Untuk Matahari

Aku bekerja part time di sebuah café. Café kecil ini berdiri tak jauh dari sekolah yang bernama Bima Sakti. Uniknya, ada tiga siswa yang akhir-akhir ini tak pernah luput dari perhatianku. Dua perempuan dan satu laki-laki. Dua perempuan ini bernama Matahari dan Bulan. Satu laki-lakinya kau tahu bernama siapa? Ya, siapa lagi kalau bukan Bumi. Bumi yang tak pernah jauh dari Bulan, tapi juga membutuhkan Matahari. Mereka seperti benda langit sungguhan, ya?

Dari balik meja kasirku, aku menikmati sinar matahari pagi dan juga pesona seorang siswi bernama Matahari. Dengan senyum bak sinar matahari pagi yang menghangatkan, dia berjalan menebar keramahan pada setiap orang yang dijumpainya. Kepada satpam, tukang kebun sekolah, kepada penjaga sekolah, ibu kantin . . .

“Bang Asa, kayak biasa, ya!”

Hot chocolate?”

“Iya, dong.”

Pun pada seorang kasir part time sepertiku.

Sayang, kehangatan Matahari hanya ditunggu oleh sebagian orang saja. Tak banyak yang peduli pada pesona Matahari. Orang-orang ini tak pernah mau beramah-ramah pada Matahari seperti mereka beramah-ramah kepada Bulan.

Saat hari mulai terasa terik, seluruh siswa mulai merindukan Bulan di malam hari. Mau bulan yang menggantung di angkasa atau Bulan yang berwujud manusia. Kali ini tentang Bulan yang belakangan ini santer terdengar telah menjadi saudara Matahari.

Seperti namanya, Bulan selalu menjadi dambaan semua orang. Apalagi saat ia sedang ”purnama”. Hanya dengan menatapnya, semua orang merasa bahagia dan tersenyum ke arahnya. Semua orang yang tersenyum padanya selalu berharap bulan membalas dengan senyum yang sangat indah. Namun, dia terlalu sibuk berputar-putar di sekitar Bumi sambil mempercantik diri agar Bumi tertarik padanya. Dengan kecantikan wajah dan suara merdunya, Bulan selalu menjadi dambaan semua siswa. Sepertinya semakin hari, Bulan semakin mampu mencuri perhatian sang Bumi.

Lain dengan Matahari, kehadirannya selalu membuat orang lain menjauh. Merasa silau berada di dekatnya. Penampilan sederhananya tak terlalu membuat orang senang, bahkan ada saja yang iseng membandingkan Matahari dengan Bulan. Matahari terlalu sibuk mengurusi banyak orang, sehingga dia tak ada waktu untuk mempercantik diri seperti Bulan. Padahal menurutku Matahari tak kalah manis jika dibandingkan dengan Bulan. Apa pula aku ini? Siapa juga yang peduli pada pendapatku tentang kedua gadis cantik itu.

Aku tak mengerti kenapa Bumi lebih memilih Bulan, padahal Matahari tak pernah berhenti ”menyinari” dirinya. Bahkan saat malam tiba pun, Matahari tetap menyinari Bumi, meski ”cahayanya” ia titipkan pada Bulan.

Ah, kita lupakan saja soal si Bumi. Kita bicara soal orang-orang yang memusuhi Matahari. Orang-orang yang lebih memilih untuk mengantri agar dapat menyaksikan Bulan perform di café kecilku setiap malam ke-15 atau beberapa orang yang kerap kali tak punya hati berkata begini kepada Matahari, “Matahari, awas dong. Gue mau liat Bulan.”

Orang-orang ini terlalu senang membandingkan Bulan dan Matahari. Awalnya, Matahari tak terlalu peduli dengan popularitas Bulan. Dia tak iri sedikitpun pada apa yang Bulan miliki selama ini. Hidup Matahari hanya ia habiskan bersama orang-orang yang membutuhkan uluran tangannya. Anak jalanan yang beberapa tahun belakangan ini menjadi adik asuhnya, juga adik asuhku (aku tersenyum menuliskan ini), serta anak penjaga sekolah yang sering kali memintanya untuk mengajari atau sekadar menemaninya mengerjakan PR sepulang sekolah. Ah, bagi Matahari, menjadi bermanfaat bagi orang lain sudahlah cukup baginya, tanpa harus orang lain mengelu-elukan kebaikannya. Namun sayang, terlalu banyak orang yang senang mengurusi kehidupan Matahari dan Bulan. Terlebih ketika mereka mendadak menjadi adik-kakak. Padahal kedua saudara tiri ini memiliki hubungan yang baik.

Ketika Ayah Matahari dan Ibu Bulan menikah, tidak ada satu pun dari mereka yang protes. Karena mereka sama-sama tahu bahwa keduanya tak pernah ada masalah sebelumnya. Kedua orang ini memiliki perangai yang sama-sama baik. Hanya terkadang ada saja suara-suara sumbang di luar yang memperkeruh suasana hati Matahari setiap siang di sekolah. Terkadang saja, sih.

“Kok, Bulan mau, ya, saudaraan sama Matahari?”

“Coba lihat si Bulan, sudah cantik, suaranya merdu, dekatnya sama Bumi lagi. Tidak heran Bumi lebih senang berteman dengan Bulan dibandingkan Matahari.”

Tapi bukan Matahari namanya jika suara sumbang itu tidak dia masukan ke kuping kanan, lalu dia hempaskan kemudian dari kuping kiri. Dia tetap berjalan melewati kerumunan suara-suara sumbang itu. Dia terus menebar kebaikan dengan caranya dengan tanpa peduli seberapa benci orang-orang itu kepadanya.

Duh . . . Kenapa aku menceritakan Matahari lagi? Aku kan sedang bercerita tentang Bulan. Ah, sudahlah lupakan, kali ini tentang si Bumi.

Si Bumi adalah siswa paling keren di sekolah Bima Sakti, selain parasnya yang tampan, dia juga termasuk siswa berprestasi di sekolah Bima Sakti. Dengar-dengar, dulu–sebelum mengenal Bulan—Bumi dan Matahari bersahabat dekat. Mereka selalu bersaing dalam hal nilai dan selalu kompak untuk urusan hobi, yaitu menggambar. Kedekatan mereka tak diragukan lagi, mereka seperti saudara karena sudah bersama sejak mereka masih TK. Begitu saja yang kutahu mengenai, euu . . .  Siapa tadi? Ya, si Bumi. (Malasnya menyebutkan nama itu). Ah, satu lagi . . . Sejak Bulan menjadi saudara Matahari, Bulan jadi semakin memiliki celah untuk mendekati Bumi. Bumi mulai tertarik pada pesona Bulan, sedangkan Matahari  jadi lebih senang menyendiri, memilih kursi sudut kanan dekat kaca di café tempatku bekerja.

Ah, lagi-lagi Matahari yang ada di pikiranku.

Malam ini, entah kenapa aku malas sekali meninggalkan café, padahal shift kerjaku sudah selesai. Aku ingin melihat Matahari. Karena setiap hari di tanggal ke-15 ini tepat pukul 19.30, Matahari selalu datang ke caféku untuk mengantar Bulan bernyanyi. Ayah dan Ibu mereka tak akan mengizinkan Bulan bernyanyi tanpa ditemani Matahari. Dan si Bumi juga datang . . . Pasti untuk Bulan, kutahu. Kasihan Matahari, lagi-lagi dia memilih kursi sudut kanan di dekat kaca.

Malam ini blus dan rok berwarna pastel membuatnya tampak sederhana, namun anggun. Setelah meletakan semua perangkat “perang”-nya di sudut kanan dekat kaca, dia berjalan ke arahku.

“Mau hot chocolate lagi satu.”

“Itu terus, nggak bosen? Mau coba milk shake, nggak? Variasi rasanya ditambah, nih.”

“Boleh, deh, milk shake.”

“Mau rasa apa? Ada stroberi, blueberry, pisang, melon, mangga, green tea.”

“Cokelat.”

“Yah, Cokelat lagi?”

“Abis, Matahari sukanya cokelat.”

“Baiklaaah . . . Milk shake cokelat, ya.”

“Bang Asa, kenapa masih di sini? Gak kuliah?”

“Lagi males. Dosennya gak seru.”

“Idiiiih . . .  Pemalas.”

Sambil menunggu pesanannya, Matahari memunggungiku. Dia mencuri pandang ke arah Bulan yang sedang tampil di atas panggung. Sesekali dia memainkan ujung bajunya. Terlihat raut kagum di matanya melihat pesona adiknya malam ini. Yah, entah kagum atau sedih hati karena ia ingin seperti Bulan. Wajahnya tak tampak seceria biasanya.

“Nih, Matahari . . . Milk Shake cokelat plus bonus burger untuk siswi paling ramah di sekolah,” aku berusaha membangkitkan percaya dirinya.

“Yeeeaaay, gratiiis.”

Meski terlihat dipaksakan, aku senang melihat tawanya malam ini.

Aku menatap punggungnya yang berlalu meninggalkan meja kasirku. Anak ini lucu sekali, tapi sayang tak banyak orang yang menyadari pesona kecantikannya. Iya, kecantikan yang ia miliki di dasar hati. Manusia-manusia ini terlalu sibuk mendambakan keindahan fisik Bumi dan Bulan. Kedekatan Bumi dan Bulan kerap menjadi perbincangan. Kerap menjadi tolak ukur sebuah keserasian dalam berpasangan. Bagi mereka, serasi adalah ketika kedua pasangan itu memiliki fisik yang cantik dan tampan. Mereka melupakan kecantikan hati. Bukan Bulan tak baik hatinya. Tapi kulihat, dibandingkan melihat kecantikan hati Bulan, orang-orang ini lebih mengagumi kecantikan fisik Bulan. Dibandingkan membicarakan kualitas vokal Bulan, para wanita di café ini lebih sibuk membicarakan pakaian bermerk yang Bulan kenakan.

Aku tersadar dari lamunanku ketika suara nampan yang Matahari pegang jatuh berserakan. Terdengar sayup di telingaku suara seorang perempuan berkata sinis pada Matahari, “Makanya, jangan ngalangin. Gue mau liat Bulan.” Matahari berjongkok dan merapikan nampan yang berserakan. Membawa serta cangkir Milk shake dan burger-nya ke meja kosong dengan gontai. Matahari kembali duduk si kursi sudut kanan dekat kaca. Melamun, tapi tak meneteskan air mata.

Karena shift-ku telah usai, aku menghampiri Matahari. Dengan membawa hot chocolate dan burger yang baru.

“Kayanya kamu emang ga bisa dipisahkan dari hot chocolate. Milk shake cokelat bukan rezekimu.”

Dia tersenyum. “Eh, bang Angka.”

“Nih, gratis.”

“Gak apa-apa? Nanti abang gajinya dipotong lagi.”

“Nggak, lah . . . Ini makanan dan minuman sisa, jadi nggak apa-apa dikasih ke siswa Bima Sakti yang lagi cemberut di depan kaca. Tunggu, kenapa panggil Angka lagi? Kan aku bilang panggilnya Bang Asa aja.”

Mood-ku lagi ga bagus ni, jadi pengennya panggil Angka.”

“Alasan yang aneh.”

“Lagi kenapa sih namamu Angkasa, Bang?”

“Karena Ibu mau, aku bisa mengangkasakan mimpi-mimpiku. Begitu mungkin.”

“Terus kenapa lebih senang dipanggil Asa?”

“Karena Asa itu artinya harapan. Dan lebih enak didengar aja dibandingkan dipanggil Angka.”

Dia tersenyum. “Susah tau nyebutnya.”

“Lalu apa bedanya sama Matahari. Gak bisa di pisah-pisah manggilnya. Kalo dipanggil Mata jelek, dipanggil Hari jadi kaya nama cowok.”

Dia tertawa sambil mencibir. Kemudian, menatap lagi ke luar dari balik kaca. Aku menatap Matahari yang sedang menikmati hot chocolate buatanku, kuharap hangatnya bisa meredakan lukanya pada beberapa menit yang lalu.

“Matahari.”

“Ya?” Matanya tetap menatap ke luar. Dia asik memandang cahaya Bulan purnama malam ini.

“Bulannya indah, ya?”

“Iya, indah. Indah banget.”

“Seperti Bulan yang sekarang lagi tampil di panggung?”

“Begitulah.”

“Kenapa setiap kali ke sini kamu nggak penah duduk bareng sama Bumi dan Bulan? Mereka nggak ngajak kamu, ya?”

“Aku lebih senang di sini, sendiri. Menyaksikan mereka dan orang lain yang tak kukenal berlalu-lalang di sekitarku. Aku tak mau ikut terlibat dalam perbincangan mereka.”

“Kenapa?”

Dia berpaling dari purnama di luar kaca. “Emmmm . . . Karena jika bersama mereka aku tak akan punya waktu untuk memerhatikan orang lain di sekitarku sebab terlalu asik dengan dunia kami bertiga.”

“Kau tahu Matahari? Mereka berdua.” Menunjuk pada Bumi dan Bulan.

“Siapa? Bulan dan Bumi?” Matahari mengikuti ke mana jariku menunjuk.

“Iya, kedua pasangan itu. Mereka terlihat indah dari kejauhan. Dua sejoli yang tak terpisahkan. Seperti Bumi dengan kehidupan yang indah dibandingkan dengan planet lain. Dan bulan yang selalu setia padanya sebagai satelit bumi. Semua penduduk bumi sering merindukan bulan, mereka selalu menunggu kedatangan bulan saat ia sedang purnama. Teman-temanmu sering menghindarimu, kan, Matahari? Mereka lebih memilih berteman bersama Bulan.”

“Bagaimana kamu tahu?”

Aku tak menjawab pertanyaannya. Aku meneruskan ceritaku. “Sama halnya seperti Matahari dalam tata surya. Saat matahari menunjukan teriknya, ada sekelompok manusia yang menghindari cahaya matahari karena takut hitam. Meski tidak semua . . . Ada saja orang yang tak suka dengan terik matahari. Mereka lebih memilih pergi mencari pepohonan, atau mengunci pintu rumah mereka rapat-rapat. Mereka mengeluh sejadi-jadinya, ‘Hari ini kok panas banget ya? Gerah, rasanya enak kalo malam sudah tiba. Kita bisa lihat indahnya langit bertabur bintang dan bulan purnama.’ Keluh kesah mereka yang menjadikannya salah. Mereka lupa, tanpa Matahari, Bumi dan bulan tak akan benar-benar bisa hidup.”

Matahari masih saja terdiam.

“Beberapa hari ini, dari sana (menunjuk ke meja kasir) aku sering memerhatikanmu. Kamu selalu ada bersama mereka berdua, tapi tak pernah benar-benar diajak masuk ke dalam dunia mereka. Kamu menunggu Bulan, tapi tak benar-benar masuk dalam kehidupan Bulan. Kudengar, kau mendonorkan satu ginjalmu untuk Bumi. Benarkah?”

“Sttttt, jangan katakan itu lagi!”

“Baiklah . . . Matahari, lupakan tentang orang yang kerap membandingkanmu dengan pesona Bulan. Kamu harus tahu bahwa kamu tidak lebih buruk dari Bulan. Kamu istimewa lebih dari yang kamu kira. Tanpa cahaya Matahari, Bulan tidak akan pernah bisa menjadi purnama.”

Matahari tersenyum misterius.

“Kenapa tersenyum begitu?”

Aku penasaran dengan yang ia pikirkan.

“Iya, sama halnya seperti Matahari yang akan kehilangan tempat jika tak ada Angkasa.”

Dia merapikan buku dan pensil gambarnya, seraya berlari menghampiri Bumi dan Bulan untuk pamit masuk ke mobilnya duluan.  Aku masih tak mengerti apa yang sedang terjadi. Sampai sesaat Bumi datang menghampiriku mebawa selembar kertas dengan sebuah gambar.

“Bukan kami tak mengajak Matahari masuk ke dunia kami. Tapi, dibandingkan bersama kami, dia lebih senang memandang Angkasa dari suduk kanan di dekat kaca.”

Ternyata, aku adalah bagian dari ceritaku sendiri. Aku sungguh penutur cerita yang tak tahu apa-apa.

Based on: Lagu untuk matahari ~ tulus

Leave a Reply