadian beberapa tahun silam kini hadir menjadi penenang. Terjawab sudah pertanyaan tentang, “untuk apa aku dulu dipertemukan?” jawabannya adalah. “Untuk hari ini.”

Wallahualam, semoga setiap kejadian yang datang pada kita, selalu mampu mendewasakan.

27 – September – 2016

Leave a Reply